Sensory-Specific Satiety: "There's Always Room for Dessert"

Mahasiswi Psikologi Universitas Brawijaya
Tulisan dari Rachel Aziza tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kata-kata "there's always room for dessert" pastinya sudah tidak asing lagi di telinga orang-orang. Ungkapan ini seringkali digunakan oleh orang-orang yang sudah merasa kenyang dan tidak lagi ingin menyantap hidangan utama namun masih memiliki keinginan untuk menyantap hidangan penutup. Beredarnya ungkapan ini membuat banyak orang beranggapan bahwa perut kita memiliki suatu tempat khusus yang dapat menampung hidangan penutup tersebut. Namun, fenomena ini sebenarnya bisa dijelaskan secara ilmiah. Hal ini berkaitan dengan bagaimana manusia berevolusi, jauh sebelum adanya hidangan penutup yang kita ketahui sekarang.

"Dessert Stomach" Mitos atau Fakta?
Keberadaan “dessert stomach” adalah fakta ilmiah, dan ini disebabkan oleh sesuatu yang disebut dengan sensory-specific satiety. Rolls (1981), peneliti sensory-specific satiety, mendefinisikan sensory-specific satiety sebagai penurunan nafsu makan terhadap makanan yang kita makan sehari-hari dan peningkatan nafsu makan terhadap makanan dengan kualitas sensoris yang berbeda, seperti rasa, tekstur, dan penampilan. Sederhananya, makin banyak seseorang memakan sesuatu, makin sedikit orang itu menikmatinya. Ini memberi persepsi bahwa kita sudah kenyang walaupun sebenarnya kita hanya sudah puas dengan sensasi dari rasa, tekstur, atau penampilan tertentu. Hal ini juga merupakan contoh dari habituasi, yaitu ketika seseorang memproses beberapa stimulus berulang-ulang kali, respons orang tersebut terhadapnya menurun (SciShow Psych, 2020). Pada awalnya makanan yang baru sangat menarik bagi kita, namun lama-kelamaan otak kita akan merasa bosan dengan makanan tersebut karena sudah terbiasa terhadap stimulus yang diberikan.
Para ahli neurologi pernah meneliti ini secara langsung. Pada studi yang dilakukan oleh Small (2001), peneliti memberi cokelat kepada sembilan subjek dan memindai otak mereka sambil mereka memakannya, kemudian para subjek diminta untuk menilai seberapa mereka menikmati cokelat tersebut dan keinginan mereka untuk mendapatkan cokelat lagi. Meskipun cokelat yang mereka makan berulang kali adalah cokelat dengan jenis yang sama, penilaian mereka terus menurun setiap kali. Aktivitas otak mereka juga berubah pada orbitofrontal cortex, yaitu bagian yang memproses informasi sensasi dan informasi emosional. Di satu tempat, ada lebih sedikit aktivitas dari waktu ke waktu. Ini adalah reaksi terhadap betapa nikmatnya cokelat itu. Namun, di satu tempat lain terdapat lebih banyak aktivitas. Ini menunjukkan peningkatan rasa jijik atau sense of punishment terhadap cokelat karena sudah terbiasa dan bosan terhadap stimulus yang sama.
Hormon-hormon Apa Saja yang Berperan?
Selain itu, kita juga memiliki hormon leptin dan ghrelin yang merupakan dua hormon yang menjaga keseimbangan energi yang mengontrol keinginan dan kebutuhan tubuh kita terhadap makanan. Leptin berfungsi sebagai mekanisme umpan balik yang memberi sinyal ke pusat pengatur utama di otak untuk menghambat konsumsi makanan dan mengatur berat badan dan homeostasis energi (Klok dkk. 2007). Leptin merupakan intuisi alami kita untuk berhenti makan saat kita sudah merasa kenyang. Sementara itu, ghrelin adalah hormon yang berperan dalam menginduksi nafsu makan. Ghrelin memberi sinyal ke hipotalamus ketika peningkatan efisiensi metabolisme diperlukan (Klok dkk. 2007). Saat tubuh kita melepaskan hormon ghrelin, kita akan merasa lapar. Lalu saat kita makan, kadar ghrelin dalam darah kita menurun. Begitu pula dengan perasaan lapar tersebut. Namun, ternyata perubahan kadar ghrelin itu tergantung pada apa yang telah kita makan. Makanan dengan karbohidrat kompleks dan protein menyebabkan kadar ghrelin menurun, tetapi gula hampir tidak mengubah kadar ghrelin kita sama sekali (Blom dkk., 2005). Sehingga makanan yang memiliki gula hampir tidak berpengaruh pada menurunnya nafsu makan dan perasaan lapar kita. Dopamine juga memainkan peran dalam perilaku termotivasi, dan temuan oleh Ahn dan Phillips (1999) menunjukkan bahwa ekskresi dopamine dapat membentuk sinyal penting yang memberi informasi identifikasi insentif relatif dari makanan dan bertindak sebagai penentu pola perilaku yang diamati dalam sensory-specific satiety.
