Konten dari Pengguna

Menilik Sisi dan Perspektif Lain Pandangan Konspirasi COVID-19

R Luthfi Prabhaswara

R Luthfi Prabhaswara

Seorang mahasiswa Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya Angkatan 2018.

·waktu baca 6 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari R Luthfi Prabhaswara tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menilik Sisi dan Perspektif Lain Pandangan Konspirasi COVID-19
zoom-in-whitePerbesar

Pada akhir tahun 2019, dunia digemparkan dengan adanya potensi virus mematikan yang ditemukan pertama kali di Wuhan, Tiongkok. Virus yang berasal dari kelelawar ini dapat menyebabkan penderitanya merasakan gejala-gejala seperti pneumonia atau penyakit pernapasan sejenis seperti sesak napas, demam, batuk, dll. Virus ini kemudian dinamakan sebagai coronavirus atau yang biasa dikenal sebagai COVID-19. Prediksi para ahli terkait potensi virus yang membahayakan ini berujung benar. Bulan Maret 2020 ketika COVID-19 sudah menyebar ke berbagai negara, WHO kemudian mendeklarasikan COVID-19 sebagai pandemi berskala global. Pandemi yang menghantam negara-negara di dunia ini juga menghantam Indonesia.

Maret 2020, Presiden Jokowi mendeklarasikan COVID-19 secara resmi masuk di Indonesia setelah ditemukan hasil positif pada dua WNI di Depok, Jawa Barat. Satu dari dua orang diduga berpesta di salah satu bar Jakarta bersama warga negara asing tertular karena sempat melakukan kontak fisik dengan WNA tersebut. Melihat adanya fenomena ini, masyarakat Indonesia kemudian berbondong-bondong membeli peralatan kesehatan seperti masker, hand sanitizer, face shield, dll untuk mencegah agar COVID-19 tidak menulari mereka atau yang biasa disebut sebagai panic buying. Minimnya sarana informasi yang diberikan media massa ataupun pers menjadi salah satu faktor kunci mengapa fenomena panic buying terjadi. Hal ini dapat dikatakan wajar pasalnya Pandemi COVID-19 saat itu merupakan hal baru bagi masyarakat seluruh dunia sehingga banyak dari mereka kemudian kebingungan akan sedikitnya informasi yang dapat mereka serap.

Dikarenakan adanya Pandemi COVID-19 maka masyarakat menjadi terbatas untuk melakukan segala aktivitasnya. Pembatasan yang dilakukan pemerintah dapat dilihat dengan himbauan untuk #DiRumahAja, kebijakan physical distancing, dan penutupan tempat-tempat yang memicu keramaian. Pada akhirnya Pandemi COVID-19 meluluhlantakkan sebagian besar negara di dunia dan menimbulkan dampak-dampak di berbagai sektor seperti kesehatan, ekonomi, pendidikan, dll.

Dampak ekonomi dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi yang terjadi di Asia Tenggara seperti Thailand minus 6.1 persen, Filipina yang mencapai 9.5 persen, Singapura minus 5.4 persen, dan hanya Vietnam yang mendapatkan angka positif yakni tumbuh sebanyak 2.91 persen (Purwanto, 2020). Sementara itu, kegiatan belajar-mengajar juga dibatasi yang mulanya dapat dilakukan di sekolah maupun kampus berubah menjadi dengan metode pembelajaran jarak jauh secara terbatas dengan menggunakan video conference. Indonesia juga termasuk negara yang terdampak dalam berbagai aspek. Masyarakat yang ‘terkejut’ dengan adanya Pandemi COVID-19 yang secara cepat mengubah tata kehidupan mereka menuai respon yang beragam.

Dikarenakan Pandemi COVID-19 saat itu masih menjadi fenomena baru di masyarakat, maka informasi yang mereka dapatkan sangat terbatas dan perlu ditinjau kembali kredibilitasnya. Misinformasi dan disinformasi kemudian meluas di tengah kebingungan masyarakat akan pandemi yang menerjang kehidupan mereka secara cepat sehingga masyarakat tidak mampu untuk melakukan penyaringan terkait mana berita yang valid dan hoaks. Misinformasi dan disinformasi merupakan informasi yang tidak benar dan keliru, perbedaan antara keduanya terlihat pada sengaja/tidak sengaja nya berita bohong tersebut disebarkan. Disinformasi merupakan berita bohong yang disebarkan dengan sengaja, sedangkan misnformasi sebaliknya (Yustitia & Ashrianto, 2020). Salah satu bentuk disinformasi yang dengan cepat meluas di masyarakat yakni teori konspirasi Pandemi COVID-19.

Konspirasi merupakan sebuah teori terkait desas-desus suatu fenomena yang belum pasti dan menyebar di masyarakat. Meski sering dianggap hanya gosip ataupun isapan jempol belaka, namun terdapat beberapa kasus yang terbukti benar adanya seperti Skandal Watergate yang menggulingkan Presiden AS saat itu, Richard Nixon. Konspirasi biasanya hanya sebuah hipotesis ataupun asumsi yang di dalamnya tidak terdapat bukti pendukung kuat.

