Kuliah Demi Kerja, tapi Kerja Butuh Pengalaman: Dilema Fresh Graduate

Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Raafi Arrasy Trianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap tahun, ribuan wisudawan melangkah keluar dari gerbang perguruan tinggi dengan senyum mengembang dan ijazah di tangan. Ada narasi besar yang selama bertahun-tahun ditanamkan oleh masyarakat: kuliah adalah investasi terbaik untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Namun, begitu memasuki pasar kerja, para lulusan baru (fresh graduate) kerap dihantam oleh realita yang kontradiktif. Banyak lowongan pekerjaan tingkat pemula (entry level) justru mencantumkan syarat: "memiliki pengalaman kerja minimal 1-2 tahun".
Fenomena ini menciptakan lingkaran setan yang membingungkan bagi lulusan baru: bagaimana bisa mendapatkan pengalaman kerja jika untuk bekerja saja membutuhkan pengalaman? Dilema ini bukan sekadar masalah teknis pencarian kerja, melainkan sebuah persoalan sosiologis mendalam yang berakar dari pergeseran fungsi dan sistem pendidikan tinggi kita hari ini.
Jika dibaca melalui pemikiran sosiolog pendidikan Ivan Illich, dilema ini muncul akibat komodifikasi pendidikan dan obsesi berlebih terhadap formalitas gelar. Illich mengkritik bagaimana institusi formal menguasai proses belajar dan menjual ijazah sebagai "tiket tunggal" menuju kesejahteraan ekonomi. Masyarakat diyakinkan bahwa tanpa kuliah, seseorang tidak akan diakui kompetensinya.
Namun, ketika hampir semua orang kini bisa meraih gelar sarjana, nilai tawar ijazah tersebut mengalami penurunan. Dunia industri tidak lagi menganggap lembar ijazah sebagai jaminan kapabilitas. Akibatnya, pasar kerja menambah kualifikasi baru berupa "pengalaman kerja" sebagai penyaring instan. Di sinilah letak anehnya, perguruan tinggi menjanjikan kesiapan kerja lewat ijazah, namun pasar kerja justru mengabaikan ijazah tersebut dan menuntut hal yang tidak pernah diberikan secara maksimal oleh kampus, yaitu pengalaman praktis.
Émile Durkheim juga menjelaskan bahwa salah satu fungsi utama lembaga pendidikan modern adalah melatih keahlian spesifik guna memenuhi pembagian kerja (division of labor) di masyarakat. Sekolah dan kampus idealnya berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan potensi individu dengan kebutuhan tatanan sosial-ekonomi.
Dilema fresh graduate menunjukkan adanya keretakan (mismatch) dalam fungsi tersebut. Sistem kurikulum perguruan tinggi sering kali berjalan lambat dan kaku, terisolasi dari dinamika serta perkembangan industri yang bergerak cepat. Kampus terlalu berfokus pada pemenuhan capaian teoritis di atas kertas, sehingga gagal menjalankan fungsinya untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan praktis yang sesuai dengan standar kebutuhan masyarakat saat ini.
Dilema yang dihadapi oleh para fresh graduate tidak boleh terus dianggap sebagai kesalahan individu lulusan yang "kurang berusaha". Ini adalah persoalan sistemik yang menuntut evaluasi mendasar terhadap peran perguruan tinggi.
Sudah saatnya kampus membenahi sistem pembelajarannya dengan merobohkan tembok pembatas antara teori dan praktik. Pendidikan tinggi harus mengadopsi pendekatan pembelajaran berbasis masalah (problem-posing) dan praktik langsung sejak awal masa perkuliahan. Program magang, proyek kolaboratif dengan industri, serta riset terapan tidak boleh sekadar dijadikan formalitas pemenuhan SKS, melainkan disajikan sebagai esensi utama dalam mengasah kapasitas mahasiswa.
Kuliah seharusnya bukan sekadar tempat berburu gelar demi selembar kertas ijazah, melainkan sebuah kawah candradimuka yang bener-bener menempa mahasiswa dengan pengalaman, daya kritis, dan kesiapan untuk berkontribusi secara nyata di tengah masyarakat.
