Konten dari Pengguna

Melepaskan Tanpa Membenci: Stoikisme dalam Relasi Sosial

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Qurota Ayunin Fauziah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kutipan Marcus Aurelius di bukunya berjudul Meditations (Sumber Pribadi Author)
zoom-in-whitePerbesar
Kutipan Marcus Aurelius di bukunya berjudul Meditations (Sumber Pribadi Author)

Pernahkah ada seseorang yang dulunya sangat dekat, yang tahu hampir segalanya, yang kehadirannya terasa seperti rumah, tapi kemudian sikapnya berubah tanpa alasan yang jelas? Ketika percakapan jujur dicoba, yang muncul justru respons defensif, penyangkalan, atau serangan balik. Tiba-tiba pihak yang mencoba bicara baik-baik itulah yang terasa seperti masalahnya, yang overthinking, yang terlalu sensitif, yang menyalahkan dirinya sendiri, yang tidak bisa move on, dan di saat yang sama pikiran tidak bisa berhenti berputar, tidak bisa berhenti bertanya apa yang salah, tidak bisa berhenti berharap semuanya kembali seperti dulu.

Kalau kamu pernah ada di posisi itu, itu bukan tanda kelemahan. Dan perasaan itu juga bukan sesuatu yang berlebihan.

Ego, Keterikatan, dan Ketulusan yang Sering Tertukar

Dalam relasi sosial, ego sering dipahami secara sempit sebagai kesombongan atau keangkuhan. Padahal dalam konteks psikologi dan filsafat, ego bekerja jauh lebih halus dari itu. Ego adalah cara seseorang mendefinisikan dirinya sendiri, dan sebagian besar dari definisi itu terbentuk melalui hubungan dengan orang lain. Ketika kedekatan dengan seseorang sudah terbangun, otak mulai memasukkan orang itu ke dalam kategori "aman," dan kehilangan kedekatan itu terasa seperti kehilangan sebagian dari diri sendiri, bukan sekadar kehilangan seseorang.

Di sinilah letak kerumitannya. Erich Fromm dalam The Art of Loving (1956) membedakan antara dua jenis keterikatan dalam relasi: yang pertama adalah cinta yang matang, yaitu pilihan aktif untuk hadir bagi orang lain karena memilih itu, bukan karena membutuhkan mereka untuk merasa utuh. Yang kedua adalah keterikatan dependen, yaitu hubungan yang lebih mirip kebutuhan untuk mengisi kekosongan daripada ketulusan yang tumbuh dari kebebasan. Dari luar keduanya sering terlihat sama. Orang yang terikat secara dependen bisa terlihat sangat perhatian, sangat hadir, sangat intens, sampai satu titik di mana kebutuhan itu tidak lagi terpenuhi dan semuanya berubah.

Ketulusan sejati membutuhkan kebebasan, termasuk kebebasan untuk tidak setuju, untuk mengecewakan, dan untuk tetap dipilih meski sudah terlihat tidak sempurna. Ketika ketulusan itu tidak ada, yang tersisa hanyalah keterikatan, dan keterikatan tanpa ketulusan adalah relasi yang tinggal menunggu waktu untuk menyakiti salah satu atau kedua pihaknya.

Kenapa Konfrontasi Sering Berakhir Lebih Buruk

Salah satu hal yang paling melelahkan dari situasi ini adalah ketika keberanian untuk bicara akhirnya muncul, untuk jujur tentang apa yang dirasakan, dan bukannya mendapat respons yang terbuka, yang ada justru dinding pertahanan. Orang yang bermasalah jadi yang paling defensif. Itu bukan kebetulan.

Leon Festinger melalui teori cognitive dissonance (1957) menjelaskan bahwa manusia secara psikologis cenderung menolak informasi yang bertentangan dengan citra diri mereka. Ketika seseorang ditunjukkan bahwa sikapnya menyakiti orang lain, otak mereka tidak otomatis memproses itu sebagai undangan untuk refleksi. Lebih sering, itu diproses sebagai ancaman terhadap identitas mereka, dan ancaman menghasilkan pertahanan, bukan keterbukaan. Agresivitas yang muncul dalam situasi itu bukan tanda kekuatan, melainkan tanda bahwa ada sesuatu yang tidak ingin diakui, bahkan kepada diri mereka sendiri.

