Sekali Lihat Langsung Menghakimi: Mengapa Kita Sulit Lepas dari Bias Gender?
Tulisan dari Qurota Ayunin Fauziah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu bertemu seseorang dan dalam hitungan detik sudah memutuskan siapa mereka, jauh sebelum mereka sempat berkata apa pun? Tindik hitam, rambut cepak dengan poni wavy, kemeja navy digulung hingga siku, bahu lebar, dada cenderung rata, gelang tali, celana jeans, sepatu sket, atau sebaliknya, rambut panjang, wajah yang manis, parfum yang wangi, atribut femine dengan rok berumbai. Otak kita membaca semua itu dalam satu tarikan napas dan langsung menjatuhkan kesimpulan: laki-laki, dia perempuan. Tidak ada keraguan, tidak ada jeda berpikir.
Sampai ada satu sinyal yang tidak cocok. Suara yang terlalu ringan, wajah yang terlalu soft, tangan yang terlalu mungil untuk masuk ke dalam kategori yang sudah kita bangun sendiri dalam kepala, suara yang terlalu kasar, tulang yang terlalu terlihat, dan di situlah kita tiba-tiba berhenti, melihat ulang, dan menyadari bahwa seluruh bacaan awal kita keliru. Bukan karena orang itu menyembunyikan sesuatu, tapi karena ekspektasi kita yang tidak terpenuhi.
Yang menarik bukan soal siapa yang benar atau salah dalam situasi itu. Yang menarik adalah betapa cepatnya proses kategorisasi itu berlangsung, dan betapa yakinnya kita sebelum ternyata kita keliru.
Bukan Insting, Tapi Hasil Belajar
Kecenderungan untuk mengklasifikasi secara cepat sebenarnya bukan kelemahan kognitif. Otak manusia memang dirancang untuk mencocokkan pola dan menarik kesimpulan secara efisien karena tidak semua informasi bisa diproses secara sadar dalam waktu bersamaan. Masalahnya bukan pada mekanismenya, tapi pada konten yang mengisinya.
Kita tidak lahir dengan pengetahuan bahwa tindik hitam dan sepatu sket itu maskulin, atau bahwa suara ringan dan wajah soft itu feminin. Semua asosiasi itu dipelajari secara bertahap sejak sangat dini, dari ajaran dan kebiasaan orang tua, dari tontonan, dari lingkungan sosial, dari komentar-komentar kecil yang tampaknya tidak penting tapi terus berulang sampai membentuk sistem referensi yang terasa seperti insting. Judith Butler dalam Gender Trouble (1990) menyebut proses ini sebagai gender performativity, bahwa gender bukan sesuatu yang kita miliki secara inheren melainkan sesuatu yang kita lakukan melalui pengulangan atribut dan gesture yang sudah dikodekan secara sosial. Pengulangan yang berlangsung cukup lama akhirnya membuat konstruksi itu terasa natural, bahkan terasa biologis, padahal yang terjadi adalah sebaliknya.
Kenapa Ketidaksesuaian Terasa Mengganggu
Kalau gender adalah hasil pengulangan, maka ketika pengulangan itu tidak konsisten, sistem kategorisasi kita mengalami gangguan. Ketika seseorang menampilkan atribut maskulin tapi bersuara dan bergerak dengan cara yang kita asosiasikan dengan femininitas, otak kita tidak langsung menerima itu sebagai variasi yang normal. Kita masuk ke mode verifikasi ulang, mencari sinyal mana yang lebih dominan. Reaksi ini bukan pertanda buruk tentang karakter seseorang, tapi pertanda seberapa dalam sistem kategorisasi itu sudah tertanam.
Yang lebih menarik adalah bahwa gangguan itu tidak perlu besar untuk terasa signifikan. Cukup satu detail yang tidak cocok dan seluruh bacaan awal kita tiba-tiba terasa tidak stabil. Ini menunjukkan bahwa sistem kategorisasi gender yang kita jalankan tidak banyak memberi ruang untuk ambiguitas, bahkan ketika ambiguitas itu sama sekali tidak merugikan siapa pun.
Dari Penampilan ke yang Lebih Besar
Ketika kita melihat betapa otomatis dan betapa ketatnya sistem ini bekerja bahkan dalam hal penampilan yang tampaknya sepele, menjadi lebih mudah untuk memahami mengapa konstruksi yang sama juga menopang persoalan yang jauh lebih besar. Pembagian kerja domestik yang tidak merata, kesenjangan upah, dominasi di ruang publik dan politik, semuanya berdiri di atas fondasi yang sama: keyakinan bahwa perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan secara natural menerjemahkan diri menjadi perbedaan peran dan nilai sosial. Padahal seperti yang terjadi dalam hitungan detik saat kita bertemu orang asing tadi, yang bekerja bukan biologi kita, melainkan sistem referensi yang sudah kita pelajari jauh sebelum kita sadar sedang mempelajarinya.
Kesadaran bahwa semua ini adalah konstruksi dan bukan kodrat tentu tidak serta-merta mengubah sistem yang sudah berjalan ratusan tahun. Tapi pertanyaan sederhana seperti mengapa ketidaksesuaian sekecil apa pun dalam penampilan seseorang langsung terasa mengganggu adalah titik awal yang lebih jujur dari yang terlihat.

