Geopolitik Trump: Kemenangan Cepat, Krisis Panjang di Timur Tengah

Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Program Studi Hubungan, Universitas Sriwijaya
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Radiel Raafi Fudhala tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gaya Kepemimpinan Transaksional Donald Trump Mempertegas Keterjebakan Politik Amerika di Timur Tengah

Di ujung malam ketika berita-berita tentang Gaza mengisi linimasa media, ada satu pola lama yang selalu kembali. Yaitu Amerika Serikat yang selalu hadir tegas, vokal, dan kontroversial. Di masa pemerintahan Donald J. Trump, pola itu tampak lebih jelas yang di mana keputusan-keputusan spektakuler (pengakuan Yerusalem, dukungan terbuka pada Israel, tekanan maksimal terhadap Iran) yang bukan saja mengubah peta diplomasi, tetapi juga memperdalam paradox mengenai AS semakin gigih “mengunci” pengaruhnya, semakin sering pula kawasan menolak legitimasi kebijakan itu.
Cerita dimulai dari strategi personal dan retorika “America First.” Dalam praktiknya, gaya kepemimpinan Trump memadukan dua elemen yang, ketika digabung, menjadi resep keterjeratan. Pertama, kebijakan yang transaksional, hubungan antarnegara diperlakukan sebagai barter politik dan ekonomi. Kedua, pelemahan kepatuhan normatif tradisional Washington yang di mana lembaga multilateralisme dan legitimasi hukum internasional dipandang sekunder jika mengganggu keuntungan taktis. Hasilnya adalah tindakan diplomatik cepat dan dramatis, tetapi legitimasi yang rapuh.
Mengapa ini membuat AS “terjebak”? Jawabnya dapat diringkas dalam pilar legitimasi, pilar efek blowback, dan pilar ketergantungan struktural.
Pertama, legitimasi. Pengakuan Yerusalem dan kebijakan “pro-Israel” yang keras di era Trump mempercepat erosi persepsi netralitas Amerika. Negara-negara dan publik kawasan termasuk kelompok moderat melihat Washington bukan lagi sebagai mediator yang objektif, melainkan sebagai aktor berpihak. Studi perbandingan kebijakan AS era Obama-Trump menunjukkan bagaimana pergeseran ini tidak sekadar simbolik, ia mengurangi ruang diplomatik AS untuk menjadi penengah yang dipercaya. Ketika negara-negara menilai AS tidak lagi netral, pilihan politik mereka bergeser dari mengandalkan Washington kepada mencari opsi lain atau bertindak sendiri demi kepentingan nasionalnya.
Kedua, efek blowback. Intervensi militer atau tekanan kebijakan tanpa legitimasi internasional memicu reaksi berkepanjangan yaitu proksi, radikalisasi, dan politik balas-dendam. Kebijakan “maximum pressure” terhadap Iran, misalnya, memang menekan secara ekonomis dan sekaligus mendorong Tehran memperkuat jaringan proksinya di kawasan. Artikel tentang perang proksi selama era Trump menegaskan bahwa tekanan eksternal sering menghasilkan pola konflik asimetris yang lebih sulit diatasi oleh cara-cara konvensional. Dengan kata lain, daripada mengakhiri konflik, kebijakan impulsif justru memperpanjangnya.
Ketiga, ketergantungan struktural. Meskipun kritik meluas, ada faktor-faktor praktis yang membuat AS sulit hengkang yaitu kebutuhan akan stabilitas energi dan perdagangan global dan komitmen keamanan kepada mitra strategis (Israel, negara-negara GCC). Serta kepentingan geopolitik untuk menahan pengaruh rival seperti Rusia dan Tiongkok. Itulah mengapa meski kebijakan Trump membuat AS kehilangan simpati publik, pemerintahan AS tetap mempertahankan kehadiran militer dan instrumen pengaruhnya menghasilkan sebuah ketergantungan yang pada akhirnya menjerat AS tidak bisa lepas karena konsekuensi strategisnya terlalu besar.
Dari perspektif narasi politik internasional, kepemimpinan Trump mempercepat pengungkapan sebuah dilema struktural yang lebih luas karena kekuasaan tanpa legitimasi efektif hanya bersifat sementara. Trump dapat menandatangani kesepakatan diplomatik spektakuler seperti normalisasi tertentu antarnegara. Tetapi bila kesepakatan itu tidak dibangun atas persepsi keadilan dan netralitas, maka ia mudah runtuh ketika krisis baru muncul. Peristiwa-peristiwa pasca-2020 menampilkan betapa langkah-langkah diplomatik singkat bisa menghasilkan jeda politik, bukan perdamaian berkelanjutan.
Apa implikasi praktisnya untuk kawasan? Pertama, negara-negara Timur Tengah semakin pragmatic dan oportunistik mereka menambah portofolio partner (China, Rusia, hingga dialog intra-regional) untuk mengurangi ketergantungan unilateral pada AS. Kedua, ruang diplomatik AS mengecil ketika Washington kehilangan posisi sebagai mediator yang dipercaya, pengaruh halus seperti diplomasi ekonomi, normalisasi politik, dan soft power menjadi kurang efektif. Ketiga, konflik regional lebih cenderung menjadi urusan proksi panjang, bukan pertemuan meja perdamaian cepat.
Namun penting dicatat bahwa narasi “kehilangan pengaruh” bukan sama dengan “kekalahan total.” AS masih memiliki instrumen kekuatan besar militer, finansial, teknologi yang membuatnya tetap relevan. Yang berubah adalah jenis pengaruh dari dominasi normatif dan struktural menjadi pengaruh yang lebih transaksional dan episodik. Inilah esensi keterjeratan yang membuat AS hadir dengan resource besar, tetapi cara memakainya semakin mengalienasi konsensus yang sejauh ini menopang peran globalnya.
Akhir kata, ketika kita menilai era Trump dalam konteks Timur Tengah, kita tidak sedang menulis epos tentang kemunduran pasti AS. Kita sedang membaca sebuah bab tentang bagaimana kekuatan besar bisa terperangkap oleh logika tindakan cepat dan transaksional. Bisa memenangkan pertempuran diplomatik jangka pendek, namun semakin sulit memenangkan legitimacy wars jangka panjang. Selama logika geopolitik global masih menempatkan penghormatan norma dan kepercayaan sebagai modal penting, kebijakan yang mengabaikannya seperti banyak yang terlihat pada era Trump akan terus memproduksi lingkaran yang berulang. Amerika datang untuk menata, tetapi justru semakin terikat oleh akibat tindakannya sendiri.
Referensi
Bahari, D. M., & Sahide, A. (2022). The comparison of US foreign policy toward the Islamic world under Obama and Trump. Journal of Islamic World and Politics, 3(1). https://doi.org/10.18196/jiwp.v6i2.13060
Bergen, P. (2020). Trump and his generals: The cost of chaos. Penguin Press. ISBN: 978-0525522416
Greenwald, D. B. (2022). The sword is not enough: Arabs, Israelis, and the limits of military force (J. Pressman). International Journal of Middle East Studies, 54(1), 206–208. https://doi.org/10.1017/S0020743821001227
Jose, H., & Fathun, L. (2021). US–Iran proxy war in the Middle East under the Trump administration. Journal of Political Issues, 2(1). https://doi.org/10.33019/jpi.v3i1.45
Pressman, J. (2019). The sword is not enough: Arabs, Israelis, and the limits of military force. Manchester University Press. ISBN: 978-1526125825
