Konten dari Pengguna

Finansial untuk Gen Z: Strategi Bertahan di Tengah Godaan Sosial Media

Rabiyatul Adawiyah

Rabiyatul Adawiyah

Mahasiswa ITB Ahmad Dahlan Jakarta Prodi Manajemen

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rabiyatul Adawiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber gambar: pixabay (https://pixabay.com/photos/money-coin-investment-business-2724241/)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber gambar: pixabay (https://pixabay.com/photos/money-coin-investment-business-2724241/)

Di tengah derasnya arus digitalisasi dan budaya viral, Gen Z menghadapi tantangan keuangan yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya. Meskipun lebih melek teknologi dan punya akses ke berbagai sumber informasi, tak sedikit dari mereka yang justru terjebak dalam gaya hidup konsumtif akibat pengaruh media sosial. Dari tren “healing” setiap akhir pekan, review restoran viral, hingga dorongan untuk tampil keren dengan gadget terbaru—semuanya menyasar satu hal yang sama, yaitu dompet.

Banyak Gen Z yang memiliki penghasilan tetap, baik dari pekerjaan penuh waktu maupun freelance, tapi merasa uang selalu cepat habis. Ini bukan hanya soal gaji yang kecil, tetapi lebih kepada bagaimana uang itu digunakan. Media sosial menciptakan ilusi bahwa semua orang hidup dalam kemewahan, dan ilusi ini sering kali mendorong pengeluaran impulsif hanya demi validasi digital. Budaya FOMO (Fear of Missing Out) dan YOLO (You Only Live Once) membuat banyak orang merasa harus ikut serta dalam tren agar tetap relevan secara sosial, walaupun harus mengorbankan stabilitas keuangan.

Salah satu cara sederhana namun efektif untuk memulai pengelolaan keuangan pribadi adalah dengan menerapkan metode 50/30/20: alokasikan 50% dari pendapatan untuk kebutuhan pokok, 30% untuk keinginan, dan sisihkan 20% untuk tabungan dan investasi. Metode ini dipopulerkan oleh Senator Elizabeth Warren dalam bukunya yang berjudul “All Your Worth: The Ultimate Lifetime Money Plan”. Dengan pola ini, individu diajak untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta menghindari pengeluaran impulsif yang sering terjadi akibat dorongan sosial media atau tren gaya hidup konsumtif.

Menurut Ligwina Hananto, praktisi perencana keuangan dan pendiri QM Financial, tantangan keuangan anak muda masa kini bukan karena mereka tidak tahu harus menabung atau berinvestasi, tapi karena “mereka tidak merasa perlu”. Dalam banyak kasus, kebutuhan jangka pendek untuk terlihat “enak dilihat” di dunia maya lebih diutamakan dibanding kebutuhan jangka panjang seperti dana darurat atau rencana masa depan.

Selain itu, semakin terbukanya akses ke dunia investasi juga menimbulkan tantangan baru. Banyak Gen Z yang tertarik mencoba instrumen investasi seperti saham, kripto, atau reksa dana, tapi tak sedikit yang melakukannya tanpa pengetahuan dasar yang cukup. Tanpa pemahaman fundamental, investasi yang seharusnya menjadi langkah bijak justru berubah menjadi spekulasi yang merugikan.

Oleh karena itu, langkah paling realistis bukan hanya sekadar mulai menabung atau berinvestasi, tapi membangun kesadaran akan pentingnya hidup sesuai kemampuan. Menahan diri dari membeli sesuatu hanya karena sedang tren, atau karena ingin terlihat “ikut hype”, bisa jadi langkah awal yang menyelamatkan keuangan jangka panjang.