Strategi Diplomasi Bank Sentral Di Era Kecerdasan Artifisial

Analis Yunior di Bank Indonesia. Penulis memiliki ketertarikan yang kuat terhadap isu-isu terkait ekonomi moneter, keuangan, sistem pembayaran, UMKM dan kebijakan publik.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Rabiul Misa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Selama tiga tahun terakhir, percakapan global mengenai kecerdasan buatan (AI) banyak berkisar pada persaingan yang sudah akrab.
Amerika Serikat berlomba menghasilkan model AI terdepan. China berpacu mencapai kemandirian teknologi. Eropa berupaya mengatur teknologi tersebut melalui legislasi yang komprehensif. Asumsi yang berkembang adalah bahwa pihak yang mampu mengembangkan algoritma paling kuat akan menguasai babak berikutnya dari ekonomi digital.
Namun, asumsi tersebut semakin tidak lengkap.
Persaingan berikutnya dalam AI mungkin tidak ditentukan di laboratorium, pabrik semikonduktor, atau perusahaan teknologi. Persaingan itu justru dapat ditentukan di dalam bank sentral, regulator keuangan, dan otoritas pengawasan—institusi yang jarang mendominasi pemberitaan, tetapi secara rutin menentukan bagaimana pasar berfungsi.
Keputusan mereka akan membentuk standar mengenai bagaimana AI dipercaya, diawasi, dan digunakan dalam sistem keuangan. Pada akhirnya, standar tersebut dapat bertahan lebih lama daripada terobosan model AI mana pun.
Standar Keuangan Membentuk Kekuasaan
Sejarah memberikan preseden yang berguna. Basel Accords tidak menciptakan perbankan modern, tetapi berkembang menjadi bahasa global dalam pengawasan perbankan. Financial Action Task Force (FATF) mengubah pemberantasan pencucian uang dari isu kebijakan domestik menjadi kewajiban internasional.
Demikian pula, General Data Protection Regulation (GDPR) Uni Eropa menjadi tolok ukur global bagi perlindungan data digital meskipun secara formal hanya berlaku di Eropa. Tidak satu pun dari institusi tersebut mendominasi melalui keunggulan teknologi. Mereka membentuk dunia karena mereka mendefinisikan aturan main.
Tata kelola AI di sektor keuangan mulai mengikuti logika yang sama.
Berbeda dengan aplikasi konsumen, AI di sektor keuangan beroperasi dalam lingkungan di mana kepercayaan bukanlah pilihan, melainkan fondasi. Algoritma semakin banyak digunakan untuk menentukan kelayakan kredit, mendeteksi penipuan, memantau risiko sistemik, menjalankan strategi investasi, hingga mengawasi lembaga keuangan.
Ketika agentic AI mulai mengambil keputusan keuangan secara semakin otonom, kepercayaan terhadap sistem tersebut akan semakin sedikit ditentukan oleh kemampuan komputasinya dan semakin banyak ditentukan oleh kredibilitas tata kelolanya.
Pasar keuangan dapat mentoleransi ketidaksempurnaan teknologi; tetapi pasar tidak dapat mentoleransi ketidakjelasan mengenai siapa yang bertanggung jawab.
Perubahan ini menandai pergeseran penting dalam persaingan internasional. Pertanyaan strategisnya bukan lagi sekadar siapa yang membangun AI paling canggih. Pertanyaannya semakin mengarah pada siapa yang membangun arsitektur kelembagaan tempat AI diperbolehkan beroperasi. Kredibilitas regulasi kini menjadi sumber pengaruh geopolitik.
Perkembangan tersebut menempatkan bank sentral dalam peran diplomatik yang tidak terduga.
Di seluruh Asia, otoritas moneter secara perlahan membangun kerangka tata kelola yang berpotensi membentuk masa depan keuangan berbasis AI secara global.
Monetary Authority of Singapore (MAS) telah menjadi salah satu laboratorium terdepan di dunia untuk tata kelola AI yang bertanggung jawab. Alih-alih hanya berfokus pada inovasi, MAS mengembangkan kerangka praktis seperti FEAT Principles dan, yang lebih baru, Safeguards for Agentic Finance at Runtime (SAFR), yang dirancang untuk memastikan sistem AI yang semakin otonom tetap dapat dijelaskan, dipertanggungjawabkan, dan tangguh dalam pasar keuangan.
Di tempat lain, kawasan ini bergerak ke arah yang serupa. Hong Kong Monetary Authority memperluas pemanfaatan teknologi pengawasan berbasis AI. Bank of Japan memperkuat penerapan analitik untuk pengawasan sektor keuangan. Bank of Korea mengintegrasikan AI ke dalam pengawasan prudensial.
Bank Indonesia memasukkan tata kelola AI ke dalam agenda transformasi digital yang lebih luas, sembari mendorong interoperabilitas pembayaran lintas negara melalui ASEAN Regional Payment Connectivity.
Jika dilihat secara terpisah, berbagai inisiatif tersebut mungkin tampak sangat teknis. Namun, jika dilihat secara kolektif, semuanya mengungkap sesuatu yang jauh lebih penting: Asia secara bertahap sedang membangun fondasi kelembagaan bagi tatanan keuangan yang didukung AI.
