Konten dari Pengguna

Takut Public Speaking? Ini Cara Melatih Kepercayaan Diri

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Robby Kurnia Hadiyono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Disusun Oleh: Robby Kurnia Hadiyono

Public speaking atau kemampuan berbicara di depan umum sering kali terasa menakutkan, terutama ketika kita harus berbicara di depan banyak orang. Pernah merasa sudah tahu apa yang ingin disampaikan, tetapi begitu berdiri di depan kelas tiba-tiba semuanya hilang? Tangan mulai dingin, suara berubah, dan kalimat yang sebelumnya sudah disiapkan mendadak sulit keluar.

Kalau pernah mengalaminya, tenang, kita tidak sendirian. Rasa gugup saat berbicara di depan umum merupakan pengalaman yang bisa dihadapi melalui latihan, persiapan, dan pengalaman.

sumber: dokumetasi pkm

Public speaking sering kali terasa menakutkan, terutama ketika kita harus berbicara di depan banyak orang. Pernah merasa sudah tahu apa yang ingin disampaikan, tetapi begitu berdiri di depan kelas tiba-tiba semuanya hilang? Tangan mulai dingin, suara berubah, dan kalimat yang sebelumnya sudah disiapkan mendadak sulit keluar.

Kalau pernah mengalaminya, tenang, kita tidak sendirian.

Bagi sebagian mahasiswa, berbicara di depan banyak orang masih menjadi sesuatu yang menakutkan. Presentasi yang sebenarnya hanya berlangsung beberapa menit bisa terasa seperti ujian besar. Bahkan, ada yang lebih memilih menjadi orang yang bertugas membuat PowerPoint daripada harus maju mempresentasikannya.

Masalahnya, kemampuan berbicara di depan orang lain semakin sulit untuk dihindari. Di kampus kita dituntut untuk melakukan presentasi, berdiskusi, mengikuti organisasi, bahkan menyampaikan pendapat di depan dosen. Ketika memasuki dunia kerja, kemampuan tersebut justru semakin dibutuhkan.

Namun, menurut saya, ada satu kesalahpahaman yang sering terjadi tentang public speaking. Banyak orang menganggap bahwa kemampuan berbicara di depan umum berarti harus pandai berbicara, percaya diri, dan tidak boleh merasa gugup.

Padahal, tidak sesederhana itu.

Public Speaking Bukan Ajang Menjadi Orang Lain

Ketika melihat seseorang yang pandai berbicara, kita sering berpikir bahwa mereka memang memiliki bakat. Mereka terlihat santai, bisa bercanda, mampu menjelaskan sesuatu dengan lancar, dan seolah-olah tidak pernah merasa gugup.

Dari situ muncul anggapan bahwa orang yang pendiam atau mudah gugup tidak akan bisa menjadi pembicara yang baik.

Menurut saya, anggapan tersebut perlu diluruskan.

Public speaking bukan berarti mengubah seseorang menjadi pribadi yang banyak bicara. Orang yang pendiam tetap bisa menjadi pembicara yang baik. Begitu juga orang yang masih sering gugup.

Hal yang paling penting bukan seberapa banyak kita berbicara, tetapi apakah pesan yang kita sampaikan bisa dipahami oleh orang lain.

Seorang pembicara tidak harus menggunakan kata-kata yang rumit. Bahkan, semakin sederhana bahasa yang digunakan, terkadang semakin mudah orang memahami maksudnya. Inilah yang sering dilupakan ketika seseorang terlalu fokus ingin terlihat pintar saat berbicara.

Mengapa Public Speaking Terasa Menakutkan?

Salah satu alasan seseorang takut melakukan public speaking adalah terlalu memikirkan penilaian orang lain.

"Kalau saya salah ngomong bagaimana?"

"Kalau teman-teman menertawakan bagaimana?"

"Kalau tiba-tiba lupa materi bagaimana?"

Pertanyaan seperti itu sebenarnya wajar. Namun, jika terlalu dipikirkan, rasa takut justru menjadi semakin besar.

Kita sering membayangkan kesalahan kecil sebagai sesuatu yang sangat memalukan. Padahal, belum tentu orang lain memperhatikannya sebesar yang kita bayangkan.

