Konten dari Pengguna

Realitas Pasca-Wisuda: Motivasi vs. Penolakan Kerja

Fitri Rusandi

Fitri Rusandi

Mahasiswa Manajemen di Universitas Putra Indonesia YPTK Padang

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fitri Rusandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar oleh Good Free Photos dari Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Gambar oleh Good Free Photos dari Unsplash

Fresh graduate yang sedang mencoba percaya lagi setiap kali membaca kata “Terima kasih sudah melamar”

Ada masanya dalam hidup di mana notifikasi email bisa bikin jantung berdebar lebih kencang, bukan karena surat cinta, tapi karena harapan: “Selamat! Lamaran Anda sedang diproses.” (Jantung seketika ‘auto-disko’). Otak lansung menyusun rencana karier lima tahun ke depan. Gaji pertama sudah dibayangkan akan dipakai buat self reward dan memberikan sebagian kepada orangtua karena telah mendukung dan mendoakan kita selama ini.

Lalu, beberapa hari kemudian, muncul lagi notifikasi baru. Jebret!

“Terima kasih sudah melamar dan berjuang dengan maksimal. Namun, dengan sangat menyesal kami menginformasikan bahwa kami telah menemukan kandidat lain yang keterampilan dan latar belakangnya lebih sesuai dengan kebutuhan kami saat ini.”

Itu bukan email penolakan. Itu adalah surat cinta yang tidak pernah sempat dimulai. Sebuah ghosting profesional. Mereka mengajak kita berkencan (lewat apply di website), kita sudah dandan (baca: mengedit CV sampai mata berkunang-kunang), eh, tiba-tiba mereka sudah jadian sama orang lain tanpa ada penjelasan lebih lanjut.

Di situ, saya sadar: dunia kerja ternyata lebih romantis daripada hubungan percintaan. Soalnya sama-sama bikin baper, tanpa janji, dan penolakannya lebih smooth dari rayuan gombal. Setidaknya kalau di Tinder, kita tahu kita di-skip karena foto kita burem. Kalau di JobStreet? Kita di-skip karena...ya, entah kenapa. Pusyingggg!

Museum Lamaran dan Rezeki yang Nyasar ke ‘Jalur Orang Dalam’

Setelah wisuda, hidup saya berubah jadi rangkaian refresh halaman JobStreet dan mengatur folder lamaran yang isinya kayak museum: semua sudah dikirim, semua sudah dicetak watermark “applied”, tapi belum tentu ada yang buka, apalagi yang mengapresiasi.

Sementara itu di luaran sana, para motivator berkata dengan penuh semangat, “Jangan menyerah! Tetap semangat! Rezeki nggak akan ke mana!”

Jujur, saya hargai semangatnya. Tapi, masalahnya, mereka nggak pernah bilang kalau rezeki itu kadang nyasar dulu ke orang dalam. Rezeki itu memang nggak akan ke mana-mana, tapi ia punya kecenderungan parkir duluan di tempat yang punya “akses VVIP.”

Saya nggak menyerah, tapi realistis. Karena tiap kali baca lowongan “fresh graduate are welcome”, ujung-ujungnya tetap saja: “minimal pengalaman 1-2 tahun.”

Duh, Pak/Bu HRD yang terhormat, kalau saya sudah berpengalaman 2 tahun, saya nggak akan ‘welcome’ lagi di sini, saya sudah berangkat duluan. Saya ‘welcome’ di sini karena saya masih fresh, kosong, dan siap untuk di-isi─bukan ditolak. Logika macam apa ini? Ini namanya ‘lowongan trap’. Mereka bilang “welcome” hanya untuk menarik traffic lamaran. Mirip janji manis politisi.

Grup WA ‘Pejuang Panggilan Interview’: Tempat Curhat Bernama Realita

Teman-teman saya juga banyak yang sama nasibnya seperti saya. Kami bikin grup WhatsApp bernama “Pejuang Panggilan Interview.” Kadang isinya bukan update lamaran, tapi meme dan curhatan semacam:

“Baru apply jam 10, ditolak jam 10.15. Cepat banget, kayak nggak dibaca. Curiga deh yang menyeleksi bukan HRD, tapi bot yang lagi kesel.”

Atau yang lebih tragis:

“Sudah ikut tiga tahap seleksi, medical check up, eh ujung-ujungnya dibilang ‘kami putuskan memilih kandidat lain.’ Coba bayangin, saya sudah terlanjur curhat sama karyawan perusahaan eh malah nggak jadi kerja di sana,”

Saking seringnya dapat penolakan, saya rasanya ingin sekali bikin template balasan:

“Terima kasih juga, saya sudah menemukan perusahaan lain yang lebih menghargai usaha pelamar dan tidak melakukan tiga kali seleksi hanya untuk menolak saya.”

Tapi tentu saja nggak bisa. Dunia kerja terlalu halus, terlalu sopan, dan terlalu formal untuk kejujuran bar-bar seperti itu. Kita harus tetap profesional, meskipun hati sudah remuk seperti remahan biskuit di dasar tas. Klasik.

