Konten dari Pengguna

Untuk Apa Karyawan Dinilai? Menelaah Tujuan dan Masalah Penilaian Kinerja

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rachmafiana Citra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: ar.inspiredpencil from AI .
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: ar.inspiredpencil from AI .

Bukan Cuma Soal Angka, Lho Kamu pernah ngerasain nggak, tiba-tiba musim penilaian datang? Formulir dibagi, atasan sibuk ngisi, terus kamu diam-diam deg-degan nungguin hasilnya. Terus setelah itu? Ya udah, hilang gitu aja. Nggak ada obrolan, nggak ada kelanjutan. Padahal penilaian kinerja itu sebenarnya cara resmi buat ngecek seberapa jauh seseorang menjalankan kerjaannya dan ikut membawa perusahaan ke tujuannya. Tapi nih, penilaian itu cuma sebagian kecil dari yang namanya *manajemen kinerja*, yaitu usaha terus-menerus supaya orang bisa kerja makin baik dari waktu ke waktu. Jadi ukuran suksesnya bukan seberapa rapi formulirnya keisi, tapi seberapa besar perubahan yang kejadian sesudahnya. Tiga Alasan Kenapa Kita Dinilai 1. Biar kerjaan kita nyambung sama tujuan besar kantor. Bayangin kamu sibuk banget dari pagi sampai malam, tapi nggak yakin kerjaan itu ada gunanya atau nggak. Capeknya dapet, maknanya belum tentu. Nah, penilaian ini bantu mastiin apa yang kita kerjain memang searah sama tujuan organisasi.

2. Biar keputusan soal orang diambil dengan adil. Gaji, bonus, promosi, mutasi, sampai penghargaan itu urusan sensitif. Jangan sampai semuanya ditentuin gara-gara dekat sama atasan atau cocok sama selera bos. Penilaian yang bagus bikin keputusan itu punya dasar yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan. 3. Biar kita bisa berkembang. Ini yang paling sering kelupaan, padahal paling penting. Harusnya penilaian bisa bilang ke kita: "ini kekuatanmu, pertahankan; ini yang masih perlu dibenerin; dan ini pelatihan atau jalur karier yang cocok buatmu." Di dunia pemerintahan juga mulai begitu, lho. Penilaian kinerja PNS sekarang lebih menekankan kejujuran dan dimulai dari perencanaan kerja di awal, bukan cuma isi daftar penilaian di akhir tahun.

Penilaian yang Bagus Itu yang Gimana? Biar tiga tujuan tadi kesampaian, penilaian yang oke biasanya punya ciri-ciri begini: 1. Relevan. Yang dinilai memang hal penting di pekerjaannya, bukan sekadar kesan atau feeling. 2. Konsisten. Siapa pun yang nilai, hasilnya nggak plin-plan. 3. Bisa diterima dua pihak. Yang menilai dan yang dinilai sama-sama ngerasa prosesnya adil. 4. Spesifik. Standarnya jelas, jadi masukannya bisa langsung dipraktikkan. Tapi Kenyataannya? Banyak Banget yang Meleset Sayangnya, di lapangan nggak selalu semulus teori. Ini beberapa masalah yang sering banget muncul. Dari sisi yang menilai 1. Kebaikan hati yang kebablasan. Hampir semua orang dikasih "sangat bagus". Akhirnya nggak ada bedanya antara yang beneran juara dan yang biasa aja. Katanya sih, menurut para peneliti, sering kali 80 sampai 90 persen karyawan dinilai di atas rata-rata. Ya nggak mungkin dong, masa hampir semua orang di atas rata-rata? 2. Main aman di tengah. Takut dianggap beda atau takut bikin ribut, jadi semua dikasih nilai yang sama. 3. Sindrom "baru kemarin". Kejadian bulan terakhir kerasa lebih gede daripada kerja keras selama sebelas bulan sebelumnya. Kasihan banget, kan? Dari sisi sistemnya 1. Standar kerja yang nggak jelas, target pun dibuat asal-asalan. 2. Penilainya sendiri belum punya skill buat menilai dan ngasih umpan balik. 3. Hasilnya nggak pernah dibahas bareng, apalagi ditindaklanjuti. Dari Sisi Sikap Karyawan Kalau hasil penilaian nggak pernah ngaruh apa-apa, lama-lama karyawan mikir, "yaudah deh, ini cuma formalitas." Bahkan ada yang ngerasa penilaian itu ancaman, bukan kesempatan buat berkembang. Sedih juga ya. Jadi, Untuk Apa Kita Dinilai? Kalau jawabannya cucuman "ya karena udah jadwalnya", berarti ada yang perlu dibenahi. Tapi kalau jawabannya "biar kita makin selaras, adil, dan terus berkembang bareng-bareng", nah, itu tandanya penilaian kinerja udah jalan sebagaimana mestinya.