Film “Tunggu Aku Sukses Nanti” Dianggap Relate oleh Sandwich Generation

Mahasiswi S1 Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Malang (UM)
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Rachmania Hanum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Film Lebaran Relateable untuk Sandwich Generation?
Film yang dijadwalkan tayang pada tanggal 18 Maret 2026 ini sering kali menggunakan suasana lebaran sebagai latar belakang suasana pada ceritanya, sehingga film ini tayang bertepatan dengan momen lebaran Idul Fitri 2026. Film ini dibintangi oleh Ardit Erwandha, Adzana Ashel, Maudy Effrosina, Ariyo Wahab, Sarah Sechan, Lulu Tobing, Soleh Solihun, Ayu Laksmi, Reza Chandika. Disutradarai oleh Naya Anindita dan digarap oleh Rapi Film menggunakan drama komedi keluarga sebagai genre film ini.
Film ini ramai dibicarakan di sosial media dan menarik minat banyak pengguna sosial media yang digadang-gadang akan relate dengan jalan ceritanya. Khususnya terhadap sandwich generation. Sandwich generation sendiri adalah istilah dari fenomena seseorang yang berada di umur produktif yang terjebak menanggung beban finansial dan beban sosial keluarga (diri sendiri, orang tua, dan anak-anaknya). Istilah ini menggambarkan posisi seseorang yang terhimpit di tengah kondisi tersebut yang membuatnya terlihat seperti isian sandwich atau roti lapis.
Alur Singkat Film “Tunggu Aku Sukses Nanti”
Film ini mengisahkan Arga (Rafisqy) yang sejak kecil selalu merasa tersingkirkan di tengah keluarga besarnya, khususnya di saat momen lebaran. Arga yang merasa sedih karena hal tersebut pun “dihibur” oleh tante Yuli (Sarah Sechan) dengan intonasi yang terkesan mengejek. Hal ini terus terjadi di setiap momen lebaran di keluarga Arga hingga ia beranjak dewasa.
Saat Arga (Ardit Erwandha) memasuki usia dewasa, ia kesulitan untuk mencari pekerjaan. Dan pada saat momen lebaran di keluarganya, Arga tetap menjadi bahan bulan-bulanan Tante Yuli karena kondisinya. Membandingkan dirinya dengan sepupu-sepupunya yang sudah dianggap “sukses” sedangkan dirinya belum kian mendapat pekerjaan dan sedang menganggur selama tiga tahun. Perkataan dari Tante Yuli dan saudaranya yang lain membuat Arga merasa tertekan dengan kondisinya.
Kondisi dimana ibu Arga (Lulu Tobing) bekerja sebagai penjual mie ayam, ayahnya (Ariyo Wahab) sebagai sopir ojek online, dan adiknya yang bernama Tiara (Adzana Ashel) memasuki bangku kuliah. Dengan ekonomi yang tidak stabil membuat orangtua Arga kesulitan untuk membayar biaya kuliah adiknya, membuat ayah Arga harus berhutang kepada saudarinya hingga menjual motor satu-satunya agar Tiara tetap bisa melanjutkan kuliahnya. Memaksa Arga untuk mencari pekerjaan guna membantu perekonomian keluarganya. Dengan banyaknya rintangan dan tekanan dari keluarga Arga, membuat ia berambisi untuk mencari pekerjaan dan mendapatkan uang sebanyak-banyaknya dengan tekad “tunggu aku sukses nanti”.
Drama Slice Of Life Yang Relateable dengan Sandwich Generation
Arga yang merasa tertekan dengan makian dan sindiran dari saudaranya, tidak pernah meluapkan kekesalannya. Ia digambarkan selalu diam tidak membantah, mengingat perekonomian keluarganya tidak setara dengan tante dan sepupunya. Selain itu, Arga juga tidak ingin merusak momen lebaran keluarga besarnya yang hanya dapat berkumpul satu tahun sekali. Hal ini membuat Arga memendam perasaan marah yang berujung pada ambisi untuk menghentikan perkataan buruk yang dilontarkan para tantenya dengan membuktikan bahwa ia juga bisa sukses dengan standar mereka.