Passion vs. Kontrakan: Keabsurdan Pertanyaan Interview

Yang lucu, kadang HRD bilang “Kami mencari kandidat yang passionate.” Padahal di dunia nyata, orang butuh kerja bukan karena passionpassion itu adalah hal mewah yang cuma bisa dipikirkan kalau perut sudah kenyang─tapi karena kontrakan belum dibayar.

“Coba ceritakan kenapa anda ingin bekerja di sini.”

Saya pengin jawab sejujurnya: “Karena perusahaan ini yang paling cepat buka lowongan, lokasinya juga dekat dari kosan, dan gaji minimalnya lumayan buat modal nikah.”

Tapi lagi-lagi, dunia kerja bukan tempat sebuah kejujuran. Kita harus ngarang bebas. Kita harus merangkai kata-kata seindah puisi, seolah-olah sejak TK kita sudah bercita-cita mejadi Marketing Executive di perusahaan consumer goods mereka.

Motivator bilang, “Rezeki itu nggak akan tertukar.”

Padahal yang tertukar itu sering kali bukan rezeki, tapi ekspektasi: saya pikir setelah kuliah dengan rajin, IPK tinggi, dan aktif organisasi, karier akan datang seperti tokoh utama drama Korea─dengan backsound orkestra. Eh, ternyata yang datang justru realitas Indonesia: kompetisi ketat, skill wajib setinggi Gunung Everest, dan gaji UMR.

Fenomena 'Generasi Anti-Lama': Ketika Tiga Bulan Bekerja Sudah Dianggap Beruntung

Kadang saya iri sama generasi orang tua kita. Dulu mereka kerja di satu tempat puluhan tahun, dapat pensiun, dapat rumah, dapat rasa tenang, dan cerita masa mudanya selalu tentang kesetiaan pada satu employer.

Sekarang? Fresh graduate zaman sekarang kerja tiga bulan saja sudah dibilang “beruntung”. Kalau dapat kontrak enam bulan, sudah kayak menang lotre. Setahun? Itu sudah prestasi yang wajib dirayakan dengan pesta besar. Kita hidup di zaman gig economy, di mana loyalitas adalah barang langka, bukan karena kita nggak mau, tapi karena sistemnya nggak didesain untuk itu.

Sementara itu, tiap hari di TikTok, motivator dengan blazer necis muncul dan bilang, “Kamu harus percaya diri! Lawan kegagalan! Terus melamar!”

Saya pengin bilang, “Saya sudah melawan kegagalan lima belas kali minggu ini. Kapan giliran kegagalan itu yang menyerah?” (Sungguh, Capek, Pak!)

Soft Skill, Hard Skill, dan Rekening Balance Nol

Bukan berarti saya nggak bersyukur. Tapi realita dunia kerja sekarang memang terkadang absurd. Kita disuruh punya soft skill, hard skill, emotional intelligence, dan resilience — padahal rekening balance aja udah hampir nol. Kita disuruh ikut seminar biar “siap kerja”, padahal ikut seminar saja udah menghabiskan setengah uang tabungan. Semua serba “harus siap”, tapi nggak ada yang nyiapin sistem yang benar-benar adil.

Lucunya, di tengah semua itu, saya masih sering dikirimi video motivasi oleh orang tua saya.

“Nih, tonton biar semangat cari kerja!”

Padahal kadang yang saya butuh bukan motivasi, tapi lowongan yang beneran buka buat orang tanpa pengalaman dan tanpa "uang pelicin".

Saya tahu niat mereka baik. Tapi, entah kenapa, video motivasi itu malah bikin tambah lelah. Karena realitanya, semangat tanpa peluang itu kayak bensin tanpa kendaraan: cuma bisa stay di tempat, nggak bisa jalan.

Kami Bukan Tidak Mau Usaha, Kami Cuma Lelah Dibilang Kurang Usaha

Mungkin beginilah hidup generasi kami: lulusan-lulusan optimis yang akhirnya jadi realis. Kami bukan nggak mau kerja, kami cuma lelah dibilang kurang “usaha”. Padahal di balik setiap lamaran yang dikirim, ada jam-jam panjang menulis surat motivasi yang dibuat sepersonal mungkin, mengedit CV sampai font-nya nggak ada yang salah, dan memperbaiki portofolio supaya kelihatan lebih “marketable” — istilah yang bikin manusia terdengar kayak produk di katalog online.

Tapi toh, kami tetap berusaha. Kami tetap klik “Apply Now” meski tahu ujungnya bisa saja nihil. Kami tetap percaya, walau kepercayaan itu kadang sudah mulai menipis. Karena apa lagi yang bisa dilakukan? Menyerah bukan pilihan, tapi beristirahat sambil menggerutu itu wajib.

Jadi kalau suatu hari saya akhirnya diterima kerja, saya janji nggak akan lupa rasanya ditolak. Saya janji nggak akan nyuruh orang “tetap semangat” tanpa ngerti betapa beratnya perjalanan mereka.

Karena motivasi itu penting, tapi realita harus diakui. Kadang, yang kita butuhkan bukan kata-kata penyemangat, tapi seseorang yang mau bilang:

“Ya, memang susah. Tapi kamu nggak sendiri. Kita gabut bareng.”

Dan itu, menurut saya, jauh lebih menyembuhkan daripada seribu video motivator di TikTok.