Konten dari Pengguna

Gen Z Sulit Dapat Kerja, Perusahaan Sulit Cari Talenta: Salah Perencanaan SDM?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rachmafiana Citra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Ilustrasi AI: Gen Z Sulit Dapat Kerja, Perusahaan Sulit Cari Talenta: Salah Perencanaan SDM?
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Ilustrasi AI: Gen Z Sulit Dapat Kerja, Perusahaan Sulit Cari Talenta: Salah Perencanaan SDM?

Pernah dengar cerita ini?

Temanmu, fresh graduate, sudah kirim puluhan lamaran tapi hasilnya sepi. Di sisi lain, kenalan yang jadi HRD mengeluh lowongan sudah berbulan-bulan dibuka, tapi belum ada kandidat yang pas.

Aneh, kan? Dua-duanya sedang mencari pasangan yang cocok, tapi tidak ketemu. Aku curiga akarnya ada di perencanaan SDM.

Perencanaan SDM itu apa?

Gampangnya, ini adalah cara organisasi menjawab tiga pertanyaan sebelum membuka lowongan yaitu butuh orang berapa, butuh yang bisa apa, dan kapan dibutuhkan. Sayangnya, banyak lowongan yang dibuka hanya karena ada yang resign atau karena atasan merasa "kayaknya kurang orang", tanpa hitungan beban kerja yang jelas.

Tiga masalah yang sering terjadi

  1. Lowongannya ngambang. Posisi entry level, tapi minta pengalaman 3 tahun dan segudang keahlian. Itu tanda perusahaan belum tuntas menganalisis pekerjaannya, sehingga kandidat potensial malah mundur duluan.

  2. Ekspektasi tidak ketemu kenyataan. Perusahaan maunya yang siap pakai, tapi jarang menyediakan ruang belajar. Padahal kalau butuh talenta muda, mestinya sudah ada onboarding, magang, atau pelatihan.

  3. Dunia kerja berubah, petanya masih lama. AI mulai mengambil alih tugas rutin yang dulu jadi tempat belajar para pemula. Yang berubah bukan sekadar jumlah orang, tapi jenis kompetensinya. Kalau peta kebutuhan SDM tidak diperbarui, perusahaan bisa salah dua kali: mempertahankan posisi yang sudah tidak relevan, dan kekurangan keterampilan baru.

Terus, harusnya gimana?

  1. Hitung kebutuhan dengan data, pakai analisis beban kerja, bukan perasaan.

  2. Rumuskan kompetensi dengan jujur: mana yang wajib, mana yang bisa dilatih sambil jalan.

  3. Buka jalur untuk pemula lewat magang, trainee, atau mentoring.

  4. Perbarui rutin, karena perencanaan SDM bukan dokumen sekali jadi.

Buat pencari kerja, tunjukkan kemampuan nyata lewat proyek, magang, atau organisasi, dan terus belajar keterampilan baru.

Jadi, siapa yang salah?

Bukan sepenuhnya salah Gen Z, dan bukan juga salah perusahaan semata. Yang bermasalah adalah jembatan di antara keduanya yaitu perencanaan yang belum matang, informasi yang belum nyambung, dan persiapan yang belum seimbang.

Kalau perusahaan merencanakan kebutuhan SDM-nya dengan lebih jelas, dan para pencari kerja mau menyesuaikan bekal dengan kebutuhan itu, dua keluhan tadi bisa bertemu di tengah. Dan mungkin, cerita "sudah kirim lamaran puluhan kali, tapi sepi" jadi makin jarang kita dengar.