Pandemi COVID-19 juga memunculkan teori-teori konspirasi liar di masyarakat yaitu dengan adanya peran elit global selaku ‘pembuat’ Virus Corona. Salah satu konspirasi liar yang dicanangkan dan beredar di masyarakat yakni kebocoran laboratorium di Tiongkok yang sengaja dilepaskan sebagai senjata pemusnah massal (Lubis, 2021). Selain itu, terdapat desas-desus yang mengatakan bahwa Bill Gates merupakan dalang di balik munculnya Pandemi COVID-19 dengan anggapan bahwa ia sengaja ‘menciptakan’ sebuah virus sehingga nantinya masyarakat akan ditanamkan chip yang dapat dilacak dan disuntikkan di dalam vaksin. Hal tersebut merupakan beberapa contoh teori konspirasi yang kebenaran dan kredibilitas-nya sama sekali belum teruji sehingga validitas dari teori tersebut masih perlu dipertanyakan.

Studi yang dilakukan Fakultas Ilmu Administrasi UI Tahun 2020 memaparkan keterkaitan masyarakat yang percaya konspirasi dengan tingkat pendidikan mereka. Hasil dari studi tersebut yakni mayoritas responden yang percaya dengan adanya konspirasi elit global Pandemi COVID-19 berpendidikan SMP dan SMA. Sementara itu, mayoritas responden yang tidak percaya adanya konspirasi Pandemi Covid-19 berpendidikan jauh lebih tinggi yakni S1 dan S2.

Digitalisasi besar-besaran yang terjadi di masyarakat selama beberapa dekade terakhir tidak diimbangi dengan literasi digital sehingga beberapa dari mereka terjebak dalam misinformasi di mana mereka tidak mampu menyaring berita-berita yang masuk. Akibatnya, infodemi kian menjamur di masyarakat Indonesia. Infodemi merupakan kondisi ketika informasi akan suatu isu masuk secara berlebihan di masyarakat. Akibat dari itu, muncul kelompok dan kalangan penganut COVID-19 sebagai konspirasi elit global. Salah satu pegiat atau tokoh fenomenal yang menyuarakan konspirasi COVID-19 adalah Jerinx.

I Gede Ari Astina atau yang akrab disapa sebagai Jerinx dianggap sebagai salah satu tokoh paling vokal dalam menyuarakan narasi COVID-19 sebagai ulah elit global. Drummer Superman is Dead ini menyuarakan narasi tentang konspirasi COVID-19 yang menuai pro-kontra di masyarakat. Pada umumnya masyarakat sangat mengecam tindakan Jerinx karena mendorong masyarakat untuk tidak patuh protokol kesehatan. Hal semacam ini sangat berbahaya dan merugikan orang sekitar mereka jika terus dibiarkan. Di lain sisi, terdapat kelompok yang berdiri bersama Jerinx menyuarakan Pandemi COVID-19 merupakan ide konspirasi global untuk mengontrol dunia melalui vaksin.

Teori konspirasi memang merupakan hal yang selalu menarik untuk dibahas, tetapi alangkah baiknya jika teori tersebut tidak digunakan sebagai pedoman. Hal ini dikarenakan kredibilitas teori-teori tersebut belum benar adanya sehingga konspirasi merupakan hoaks sampai adanya bukti-bukti yang valid. Dalam menganalisis kelompok yang mempercayai dan penentang keberadaan Pandemi COVID-19 sangat diperlukan juga untuk menilik perspektif-perspektif lain. Studi UI yang telah dipaparkan sebelumnya menyatakan bahwa sebagian besar kelompok yang percaya COVID-19 sebagai konspirasi merupakan kalangan dengan pendidikan paling tinggi SMA. Dapat dikatakan bahwa hal ini yang menyebabkan mereka tidak memiliki literasi digital yang baik sehingga mereka tidak dapat menyaring mana berita yang baik maupun yang buruk dan terjerumus dalam berita hoaks (konspirasi merupakan salah satunya).

Dalam skema lain, bisa saja kelompok tidak percaya COVID-19 berusaha mencari kambing hitam atas keadaan yang mereka alami. Tingkat pendidikan mereka yang kurang tinggi juga dalam sebagian besar kasus mengakibatkan mereka terkena PHK ataupun kesulitan mencari kerja di masa Pandemi COVID-19. Merasa tidak terima dengan keadaan tersebut, masyarakat berusaha mencari pihak-pihak yang bertanggungjawab atas fenomena ini. Alhasil mereka percaya bahwa pihak di balik munculnya COVID-19 (dalam kasus ini merupakan elit global) adalah penyebab utama mengapa mereka terdampak secara ekonomi sehingga mereka memaksakan diri untuk melawan keadaan yang terjadi.

Faktanya, Pandemi COVID-19 memang benar-benar ada dan perlahan masyarakat mulai menyadari bahaya COVID-19 setelah beberapa keluarga mereka terdampak secara kesehatan bahkan sampai meninggal. Jerinx sendiri tidak begitu vokal lagi menyuarakan Pandemi COVID-19 sebagai konspirasi setelah melihat kerabat serta keluarganya terpapar virus dan ia pun kemudian setuju untuk diberikan vaksin. Bagaimanapun juga, tindakan Jerinx yang melawan idealisme nya patut diberikan apresiasi dan acungan jempol karena tidak sedikit orang-orang yang masih menutup mata ketika realitas berbeda dengan idealisme yang ia pegang.