Tentang Menjadi Manusia dan Semua Hal yang Tidak Kita Mengerti

Mahasiswa S1 Sistem Informasi, Universitas Pamulang. Aktif mengikuti perkembangan dan isu-isu terkini yang terjadi di tingkat nasional maupun global.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Saut Josua Romartua tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada satu hal yang baru kusadari setelah sekian lama hidup:bahwa menjadi manusia bukan sekadar berjalan maju, tapi memikul sesuatu yang bahkan tidak kita pahami seluruhnya.
Aku sering bertanya kepada diriku sendiri, kenapa kita lahir tanpa pilihan, tumbuh dengan banyak harapan, dan akhirnya dihantam kenyataan yang tidak pernah kita minta? Tetapi mungkin, memang begitulah hidup bekerja.
Ada hari-hari ketika aku merasa kuat, seolah seluruh dunia ada dalam genggaman. Namun ada pula hari-hari ketika aku merasa kosong, bahkan napas pun terasa berat. Itu membuatku mengerti bahwa manusia bukan hanya soal keberanian, tapi juga tentang ketakutan yang kita sembunyikan rapat-rapat. Kita bukan hanya tentang harapan yang kita tunjukkan, tapi juga tentang luka yang tidak pernah kita ceritakan.
Aku pernah jatuh berkali-kali. Kadang karena pilihan buruk, kadang karena keadaan, kadang karena diriku sendiri. Dan setiap kali aku bangkit, aku sadar bahwa kebangkitan itu bukan kemenangan, melainkan proses memahami betapa rapuhnya aku. Bahwa kekuatan bukan tentang tidak pernah runtuh, melainkan tentang menerima kenyataan bahwa aku tidak sekuat itu.
Ada bagian dari manusia yang selalu gelap. Tempat di mana kita menyimpan:
trauma yang tidak selesai
kata-kata yang ingin kita ucapkan tapi tak pernah keluar
kesalahan yang belum kita maafkan
penyesalan yang kita temani diam-diam
Bagian itu sunyi, tapi hidup di dalam dada setiap hari. Dan di sana, kita belajar bahwa tidak semua luka harus ditunjukkan. Beberapa hanya perlu diterima. Kadang aku iri melihat orang lain tertawa lepas seakan hidup ini sederhana.
Tapi aku lupa…
setiap manusia menyembunyikan sesuatu. Tidak ada yang benar-benar baik-baik saja. Tidak ada yang hidup tanpa gelombang. Tidak ada yang bebas dari pergumulan. Kita semua sedang memerangi sesuatu — hanya saja tidak pada medan yang sama. Dan mungkin, tujuan hidup bukanlah menemukan jawaban, tapi belajar berdamai dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah terjawab.
Seperti:
“Kenapa aku?”
“Kenapa harus terjadi?”
“Kenapa sekarang?”
Semakin aku mencari, semakin aku sadar, hidup tidak selalu memberikan alasan. Kadang kita hanya diberi peristiwa, dan waktu akan mengajarkan maknanya. Perlahan. Satu per satu.
Sekarang aku mulai mengerti…
Bahwa manusia bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang menerima kekurangan tanpa berhenti melangkah. Bahwa masa lalu bukan sesuatu untuk dihapus, tapi sesuatu untuk dipelajari. Bahwa rasa sakit bukan musuh, tapi guru yang keras kepala. Bahwa hidup bukan tentang tiba, tapi tentang pulang perlahan — kepada diri sendiri, yang selama ini hilang. Jika suatu hari aku berhasil memahami semuanya, mungkin saat itu aku sudah tidak menjadi manusia lagi. Sebab manusia hanyalah makhluk yang terus mencari, meski tahu tidak akan pernah selesai. Dan mungkin, justru di situ letak keindahannya.