Apa Kaitannya dengan Proses Evolusi Manusia?
Selama proses evolusi kita, manusia menyadari kebutuhan dalam mengonsumsi berbagai nutrisi, dan sensory-specific satiety adalah hal yang memungkinkan kita untuk bertahan hidup. Apabila sensory-specific satiety ini tidak ada, nenek moyang kita mungkin sudah memakan makanan yang sama berkali-kali, dan itu tidak akan memenuhi kebutuhannya akan berbagai macam nutrisi karena makanan tersebut bukan merupakan sumber nutrisi lengkap.
Apa Manfaatnya Bagi Kita?
Sensory-specific satiety membuat kita tertarik pada variasi makanan yang lebih luas (Inman, 2001). Ini memastikan bahwa kita selalu mengonsumsi berbagai jenis makanan dan menjaga kita agar tetap sehat. Hal ini menguntungkan dalam tiga cara. Pertama, ketika kita mengonsumsi berbagai jenis makanan, kita mendapatkan berbagai macam nutrisi dan kita dapat mempertahankan balanced diet kita. Kedua, sensory-specific satiety membuat kita tidak mengonsumsi terlalu banyak dari satu jenis nutrisi, seperti protein atau lemak, yang mungkin hanya terdapat pada satu jenis makanan. Ketiga, apabila kita disuguhkan makanan sehat yang beragam, kita akan lebih terdorong untuk memakannya. Namun, itu juga berarti bahwa ada situasi di mana kita menjadi lebih rentan untuk makan berlebihan. Hal ini dapat menjadi sesuatu yang negatif, karena jika kita dihadapkan dengan makanan yang beragam, seperti saat kita makan di restoran all-you-can-eat atau buffet, kita akan terdorong untuk terus makan.
Maka dari itu, memang tubuh kita bereaksi sedikit berbeda terhadap hidangan penutup. Namun dengan mengetahui cara kerjanya, kita bisa memanfaatkan sensory-specific satiety dalam menjaga tubuh kita agar tetap sehat.
Referensi:
Ahn, S., & Phillips, A. G. (1999). Dopaminergic correlates of sensory-specific satiety in the medial prefrontal cortex and nucleus accumbens of the rat. The Journal of neuroscience: the official journal of the Society for Neuroscience, 19(19), RC29. https://doi.org/10.1523/JNEUROSCI.19-19-j0003.1999
Blom, W. A., Stafleu, A., Graaf, C. d., Kok, F. J., Schaafsma, G., & Hendriks, H. F. (2005). Ghrelin response to carbohydrate-enriched breakfast is related to insulin. The American Journal of Clinical Nutrition, 81(2), 367-375. https://doi.org/10.1093/ajcn.81.2.367
Inman, J. J. (2001). The Role of Sensory‐Specific Satiety in Attribute‐Level Variety Seeking. Journal of Consumer Research, 28(1), 105–120. https://doi.org/10.1086/321950
Klok, M. D., Jakobsdottir, S., & Drent, M. L. (2007). The role of leptin and ghrelin in the regulation of food intake and body weight in humans: a review. Obesity reviews: an official journal of the International Association for the Study of Obesity, 8(1), 21–34. https://doi.org/10.1111/j.1467-789X.2006.00270.x
Rolls, B. J., Rolls, E. T., Rowe, E. A., & Sweeney, K. (1981). Sensory specific satiety in man. Physiology & behavior, 27(1), 137–142. https://doi.org/10.1016/0031-9384(81)90310-3
SciShow Psych. (2020). Why Do You Always Have Room for Dessert? [Video]. YouTube. https://youtu.be/5IfuwgI95tI
Small, D. M., Zatorre, R. J., Dagher, A., Evans, A. C., & Jones-Gotman, M. (2001). Changes in brain activity related to eating chocolate: from pleasure to aversion. Brain: a Journal of neurology, 124(Pt 9), 1720–1733. https://doi.org/10.1093/brain/124.9.1720
