Konten dari Pengguna

Uang Tidak Pernah Netral: Mengapa Kebijakan Moneter Bisa Mengubah Isi Dompet?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Arkan Zulfian Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejumlah uang kertas rupiah Indonesia difoto di sebuah tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026), setelah nilai tukar rupiah melemah hingga melampaui angka 18.000 per dolar AS untuk pertama kalinya. Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah uang kertas rupiah Indonesia difoto di sebuah tempat penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (4/6/2026), setelah nilai tukar rupiah melemah hingga melampaui angka 18.000 per dolar AS untuk pertama kalinya. Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP

Ketika harga makanan naik, cicilan terasa semakin berat, bunga tabungan berubah, atau nilai tukar rupiah melemah, masyarakat biasanya melihatnya sebagai persoalan ekonomi yang berbeda-beda. Padahal, berbagai fenomena tersebut memiliki hubungan yang erat dengan satu bidang yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu ekonomi moneter.

Ekonomi moneter membahas bagaimana uang, suku bunga, perbankan, inflasi, nilai tukar, dan kebijakan bank sentral memengaruhi aktivitas perekonomian. Meskipun terdengar seperti pembahasan yang hanya relevan bagi ekonom atau pelaku pasar keuangan, dampaknya sebenarnya dapat dirasakan hampir semua orang.

Keputusan Bank Indonesia mengenai suku bunga, misalnya, tidak berhenti di ruang rapat. Kebijakan tersebut dapat memengaruhi biaya kredit, keputusan masyarakat untuk menabung atau berbelanja, keputusan perusahaan melakukan investasi, hingga tekanan terhadap harga barang dan jasa.

Dengan kata lain, kebijakan moneter pada akhirnya dapat memengaruhi satu hal yang sangat konkret: berapa banyak barang dan jasa yang mampu dibeli oleh uang yang kita miliki.

Uang Memiliki Harga, dan Harganya Adalah Suku Bunga

Uang sering dianggap hanya sebagai alat untuk membeli barang. Padahal, dalam perekonomian modern, uang juga memiliki "harga".

Harga tersebut tercermin melalui suku bunga.

Ketika seseorang meminjam uang dari bank, ia harus membayar bunga sebagai biaya penggunaan dana. Sebaliknya, ketika seseorang menyimpan uang dalam produk simpanan tertentu, ia dapat memperoleh imbal hasil.

Karena itu, suku bunga memengaruhi keputusan ekonomi masyarakat.

Jika bunga kredit tinggi, seseorang mungkin berpikir ulang sebelum mengambil kredit kendaraan, rumah, atau modal usaha. Perusahaan juga dapat menunda ekspansi karena biaya pembiayaannya menjadi lebih mahal.

Sebaliknya, ketika bunga kredit turun, biaya memperoleh dana menjadi lebih rendah. Kondisi tersebut dapat mendorong masyarakat mengambil kredit dan perusahaan meningkatkan investasi.

Namun, hubungan tersebut tidak sesederhana "bunga turun berarti ekonomi langsung tumbuh". Ada proses yang disebut transmisi kebijakan moneter.

Ilustrasi: Mekanisme transmisi kebijakan moneter Bank Indonesia dari instrumen kebijakan, likuiditas dan suku bunga hingga memengaruhi nilai tukar, permintaan, serta inflasi. Sumber:https://www.bi.go.id/id/fungsi-utama/moneter/PublishingImages/Default/Transformasi-Kebijakan-Moneter.jpg

Bank Indonesia menjelaskan bahwa perubahan BI-Rate memengaruhi perekonomian melalui berbagai saluran, termasuk suku bunga, kredit, nilai tukar, harga aset, dan ekspektasi. Dampaknya juga membutuhkan waktu atau time lag, sehingga perubahan kebijakan tidak langsung menghasilkan perubahan pada inflasi atau pertumbuhan ekonomi.

Dari Ruang Rapat Bank Indonesia ke Isi Dompet

Untuk memahami bagaimana kebijakan moneter bekerja, bayangkan Bank Indonesia memutuskan menaikkan suku bunga kebijakan.

Secara sederhana, prosesnya dapat digambarkan:

BI-Rate naik, suku bunga pasar meningkat, biaya kredit cenderung naik, konsumsi dan investasi dapat melambat, permintaan agregat menurun, tekanan inflasi dapat berkurang.

Sebaliknya:

BI-Rate turun, biaya dana cenderung menurun, kredit lebih menarik, konsumsi dan investasi dapat meningkat, aktivitas ekonomi terdorong.

