Konten dari Pengguna

Ketika AI Makin Pintar, Mengapa Kita Justru Harus Belajar Menjadi Lebih Manusia

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Encik Keysa Aisyah Fitri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa tahun lalu, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terdengar seperti sesuatu yang hanya ada dalam film fiksi ilmiah.

Buku dan Perangkat Lunak (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Buku dan Perangkat Lunak (Sumber: Dokumentasi Pribadi)

Hari ini, AI sudah hadir di layar ponsel, ruang kelas, kantor, bahkan dalam percakapan sehari-hari.

Kita bisa meminta AI membuat tulisan, merangkum dokumen, menerjemahkan bahasa, menghasilkan gambar, hingga membantu menyusun ide bisnis. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu berjam-jam dapat diselesaikan dalam hitungan menit.

Kemajuan ini tentu layak diapresiasi. Namun, ada satu pertanyaan yang semakin penting: jika teknologi semakin mampu mengerjakan pekerjaan manusia, kemampuan apa yang masih harus kita pertahankan?

Jawabannya mungkin bukan kemampuan menghafal lebih banyak informasi. Justru sebaliknya, kita perlu kembali mengembangkan sesuatu yang tidak mudah digantikan mesin: kemampuan untuk berpikir, memahami konteks, berempati, dan mengambil keputusan.

Ketika mencari informasi bukan lagi masalah

Selama bertahun-tahun, pendidikan menempatkan kemampuan mencari dan mengingat informasi sebagai sesuatu yang penting. Kita menghafal rumus, tanggal, definisi, dan berbagai fakta.

Namun, internet kemudian mengubah permainan.

Informasi yang dahulu tersimpan di buku kini dapat ditemukan dalam hitungan detik. Kehadiran AI membuat perubahan tersebut semakin besar. Bukan hanya menemukan informasi, kita bahkan dapat meminta mesin menjelaskan informasi tersebut dengan bahasa yang lebih sederhana.

Masalahnya, kemudahan memperoleh jawaban tidak selalu berarti kita memahami persoalannya.

Seseorang dapat meminta AI membuat esai tentang perubahan iklim dalam beberapa detik. Tetapi apakah ia memahami argumen yang ditulis? Apakah sumbernya dapat dipercaya? Apakah ada data yang keliru? Apakah kesimpulannya masuk akal?

Di sinilah kemampuan berpikir kritis menjadi semakin penting.

Teknologi dapat membantu menghasilkan jawaban, tetapi manusia tetap perlu menentukan apakah jawaban tersebut layak dipercaya.

Bahaya terbesar bukan AI yang terlalu pintar

Perdebatan mengenai AI sering kali berpusat pada kekhawatiran bahwa mesin akan menggantikan manusia.

Kekhawatiran tersebut memang memiliki dasar. Otomatisasi dapat mengubah jenis pekerjaan yang tersedia dan keterampilan yang dibutuhkan oleh dunia kerja.

Namun, ada persoalan lain yang tidak kalah penting: manusia yang terlalu bergantung pada teknologi.

Bayangkan seseorang yang selalu menggunakan aplikasi navigasi. Ketika aplikasi tersebut bermasalah, ia mungkin kesulitan menemukan jalan yang sebenarnya sudah pernah dilalui berkali-kali.

Contoh sederhana ini menunjukkan sebuah prinsip: teknologi seharusnya memperbesar kemampuan manusia, bukan membuat manusia kehilangan kemampuan dasarnya.

Hal yang sama berlaku untuk AI.

Jika AI digunakan untuk membantu kita berpikir, ia bisa menjadi alat yang sangat kuat. Tetapi jika AI selalu digunakan untuk menggantikan proses berpikir, kita berisiko menjadi semakin pasif.

Teknologi seharusnya menjadi kopilot, bukan pengemudi

Mungkin cara paling sederhana untuk memahami hubungan manusia dan AI adalah dengan melihat AI sebagai kopilot.

Kopilot membantu membaca situasi, memberikan informasi, dan menawarkan alternatif. Namun, keputusan akhir tetap membutuhkan manusia yang memahami tujuan dan konsekuensinya.

Dalam pekerjaan, AI bisa membantu menyusun laporan. Dalam pendidikan, AI bisa menjadi teman belajar. Dalam bisnis, AI dapat membantu menganalisis data. Dalam kehidupan sehari-hari, AI dapat menghemat waktu untuk berbagai pekerjaan rutin.

Tetapi semua itu tetap membutuhkan satu hal: manusia yang mampu memberikan konteks.

Sebab mesin tidak menjalani kehidupan kita.

AI tidak merasakan konsekuensi ketika sebuah keputusan ternyata salah. AI tidak memiliki hubungan keluarga dengan orang yang terdampak keputusan tersebut. AI juga tidak menjalani pengalaman sosial dan budaya yang membentuk cara manusia memahami sebuah persoalan.

Karena itu, semakin canggih teknologinya, semakin penting pula kemampuan manusia untuk memahami manusia lain.

Masa depan bukan tentang manusia melawan mesin

Mungkin pertanyaan yang lebih relevan bukanlah, "Apakah AI akan menggantikan manusia?"

Pertanyaan yang lebih penting adalah, "Manusia seperti apa yang mampu bekerja bersama AI?"

Jawabannya bukan manusia yang mengetahui segala sesuatu. Di era ketika informasi dapat diperoleh dengan mudah, menjadi orang yang paling hafal informasi bukan lagi satu-satunya keunggulan.

Yang semakin berharga adalah kemampuan untuk mengajukan pertanyaan yang tepat, memeriksa jawaban, memahami persoalan dari berbagai sudut pandang, berkomunikasi dengan baik, dan bertanggung jawab atas keputusan yang dibuat.

Teknologi akan terus berkembang. AI mungkin akan menjadi semakin cepat, murah, dan mudah digunakan.

Karena itu, tugas kita bukan menghentikan perkembangan teknologi. Tugas kita adalah memastikan bahwa perkembangan tersebut tetap berada dalam kendali manusia.

Pada akhirnya, teknologi yang paling canggih bukanlah teknologi yang membuat manusia tidak lagi dibutuhkan.

Teknologi yang paling berguna adalah teknologi yang membuat manusia mampu melakukan lebih banyak hal tanpa kehilangan kemampuan untuk berpikir dan memilih sendiri.