Memahami mekanisme ini bukan untuk membenarkan perilaku tersebut, tapi untuk berhenti menyalahkan diri sendiri karena merasa gagal berkomunikasi. Tidak ada yang gagal. Hanya saja percakapan itu terjadi dengan seseorang yang belum siap mendengar.

Stoikisme dan Pertanyaan tentang Kendali

Epictetus, filsuf Stoik yang lahir sebagai budak dan menghabiskan hidupnya memikirkan kebebasan sejati, menulis dalam Enchiridion bahwa ada dua kategori hal di dunia ini: yang ada dalam kendali seseorang dan yang tidak. Sikap orang lain, keputusan mereka untuk berubah atau tidak, cara mereka merespons kejujuran, semua itu ada di luar kendali siapa pun. Yang ada dalam kendali adalah bagaimana seseorang merespons situasi itu, batas apa yang ditetapkan untuk diri sendiri, dan relasi mana yang dipilih untuk dipertahankan.

Stoikisme sering disalahpahami sebagai ajaran untuk tidak merasakan apa pun, untuk menjadi dingin dan tidak terpengaruh. Padahal yang diajarkan Epictetus bukan ketidakpedulian, melainkan kejernihan. Kehilangan, kekecewaan, dan kesedihan boleh dirasakan sepenuhnya. Tapi tidak harus dibiarkan menetap lebih lama dari yang diperlukan hanya karena sedang menunggu seseorang yang mungkin tidak akan pernah datang untuk memberikan closure yang dibutuhkan.

Cara Sehat Melepaskan tanpa Membenci

Melepaskan relasi yang menyakitkan tidak harus berlangsung dramatis dan tidak harus tuntas dalam satu momen. Prosesnya lebih sering lambat, bertahap, dan tidak linear.

Langkah pertama adalah memberi jarak, bukan sebagai hukuman tapi sebagai ruang untuk melihat situasi dengan lebih jernih. Ketika terlalu dekat dengan sumber luka, tidak ada perspektif yang cukup untuk menilai apakah relasi itu masih layak dipertahankan atau tidak. Jarak bukan tanda menyerah, tapi memberi kesempatan untuk bernapas dan berpikir dengan kepala yang lebih dingin.

Langkah kedua adalah menetapkan batas dengan tegas dan tanpa permintaan maaf yang berlebihan. Batas bukan tembok untuk menghukum orang lain, melainkan pernyataan tentang apa yang bisa dan tidak bisa diterima. Penelitian dalam psikologi sosial menunjukkan bahwa kemampuan untuk menetapkan batas yang jelas berkorelasi positif dengan kesehatan mental jangka panjang dan kualitas relasi yang lebih baik secara keseluruhan.

Langkah ketiga adalah menutup akses, bukan dengan menghapus eksistensi orang tersebut dari ingatan, tapi dengan berhenti memberi mereka akses pada ruang emosional yang dijaga. Dalam pendekatan berbasis mindfulness, ini disebut detachment, yang berbeda dari mengabaikan. Eksistensi orang itu diakui, tapi kehadirannya tidak lagi dibiarkan menentukan kondisi emosional hari ini.

Dan yang terakhir, dan mungkin yang paling sulit, adalah menerima bahwa orang itu ada, pernah berarti, dan mungkin tidak akan pernah benar-benar mengerti kenapa jarak itu akhirnya diambil. Resolusi yang rapi tidak selalu tersedia. Tapi menunggu resolusi itu bukan syarat untuk bisa melanjutkan hidup.

Menjaga Diri tanpa Menutup Diri

Marcus Aurelius menulis dalam Meditations (1811) bahwa manusia terlahir untuk saling membantu, dan bahwa melukai orang lain berarti melukai diri sendiri. Tapi menjaga diri sendiri bukan pengkhianatan terhadap prinsip itu. Tidak mungkin hadir dengan tulus untuk orang lain kalau diri sendiri terus terkuras dalam relasi yang tidak memberi ruang untuk tumbuh.

Melepaskan relasi yang menyakitkan bukan tanda ketidakmampuan berteman atau kegagalan mempertahankan kedekatan. Justru sebaliknya, kemampuan untuk mengenali kapan sebuah relasi sudah tidak sehat dan melepaskannya dengan cara yang tidak merusak siapa pun adalah salah satu bentuk kedewasaan emosional yang paling sulit dicapai dan paling jarang dibicarakan. Teman memang punya banyak wajah. Dan salah satu hal terpenting yang bisa dipelajari dari itu adalah bagaimana mengenali wajah mana yang layak untuk terus dilihat.