Tetapi perlu dicatat, tidak semua perubahan BI-Rate otomatis diteruskan dengan besaran yang sama ke bunga kredit masyarakat.

Bank mempertimbangkan kondisi likuiditas, risiko kredit, biaya dana, kondisi ekonomi, dan berbagai faktor lainnya. Masyarakat juga belum tentu langsung meningkatkan pinjaman hanya karena bunga turun.

Jika kondisi ekonomi sedang tidak pasti, masyarakat dapat memilih menahan konsumsi dan perusahaan dapat menunda investasi meskipun bunga kredit sudah lebih rendah.

Inilah alasan mengapa transmisi kebijakan moneter tidak selalu berjalan secara instan.

Mengapa Bank Indonesia Tidak Selalu Menurunkan Suku Bunga?

Pertanyaan ini penting karena dari sudut pandang masyarakat, bunga rendah tampaknya selalu lebih baik.

Bunga rendah memang dapat membantu mendorong kredit, konsumsi, dan investasi. Namun, jika kebijakan terlalu longgar ketika tekanan inflasi atau nilai tukar sedang tinggi, risikonya juga meningkat.

Sebaliknya, menaikkan suku bunga dapat membantu menekan permintaan dan menjaga stabilitas, tetapi kebijakan tersebut juga dapat membuat kredit lebih mahal dan aktivitas ekonomi lebih lambat.

Dengan demikian, bank sentral menghadapi dilema.

Suku bunga terlalu tinggi dapat menekan pertumbuhan, sementara suku bunga terlalu rendah dalam kondisi tertentu dapat meningkatkan tekanan inflasi dan risiko ketidakstabilan keuangan.

Karena itu, kebijakan moneter pada dasarnya adalah persoalan keseimbangan.

Kondisi Indonesia Saat Ini: BI-Rate 5,75 Persen

Ilustrasi: Keputusan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia September 2026 mengenai BI-Rate, stabilitas nilai tukar, inflasi, pertumbuhan ekonomi, kredit, dan sistem pembayaran. Sumber:https://www.bi.go.id/id/publikasi/ruang-media/news-release/PublishingImages/Pages/sp_2819326/BI-Infografis-Rapat-Dewan-Gubernur-September-2026-Versi-Panjang.jpg

Per September 2026, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate pada level 5,75 persen. Deposit Facility berada pada 4,75 persen, sedangkan Lending Facility berada pada 6,50 persen. Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Dewan Gubernur pada 22 sampai 23 September 2026.

Keputusan mempertahankan suku bunga tersebut bukan berarti Bank Indonesia tidak melakukan apa-apa.

Bank Indonesia menjelaskan bahwa kebijakan tersebut diarahkan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal, menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran, dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Ini menunjukkan bahwa keputusan suku bunga tidak dapat dilihat hanya dari kondisi domestik.

Indonesia merupakan bagian dari perekonomian global. Perubahan kondisi ekonomi dunia, arus modal, harga komoditas, kebijakan negara lain, serta ketidakpastian geopolitik dapat memengaruhi nilai tukar dan stabilitas perekonomian Indonesia.

Inflasi: Ketika Uang yang Sama Membeli Lebih Sedikit

Salah satu tujuan utama kebijakan moneter adalah menjaga stabilitas harga.

Inflasi terjadi ketika tingkat harga barang dan jasa secara umum meningkat secara terus-menerus. Dampaknya bukan hanya terlihat pada angka statistik, tetapi juga pada daya beli masyarakat.

Misalnya, seseorang memiliki pendapatan Rp3 juta per bulan. Jika harga kebutuhan meningkat sementara pendapatannya tidak berubah, kemampuan membeli barang dan jasa akan menurun.

Inilah yang membuat inflasi menjadi persoalan penting.

Ilustrasi: Perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) dan tingkat inflasi Indonesia pada Agustus 2026, termasuk kontribusi komoditas serta perbedaan inflasi antarwilayah. Sumber:https://www.bps.go.id/id/infographic?id=1304

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa inflasi Indonesia pada Agustus 2026 mencapai 3,19 persen secara tahunan. Inflasi bulanan tercatat 0,21 persen, sedangkan inflasi inti berada pada 2,92 persen secara tahunan.

Angka tersebut masih berada dalam rentang sasaran inflasi Indonesia untuk 2026, yaitu 2,5 persen dengan deviasi 1 persen, sehingga rentang sasaran berada pada 1,5 sampai 3,5 persen.

Namun, berada dalam sasaran tidak berarti persoalan harga otomatis selesai.