Film ini dianggap relevan oleh orang-orang yang menjadi bagian dari sandwich generation. Saat film ini dapat menggambarkan betapa berpengaruhnya omongan orang yang merupakan bagian dari keluarga besar terdengar menyakitkan. Kondisi yang dialami oleh Arga masih banyak terjadi di kehidupan nyata hingga sekarang. Masih banyak sekali ditemukan dimana suasana lebaran yang seharusnya membawa sukacita malah dihindari oleh banyak orang, khususnya generasi muda. Hal ini terjadi disebabkan oleh generasi yang lebih tua merasa bahwa dirinya lebih dewasa untuk memberikan wejangan, yang secara tidak sadar membuat pihak yang lebih muda merasa tersindir bahkan tertekan dengan standar mereka.
Film ini berhasil membawa emosi penonton dengan memperlihatkan perjuangan Arga untuk mencapai apa yang ia impikan, hingga ia kembali jatuh diterpa berbagai konflik di keluarga, di pertemanan, di percintaan, juga di tempat kerjanya. Terutama saat dimana Arga berhasil untuk menurunkan egonya dan berani untuk menyatakan perasaannya terhadap ibu, ayah, adik, dan neneknya di meja makan. Momen tersebut berhasil menyayat hati penonton dengan perkataan jujur Arga yang sederhana namun memiliki makna yang dalam. Kehangatan yang ditunjukan oleh keluarga kecilnya mampu membuat haru dan iri secara bersamaan.
Hal ini membuktikan bahwa dengan banyaknya tekanan dari berbagai aspek kehidupan, hanya dukungan yang diperlukan seseorang untuk tetap bertahan. Dengan melihat Arga yang merasa bahwa dirinya hanya beban keluarga pun tetap dapat menjalankan hidupnya dengan lebih baik setelah mendapat dukungan dari keluarganya. Begitu pun yang dirasakan oleh sandwich generation. Seharusnya, kalimat ejekan yang dibalut dengan candaan tidak lagi dilontarkan terlebih untuk anggota keluarga. Karena pada dasarnya, tidak ada yang tahu apakah hal tersebut dapat diterima oleh orang lain dengan baik atau hanya dapat menyakiti hatinya.
KESIMPULAN
Film ini sukses untuk merebut dan mengendalikan emosi para penonton sepanjang film. Dengan akting dari para aktornya yang baik dapat menyampaikan pesan, watak, dan emosi yang dapat diterima dan dirasakan langsung oleh penonton. Film ini mengajak penonton berfleksi untuk lebih mementingkan diri sendiri dan orang-orang terdekat daripada memperdulikan cacian orang lain. Lebih baik membahagiakan orang-orang terdekat daripada berambisi untuk memberikan pembuktian kepada orang-orang yang hanya mencari kekurangan dari diri orang lain tanpa benar-benar peduli terhadap orang tersebut.
Dengan film ini kita dapat menyaksikan dan mengerti bahwa bercandaan, sindiran, hingga perbandingan dari orang yang dianggap keluarga dapat menyakiti hati orang lain dan dapat membawa dampak yang besar. Oleh karena itu, sebagai orang yang lebih dewasa seharusnya lebih berhati-hati untuk berucap ataupun untuk memberikan nasihat. Meskipun dengan niat yang baik, tetap harus mempertimbangkan hal tersebut dan harus lebih menghargai yang lebih muda. Karena faktanya, orang yang lebih muda tetap memiliki perasaan dan tetap memiliki hak untuk sakit hati. Film ini cocok untuk ditonton sebagai tayangan keluarga dengan alur cerita yang ringan, penuh makna, dengan realita yang relevan dengan sandwich generation yang masih berjuang di Indonesia.
