Obrolan Anak SD

Sayang anak, doa ibu, takut istri.
Tulisan dari Rachmadin Ismail tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tanggal 9 Mei lalu, saya berkesempatan untuk mengantar anak ke sekolah. Dia masih kelas satu SD. Di mobil, ada dua temannya yang ikut berangkat bersama, masing-masing sudah kelas dua dan kelas empat SD.
Kami tinggal di kompleks yang sama dan mereka bersekolah di SD yang sama. Setiap hari, ketiganya diantar oleh sopir jemputan yang kami bayar patungan. Namun pagi itu, sang sopir sedang sakit mata. Saya sebagai sopir tembak cadangan, wajib menggantikannya.
Sepanjang perjalanan menuju sekolah yang membutuhkan waktu hampir 35 menit tersebut, ketiganya nyaris tak berhenti bicara. Saya yang biasanya mendengar obrolan Rizky Kinos dan Sissy Priscilia (menggantikan Indie Barenz) di Female radio, tiba-tiba jadi pindah channel ke siaran anak-anak ini.
Pembicaraan mereka jauh lebih menarik dibandingkan dengan tips joy parenting yang disampaikan oleh Kinos dan Sissy. Obrolan anak-anak SD tadi belum pernah saya dengar di rumah. Jadi saya rekam. Lalu saya analisis belakangan.
Ada beberapa hal menarik yang mereka bicarakan sepanjang perjalanan. Jelas, pengaruh televisi, YouTube dan media sosial, memengaruhi cara mereka berkomunikasi, bercanda sampai menyampaikan pendapat. Tingkat usia dan pemahaman juga berpengaruh.
Berikut analisis sederhana yang saya rangkum dari pembicaraan mereka:
Anak Kelas 1 SD
Untuk level kelas satu, saya melihat obrolannya memang masih polos. Semua yang dilihat dan didengarnya, ditelan mentah-mentah. Lalu semua mentahan itu disampaikan ke teman-temannya.
Pada suatu hari, ketika saya dan anak sedang berteduh karena hujan, kami membeli cilok. Saya kemudian memberi tahu singkatan dari cilok yaitu aci dicolok. Lalu ada cireng, aci digoreng. Dia pun tertawa.
Nah, informasi soal kepanjangan cireng dan cilok itu kemudian disampaikan ke teman-teman di mobil. Tapi sayangnya, ada informasi yang dia dengar entah dari mana soal singkatan-singkatan lain.
“Eh tahu enggak singkatan cireng? Aci digoreng,” direspons tawa oleh dua temannya,
“Tahu ga singkatan Thailand? Tai ditelan. Hahahaha,” direspons dengan ucapan ‘parah’ oleh temannya.
Yang saya pelajari adalah, di usia seperti ini, memang kemampuannya mencerna, memfilter, dan memilah hal-hal untuk disampaikan belum terlihat sempurna. Fasenya masih lebih banyak meniru.
Anak Kelas 2 SD
Berbeda dengan anak kelas 1, anak kelas 2 SD sudah mulai memiliki informasi yang tersaring. Dia bisa memilah informasi yang didapat, lalu bagaimana menyampaikannya. Anak kelas dua juga sudah bisa memberi masukan dan saran untuk temannya.
Jadi, si anak kelas 4 SD cerita, dia pernah di-bully waktu kelas 3. Lalu si anak kelas 2 menimpali. “Kalau kamu di-bully, sudah cuekin aja,” terdengar cukup dewasa.
Anak kelas 2 SD ini juga punya referensi banyak dari dunia maya. Dia sudah tahu film-film di Netflix, lalu ada game yang awalnya saya enggak tahu apa jenisnya. Dia menyebut ROBLOX.
Ternyata, ROBLOX adalah sebuah platform game untuk membuat game sendiri di dalamnya. Duh, orang tua macam apa ini kurang update…
Anak kelas 4 SD
Nah, anak kelas 4 SD sudah jelas bisa menyaring apa yang mau dia sampaikan. Ceritanya juga lebih kompleks. Ada kemungkinan dia menambahi atau mengurangi informasi yang diterima sebelumnya, atau bisa juga dia mengombinasikan dengan informasi lain yang diterima di lokasi berbeda.
Si anak kelas 4 SD sepanjang perjalanan bercerita soal pekerjaan orang tuanya. Soal hukum tidur saat puasa, dan cerita aktivitasnya di rumah. Ceritanya runut, kronologis, dan jelas.
Yang menarik, dia juga cerita soal aktivitasnya yang jauh lebih banyak menonton YouTube di laptop. Dia mengaku sudah punya channel sendiri. Dan yang lebih mengagetkan, dia bisa mengedit video sendiri.
“Kalau video aku suka pakai Kinemaster, hasilnya bagus,” ucapnya.
“Kalau power director aku enggak bisa bikin video YouTube, pake foto enggak aku eraser pinggirnya itu,” tambahnya.
Dua anak lain yang usianya di bawah anak SD kelas 4 ini cuma manggut-manggut saja mendengar cerita sang senior.
Bagaimana kalau ketiganya berkumpul dalam satu forum? Dengan tiga karakter yang berbeda dan pengalaman yang berbeda pula, tentu jadi sebuah momen menarik untuk didengar. Saya yang jadi sopir pagi itu, hanya bisa tersenyum terhibur sambil mengingat-ingat obrolan saya waktu SD yang hanya berkutat seputar masalah paling klasik di dunia, yaitu harta, tahkta, dan wanita. :)