Masyarakat tetap dapat merasakan kenaikan harga barang tertentu secara signifikan. Sebab, angka inflasi merupakan ukuran perubahan harga secara agregat. Kondisi harga yang dihadapi setiap rumah tangga dapat berbeda tergantung pola konsumsi masing-masing.

Rumah tangga yang sebagian besar pengeluarannya digunakan untuk makanan, misalnya, dapat merasakan tekanan harga yang berbeda dengan rumah tangga yang lebih banyak membelanjakan pendapatan untuk jasa atau barang lain.

Tidak Semua Kenaikan Harga Bisa Diselesaikan dengan Suku Bunga

Di sinilah pemahaman mengenai ekonomi moneter menjadi penting. Ketika harga beras naik karena produksi terganggu, menaikkan suku bunga tidak otomatis membuat produksi beras meningkat.

Ketika harga komoditas dunia naik, suku bunga juga bukan solusi langsung terhadap masalah pasokan.

Inflasi dapat berasal dari berbagai sumber. Secara umum, tekanan harga dapat muncul karena permintaan yang meningkat terlalu kuat, kenaikan biaya produksi, gangguan pasokan, pelemahan nilai tukar, maupun perubahan ekspektasi masyarakat.

Karena itu, tidak tepat jika setiap kenaikan harga dianggap sebagai akibat terlalu banyaknya uang beredar dan kemudian seluruh penyelesaiannya dibebankan kepada bank sentral.

Untuk masalah pangan, misalnya, pemerintah membutuhkan kebijakan yang berkaitan dengan produksi, distribusi, transportasi, cadangan pangan, dan stabilisasi pasokan.

Bank Indonesia sendiri menekankan pentingnya koordinasi dengan pemerintah dalam menjaga inflasi, khususnya melalui pengendalian inflasi pangan dan koordinasi pusat-daerah.

Nilai Tukar Rupiah Juga Berhubungan dengan Harga di Dalam Negeri

Ekonomi moneter juga berkaitan erat dengan nilai tukar.

Indonesia melakukan perdagangan internasional dan masih membutuhkan berbagai barang, bahan baku, mesin, serta komponen dari luar negeri.

Ketika rupiah melemah terhadap mata uang asing, harga barang impor dalam rupiah dapat meningkat. Misalnya, sebuah perusahaan membutuhkan bahan baku impor senilai US$10.000.

Ketika nilai tukar berada pada Rp15.000 per dolar, biaya tersebut sekitar Rp150 juta.Jika rupiah melemah menjadi Rp17.000 per dolar, biaya yang sama menjadi sekitar Rp170 juta. Perusahaan kemudian menghadapi kenaikan biaya sebesar Rp20 juta hanya karena perubahan nilai tukar.

Perusahaan dapat merespons dengan berbagai cara. Mereka dapat mengurangi margin keuntungan, mencari pemasok alternatif, mengurangi biaya produksi, atau meneruskan sebagian kenaikan biaya kepada konsumen melalui harga jual.

Jika kenaikan tersebut terjadi secara luas, nilai tukar dapat ikut memberikan tekanan terhadap inflasi.

Karena itu, stabilitas rupiah bukan hanya persoalan pasar keuangan. Dampaknya dapat masuk ke sektor produksi dan akhirnya sampai kepada konsumen.

Inflasi Tidak Berdampak Sama bagi Semua Orang

Satu hal yang sering hilang dalam pembahasan inflasi adalah masalah distribusi.

Misalnya terdapat inflasi sebesar 3 persen. Angka tersebut tidak berarti setiap orang mengalami kenaikan biaya hidup tepat 3 persen.

Setiap rumah tangga memiliki pola konsumsi yang berbeda.

Rumah tangga berpendapatan rendah biasanya memiliki proporsi pengeluaran yang lebih besar untuk kebutuhan dasar. Jika harga makanan dan transportasi meningkat, ruang untuk mengurangi pengeluaran menjadi lebih terbatas.

Sementara itu, rumah tangga dengan pendapatan lebih tinggi biasanya memiliki lebih banyak pilihan dalam mengatur konsumsi.

Karena itu, stabilitas harga memiliki dimensi sosial.

Menjaga inflasi tetap rendah bukan hanya mengenai menjaga indikator makroekonomi, tetapi juga menjaga agar daya beli masyarakat tidak terkikis secara berlebihan.

Ketika Kebijakan Moneter Bertemu dengan Kehidupan Mahasiswa

Dampak kebijakan moneter bahkan dapat dirasakan oleh mahasiswa.

Mahasiswa yang menggunakan layanan pembayaran digital, menabung, mengambil cicilan, atau berasal dari keluarga yang memiliki usaha kecil tetap berada dalam ekosistem moneter.