Perbedaan ini penting karena tata kelola—bukan inovasi semata—yang menentukan apakah AI dapat berkembang lintas negara. Lembaga keuangan beroperasi melintasi yurisdiksi, mata uang, dan sistem regulasi.
Tanpa prinsip bersama yang mengatur akuntabilitas algoritma, ketahanan operasional, keamanan siber, perlindungan konsumen, dan kerja sama pengawasan, adopsi AI akan tetap terfragmentasi, betapapun canggih teknologinya.
Dalam lingkungan tersebut, standar teknis berubah menjadi instrumen diplomasi.
Pengaruh internasional dari standar sering kali diremehkan karena bekerja secara diam-diam. Negara-negara yang mampu membentuk norma regulasi dapat menurunkan biaya kepatuhan bagi perusahaan domestiknya, menciptakan keuntungan sebagai pelopor bagi industrinya, sekaligus membangun kerangka yang semakin banyak diadopsi oleh negara lain. Pengaruh tersebut tidak lahir dari pemaksaan, melainkan dari legitimasi kelembagaan. Standar menjadi bentuk soft power.
Hal ini menciptakan peluang yang belum sepenuhnya disadari Asia.
Kawasan ini mungkin tidak akan melampaui Amerika Serikat dalam riset AI terdepan atau menyamai skala investasi teknologi yang didukung negara di China.
Berkompetisi secara langsung dalam perlombaan membangun foundation models membutuhkan sumber daya yang hanya dimiliki sedikit negara Asia. Namun, kepemimpinan dalam tata kelola AI mengikuti logika yang berbeda. Ia lebih menghargai kredibilitas kelembagaan, koordinasi regulasi, dan kepercayaan jangka panjang daripada sekadar kapasitas komputasi.
Dan justru di bidang-bidang tersebut Asia memiliki keunggulan komparatif.
Keunggulan Kelembagaan Asia yang Senyap
Selama beberapa dekade, institusi regional secara perlahan membangun tradisi kerja sama yang jauh lebih sedikit mendapat perhatian dibandingkan rivalitas geopolitik.
ASEAN telah memperluas konektivitas pembayaran QR lintas negara tanpa mengharuskan harmonisasi regulasi secara menyeluruh.
Executives' Meeting of East Asia-Pacific Central Banks (EMEAP) telah membangun kerja sama berkelanjutan di antara otoritas moneter dalam bidang stabilitas keuangan, sistem pembayaran, dan praktik pengawasan. Institusi-institusi tersebut telah memiliki jaringan yang memungkinkan norma tata kelola menyebar.
Langkah berikutnya adalah memperluas model kerja sama tersebut ke bidang AI.
Alih-alih mengadopsi begitu saja kerangka tata kelola dari Washington, Brussel, atau Beijing, Asia dapat merumuskan prinsipnya sendiri mengenai AI keuangan yang tepercaya—menyeimbangkan inovasi dengan stabilitas, keterbukaan dengan ketahanan, serta kemajuan teknologi dengan akuntabilitas kelembagaan.
Kerangka tersebut akan mencerminkan realitas negara-negara berkembang, ketika keuangan digital tumbuh pesat tetapi kapasitas regulasi masih tidak merata.
Langkah tersebut juga akan memperkuat otonomi strategis kawasan. Ketika persaingan teknologi semakin berputar di sekitar ekosistem regulasi yang berbeda, negara-negara yang mampu mengusulkan standar yang kredibel akan memperoleh fleksibilitas diplomatik yang lebih besar. Mereka menjadi bagian dari pihak yang menulis aturan, bukan sekadar menyesuaikan diri terhadap aturan yang ditulis pihak lain.
Di sinilah masa depan diplomasi AI pada akhirnya mungkin ditentukan.
Diskusi internasional mengenai kecerdasan buatan hingga kini masih sangat berfokus pada model AI terdepan, rantai pasok semikonduktor, dan persaingan antarperusahaan teknologi. Semua isu tersebut tentu penting. Namun, fokus tersebut mengabaikan transformasi yang lebih senyap dan sedang berlangsung di dalam institusi-institusi keuangan.
Algoritma yang menggerakkan modal, menilai risiko, mengautentikasi identitas, dan mengawasi pasar akan semakin banyak beroperasi melintasi batas negara. Algoritma tersebut membutuhkan tata kelola yang tepercaya sebelum dapat memperoleh adopsi yang tepercaya. Institusi yang mampu menyediakan kepercayaan tersebut tidak hanya akan membentuk stabilitas keuangan, tetapi juga arsitektur ekonomi digital itu sendiri.
Sejarah keuangan global menunjukkan bahwa pengaruh yang bertahan lama jarang menjadi milik mereka yang pertama kali berinovasi. Lebih sering, pengaruh tersebut dimiliki oleh institusi yang akhirnya menjadi begitu penting sehingga dibutuhkan oleh semua pihak.
Karena itu, negara adidaya AI berikutnya mungkin bukan negara yang membangun algoritma paling cerdas.
Melainkan negara yang institusi keuangannya menulis aturan yang pada akhirnya harus diikuti oleh setiap algoritma.