Ketika seorang teman melakukan kesalahan saat presentasi, misalnya salah menyebutkan satu kata, apakah kita akan terus mengingatnya sampai berhari-hari? Kemungkinan besar tidak.

Orang lain biasanya lebih sibuk memikirkan dirinya sendiri.

Karena itu, menurut saya, salah satu langkah awal belajar public speaking adalah berhenti menuntut diri sendiri untuk tampil sempurna.

Tidak Ada Percaya Diri Tanpa Latihan

Ada anggapan bahwa kita harus percaya diri terlebih dahulu sebelum berani berbicara di depan umum. Padahal, sering kali justru sebaliknya.

Kita menjadi percaya diri karena sudah mencoba berkali-kali.

Orang yang sekarang terlihat lancar saat presentasi kemungkinan juga pernah mengalami gugup, lupa materi, atau salah berbicara. Perbedaannya adalah mereka terus berlatih sehingga situasi tersebut tidak lagi terasa asing.

Latihan pun tidak harus selalu dilakukan di depan banyak orang. Kita bisa memulainya dari hal sederhana. Misalnya, mencoba menjelaskan sebuah topik dengan suara keras, berbicara di depan cermin, merekam suara sendiri, atau berlatih presentasi bersama teman.

Yang penting adalah membiasakan diri untuk menyusun pikiran dan mengubahnya menjadi kata-kata.

Selain itu, persiapan juga tidak boleh dianggap sepele. Memahami materi jauh lebih penting daripada sekadar menghafal teks. Jika kita hanya menghafal, satu kalimat yang terlupa bisa membuat seluruh pembicaraan berantakan.

Sebaliknya, jika kita benar-benar memahami materi, kita masih bisa menjelaskan kembali menggunakan bahasa sendiri meskipun urutan kalimatnya berbeda.

Kemampuan yang Berguna Jauh Setelah Lulus Kuliah

Public speaking terkadang dianggap hanya berguna untuk presentasi di kelas. Padahal, manfaatnya jauh lebih luas.

Ketika bekerja nanti, kita mungkin harus mengikuti rapat, menjelaskan suatu ide, melakukan negosiasi, menyampaikan laporan, atau berbicara dengan klien. Bahkan ketika mengikuti wawancara kerja, kemampuan berkomunikasi sudah mulai diuji.

Artinya, belajar public speaking sebenarnya bukan hanya untuk mendapatkan nilai presentasi yang bagus.

Kemampuan ini merupakan investasi untuk kehidupan setelah kuliah.

Namun, kita juga tidak perlu menjadikan public speaking sebagai kompetisi tentang siapa yang paling percaya diri. Setiap orang memiliki gaya komunikasi yang berbeda. Ada yang ekspresif, ada yang tenang, ada yang serius, dan ada pula yang lebih suka menggunakan humor.

Tidak ada satu gaya yang paling benar selama pesan dapat disampaikan dengan jelas dan sesuai dengan situasinya.

Mulai dari Berani Bicara, Bukan Berusaha Sempurna

Pada akhirnya, kemampuan public speaking tidak datang dalam satu malam. Tidak ada tombol yang bisa membuat seseorang tiba-tiba menjadi percaya diri ketika berdiri di depan banyak orang.

Semuanya membutuhkan proses.

Mungkin pada percobaan pertama suara masih bergetar. Pada percobaan kedua kita masih lupa beberapa poin. Pada percobaan ketiga mungkin masih merasa gugup. Tidak masalah.

Yang penting adalah terus mencoba.

Menurut saya, tujuan pertama belajar public speaking bukan menjadi pembicara yang hebat. Tujuan pertamanya jauh lebih sederhana: berani menyampaikan apa yang kita pikirkan.

Sebab, ide sebagus apa pun akan sulit memberikan dampak jika kita tidak mampu menyampaikannya kepada orang lain.

Jadi, kalau hari ini kita masih takut berbicara di depan banyak orang, bukan berarti kita tidak bisa. Mungkin kita hanya belum terbiasa.

Dan seperti kemampuan lainnya, terbiasa hanya bisa didapatkan dengan satu cara: mulai berbicara.