Saat Gambar dan Cerita Bertemu: Perjalanan Membaca Komik dari Cetak ke Digital

Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Pamulang yang gemar menulis dengan tenang dan membaca dengan perlahan.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Rachma Triana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Membaca komik sudah menjadi kebiasaan yang sulit saya lepaskan sejak kecil. Meski sekarang tidak sesering dulu, ketertarikan itu tetap ada, hanya intensitasnya saja yang berkurang. Jika dibandingkan dengan novel, saya tetap lebih memilih komik. Perpaduan gambar dan teks membuat saya lebih mudah masuk ke dalam cerita. Dari situ saya menyadari bahwa pengalaman membaca sangat dipengaruhi oleh bentuk medianya.Kalau bicara soal komik cetak, jujur saja saya jauh lebih menikmati sensasinya. Ada rasa yang berbeda ketika membuka lembar demi lembar, mencium aroma kertas, dan memperhatikan detail gambar tanpa gangguan notifikasi. Saat membaca komik fisik, saya merasa lebih tenggelam dalam cerita. Tidak ada distraksi dari media sosial, pesan masuk, atau keinginan untuk membuka aplikasi lain. Fokus saya benar-benar hanya pada cerita dan ilustrasi.
Beberapa komik yang pernah saya baca di antaranya Detektif Conan karya Gosho Aoyama, Miiko karya Eri Kawasaki, dan Doraemon karya Fujiko F. Fujio. Selain itu, saya juga pernah membaca komik bergenre horor seperti seri Ghost School Days yang menghadirkan suasana menegangkan dengan latar kehidupan sekolah. Masing-masing komik tersebut punya kesan tersendiri. Detektif Conan membuat saya berpikir dan menebak-nebak pelaku, Miiko terasa ringan dan dekat dengan keseharian, sedangkan Doraemon selalu punya cara unik menyelipkan pesan lewat cerita yang sederhana dan imajinatif.
Namun, dari semua komik yang pernah saya baca, seri yang paling konsisten saya ikuti adalah Si Juki karya Faza Meonk, termasuk seri Keroyokan. Alasannya sederhana, tetapi cukup kuat. Ceritanya terasa modern dan relevan dengan kehidupan masa kini; gaya humornya dekat dengan realitas sosial; dan penyampaiannya segar. Selain itu, kualitas cetaknya juga sangat nyaman, grafisnya tajam, warnanya menarik, dan kertasnya tebal serta rapi saat dibaca. Hal-hal yang tampak kecil seperti itu ternyata sangat memengaruhi kenyamanan membaca. Bagi saya, Si Juki menunjukkan bahwa komik Indonesia terus berkembang, baik dari segi cerita maupun produksi yang semakin serius dan matang.
Di sisi lain, saya juga pernah membaca komik digital di platform Line Webtoon. Aksesnya yang praktis dan mudah melalui ponsel membuat saya sering membacanya di sela-sela waktu luang. Saya menyukai fitur-fiturnya, terutama efek suara atau backsound yang kadang muncul pada adegan tertentu karena membuat suasana terasa lebih hidup dan berbeda dari komik cetak. Namun, di balik kelebihannya, masalah fokus sering muncul. Ketika membaca secara digital, saya cenderung mudah terdistraksi, entah karena notifikasi, keinginan berpindah aplikasi, atau sekadar lelah menatap layar terlalu lama. Akibatnya, pengalaman membaca terasa kurang mendalam dibandingkan saat saya membaca komik dalam bentuk cetak.
Selain komik dalam bentuk buku dan aplikasi, saya juga pernah membaca cerita bergambar di koran, seperti seri DOA (Doyok, Otoy, Ali Oncom) yang hadir dalam bentuk komik strip. Ceritanya singkat, hanya terdiri dari beberapa panel dengan dialog sederhana, tetapi tetap lucu dan menghibur. Dulu saya tidak terlalu memikirkan apakah itu termasuk komik atau bukan. Namun, sekarang saya merasa bahwa itu termasuk komik karena memiliki rangkaian gambar berpanel yang dipadukan dengan teks untuk membentuk sebuah cerita. Saya sangat menikmati saat membacanya karena komik tersebut hadir di sela-sela berita serius; rasanya seperti menemukan hiburan kecil yang menyenangkan.
Dari berbagai pengalaman tersebut, saya semakin memahami bahwa media memiliki peran besar dalam membentuk pengalaman membaca. Komik digital memang menawarkan kemudahan, inovasi, dan fitur-fitur menarik, tetapi komik cetak memberi saya ruang yang lebih tenang dan fokus untuk menikmati cerita. Sensasi membalik halaman, memperhatikan detail ilustrasi, serta membaca tanpa gangguan tetap menjadi pengalaman yang paling berkesan bagi saya. Pada akhirnya, pilihan medium bukan sekadar soal praktis atau tidak, melainkan tentang bagaimana saya bisa terhubung secara utuh dengan cerita yang sedang saya baca.
