Konten dari Pengguna

Pemelihara Kapitalisme: Tujuh Dosa Besar Manusia

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mustika Wahyu Maharani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Potret perbedaan antara pemukiman yang bergedung dan beratap (pexels.com/Qeis Ismail)
zoom-in-whitePerbesar
Potret perbedaan antara pemukiman yang bergedung dan beratap (pexels.com/Qeis Ismail)

Ketika berbicara tentang ideologi, pasti tidak asing dengan ideologi kapitalisme. Sebuah ideologi yang menguntungkan segelintir orang terus dipelihara sampai sekarang. Meskipun hanya menguntungkan segelintir orang, yang berada di bawah ideologi ini bukan hanya mereka, melainkan mereka yang lain, lebih tepatnya yang tidak diuntungkan. Apakah karena mereka yang lain terpaksa menerima ideologi ini? Atau karena mereka secara tidak sadar menuntun kapitalisme menjadi sebuah budaya? Apa saja yang membuat kapitalisme ini kokoh hingga sekarang?

kesombongan-keserakahan - iri hari-kemarahan - hawa nafsu-kerakusan - kemalasan adalah serangkaian tujuh dosa besar manusia yang membuat kapitalisme sampai saat ini kokoh. Kapitalisme memelihara ketujuh dosa besar itu kemudian menjadikan mereka sebagai komoditas yang dapat dinikmati oleh segelintir orang dari banyaknya orang dan alam yang dieksploitasi untuk memproduksi komoditas.

Tidak banyak orang yang bisa menikmati tujuh dosa besar yang dipelihara oleh kapitalisme. Kenyataannya, data yang dilampirkan oleh Oxfam menyatakan, kekayaan miliarder meningkat lebih dari 16% di tahun 2025, perkembangan ini tiga kali lebih cepat daripada lima tahun sebelumnya.

Beberapa media sengaja memelihara kesombongan dan keserakahan para miliarder dan menjadikannya sebagai standar kesuksesan seakan sengaja memelihara kapitalisme dengan cara menyebarluaskannya. Hal ini juga mendukung pendapat bahwa kesuksesan diukur oleh komoditas, yaitu itu barang-barang yang menunjukkan kelas ekonomi seorang individu.

Media sosial juga berpartisipasi dalam memelihara sistem kapitalisme dan merupakan produk dari kapitalisme yang sukses memelihara salah satu tujuh dosa besar manusia: iri hati. Gaya hidup yang ditampilkan dalam media sosial tampak utopis, seringkali melihat gaya hidup dari influencer yang cenderung mewah, seperti tas bermerk, rumah mewah, kosmetik high-end, dan berbagai hal yang dihasilkan dari kapitalisme.

Data dari Money and Health, sekitar 29% orang aktif membandingkan kehidupan mereka dengan kehidupan orang yang ditampilkan media sosial, dan hal itu mengganggu kesehatan mental mereka. Kapitalisme berhasil membuat rasa “kurang” menjadi iri hati, yang kemudian mendorong mereka untuk membeli suatu hal agar merasa setara dengan kehidupan yang ada di media sosial.

Konsumerisme adalah gaya hidup yang dipelihara oleh kapitalisme. Kerakusan dan kemalasan adalah peluang bagi para kapitalis untuk dimonetisasi sehingga manusia bergantung pada sistem yang memanjakannya. Ketergantungan akan mengikis kemampuan manusia untuk mandiri dan ketergantungan terhadap komoditas kapitalisme akan mengubah pola pikir dan tindak laku manusia.

Hal inilah yang dimanfaatkan oleh kapitalisme untuk terus mengakar di masyarakat dan menjadi sebuah hegemoni yang luar biasa mulus. Ideologi ini membuat masyarakat berpikir bahwa dunia memang seperti ini cara kerjanya: menguntungkan segelintir orang. Hegemoni kapitalisme berasal dari bagaimana kapitalisasi menjadi sebuah budaya yang memengaruhi manusia lewat narasi dan ideologi yang disebarkan melalui seni: drama, film, lukisan, karya sastra, serta media sosial.

Jika ditarik kembali ke konsep tujuh dosa besar manusia, kapitalisme menciptakan komoditas yang memuaskan hal itu. Sebagai contoh adalah ponsel yang kita miliki sekarang adalah hasil dari kapitalisme, kemudian kita bisa menggunakan ponsel tersebut untuk memuaskan kerakusan, mencari validasi orang, menjadi tolak ukur eksistensi, pemuas hawa nafsu, dan masih banyak lagi. Namun, perlu disadari bahwa kita tidak bisa begitu saja lepas dari ponsel, lantas, apakah kita bisa lepas dari kapitalisme?

Dalam artikel The Economics of the Seven Deadly Sins yang ditulis oleh Julien Chevalier, tujuh dosa besar manusia dapat dimoderat sehingga menjadi seperti ini: Kebanggan → ambisi, ketamakan → moderasi, Kerakusan → rasa, nafsu → sensualitas, iri hati → inspirasi, kemarahan → kekesalan, kemalasan → perenungan. Ia juga mengatakan, visi baru ini harus digerakkan oleh semua sektor karena keseimbangan merupakan akan melawan penyimpangan. Meskipun begitu, pemoderasian tujuh dosa besar manusia ini dapat dieksploitasi oleh kapitalisme.

Jika ingin memoderasi ketujuh sifat dosa besar manusia, perlu kekompakan dalam masyarakat untuk meredam atau mengurangi kapitalisme karena ideologi ini dapat terus beradaptasi dan membuat inovasi yang kemudian memanjakan apa yang ingin dimoderasi. Kesadaran diri akan membawa pada kesadaran secara bersama, langkah kecil akan berubah menjadi langkah yang besar ketika dilakukan secara bersama-sama.