Misalnya, kenaikan harga bahan makanan dapat meningkatkan pengeluaran keluarga. Jika keluarga juga memiliki pinjaman usaha dengan bunga yang meningkat, beban keuangan menjadi lebih besar.

Dampaknya dapat merembet ke pengeluaran pendidikan.

Uang yang sebelumnya digunakan untuk membeli buku, transportasi, internet, atau kebutuhan kuliah dapat dialihkan untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Dalam konteks ini, kebijakan moneter tidak lagi terlihat sebagai sesuatu yang jauh dan abstrak.

Perubahan kondisi moneter dapat memengaruhi keputusan rumah tangga mengenai apa yang dibeli, apa yang ditunda, apa yang dipinjam, dan apa yang harus dikorbankan.

Kebijakan Moneter Tidak Bisa Bekerja Sendirian

Ada kecenderungan untuk menganggap Bank Indonesia sebagai pihak yang harus menyelesaikan seluruh persoalan ekonomi.

Pandangan tersebut terlalu sederhana.

Bank Indonesia memiliki mandat dan instrumen tertentu, terutama dalam menjaga stabilitas moneter dan sistem keuangan. Pemerintah memiliki instrumen fiskal seperti pajak, belanja negara, subsidi, bantuan sosial, serta kebijakan sektor riil.

Keduanya memiliki fungsi yang berbeda tetapi saling berkaitan.

Jika inflasi disebabkan oleh permintaan yang terlalu kuat, kebijakan moneter dapat berperan dalam mengendalikan tekanan tersebut.

Namun, jika masalahnya adalah produksi pangan, pemerintah perlu menangani sisi pasokannya.

Jika masalahnya adalah daya beli kelompok rentan, kebijakan perlindungan sosial dapat menjadi instrumen yang lebih langsung.

Jika masalahnya adalah produktivitas industri, penyelesaiannya membutuhkan kebijakan investasi, infrastruktur, tenaga kerja, dan teknologi.

Artinya, kebijakan moneter bukan obat untuk semua masalah ekonomi.

Mengapa Masyarakat Perlu Memahami Ekonomi Moneter?

Memahami ekonomi moneter membuat masyarakat lebih mampu membaca berita ekonomi secara kritis.

Ketika Bank Indonesia menaikkan suku bunga, kita tidak cukup hanya mengatakan bahwa kebijakan tersebut "buruk karena cicilan menjadi mahal".

Kita perlu bertanya:

Mengapa suku bunga dinaikkan?

Apakah karena inflasi meningkat? Apakah karena nilai tukar mengalami tekanan? Apakah karena kondisi ekonomi global berubah?

Sebaliknya, ketika suku bunga diturunkan, kita juga tidak cukup mengatakan bahwa kebijakan tersebut "bagus karena kredit menjadi murah".

Kita perlu melihat apakah penurunan tersebut mampu mendorong kredit dan investasi, bagaimana respons perbankan, bagaimana kondisi permintaan masyarakat, serta apakah stabilitas harga dan nilai tukar tetap terjaga.

Dengan cara berpikir tersebut, ekonomi moneter tidak lagi sekadar kumpulan istilah dalam buku teks.

Ia menjadi alat untuk memahami keputusan ekonomi sehari-hari.

Harga Uang Memengaruhi Pilihan Kita

Pada akhirnya, kebijakan moneter bekerja melalui keputusan manusia.

Ketika bunga kredit berubah, seseorang mempertimbangkan kembali apakah akan mengambil pinjaman.

Ketika inflasi meningkat, rumah tangga mempertimbangkan kembali barang apa yang harus dibeli.

Ketika rupiah melemah, perusahaan menghitung kembali biaya produksi.

Ketika kondisi ekonomi tidak pasti, investor mempertimbangkan kembali ke mana modal akan ditempatkan.

Semua keputusan tersebut kemudian saling berinteraksi dan membentuk kondisi perekonomian secara keseluruhan. Itulah mengapa harga uang tidak pernah benar-benar netral.

Suku bunga memang hanya terlihat sebagai sebuah angka. Inflasi hanya terlihat sebagai persentase. Nilai tukar hanya terlihat sebagai angka rupiah terhadap mata uang asing.

Namun di balik angka tersebut terdapat keputusan nyata mengenai konsumsi, tabungan, investasi, produksi, pekerjaan, dan daya beli.

Karena itu, memahami ekonomi moneter bukan sekadar memahami apa yang dilakukan Bank Indonesia. Lebih jauh, ekonomi moneter membantu kita memahami mengapa isi dompet bisa berubah meskipun jumlah uang di dalamnya terlihat sama.