Mengintip Sejarah Kuil Literatur di Hanoi, Vietnam

Rachmi Yamini
ASN Pemprov. DKI Jakarta - Pustakawan - Pecinta Damai
Konten dari Pengguna
31 Desember 2023 10:35 WIB
·
waktu baca 7 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Rachmi Yamini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Gerbang kesuksesan Kuil Literatur (Dokumentasi pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Gerbang kesuksesan Kuil Literatur (Dokumentasi pribadi)
ADVERTISEMENT
Pertama kali mendengar Kuil Literatur atau Temple of Literature saya merasa sangat penasaran. Awalnya saya pikir Kuil Literatur adalah sebuah tempat yang menyimpan berbagai literatur kuno Vietnam. Rasa penasaran itu terbayar di hari pertama saya mengunjungi Hanoi.
ADVERTISEMENT
Udara Hanoi cukup sejuk siang itu sehingga saya memutuskan untuk berjalan kaki sekitar 1,7 km dari Batavia Halal Indonesian Restaurant & Cafe ke Kuil Literatur. Tadinya saya sempat berencana untuk mampir ke Ho Chi Minh's Mausoleum, tapi antrean yang terlihat di depan pagar membuat saya mengurungkan niat dan terus berjalan. Setelah berjalan sekitar 30 menit, saya sampai di Kuil Literatur.
Kuil Literatur buka untuk umum setiap hari, mulai jam 08.00 dan tutup jam 17.00. Jam operasional ini mungkin akan berbeda di hari-hari besar Vietnam atau di musim tertentu. Beruntungnya saya, meskipun sampai di sana siang hari, tetapi panasnya matahari tidak terasa karena banyak pohon yang rindang di sekitar kuil.
ADVERTISEMENT
Saya mengeluarkan uang sebesar đ30.000 atau sekitar Rp20.000 sebagai wisatawan dewasa untuk tiket masuk ke kuil ini. Ternyata tidak ada perbedaan biaya tiket masuk antara wisatawan lokal Vietnam dengan wisatawan asing. Perbedaan biaya tiket masuk hanya untuk pelajar (dibuktikan dengan kartu pelajar), lansia di atas usia 60 tahun (dibuktikan dengan kartu identitas Vietnam), dan penyandang disabilitas yang dikenakan đ15.000. Bahkan anak-anak atau wisatawan berusia di bawah 15 tahun tidak dikenakan biaya sepeser pun alias gratis.
Gerbang utama ke Kuil LIteratur (Dokumentasi pribadi)
Setelah membayar tiket masuk, saya memasuki kawasan kuil dan disambut dengan pintu gerbang utama yang megah dan kental dengan nuansa Tiongkok. Tidak heran, karena ternyata selama ratusan bahkan ribuan tahun Vietnam pernah menjadi bagian dari Tiongkok sehingga pengaruh Tiongkok dapat terlihat dari gaya arsitektur, sastra, dan ajaran Konfusius yang disebarkan di Kuil Literatur. Semakin masuk ke dalamnya, saya menyadari bahwa kawasan Kuil Literatur ini merupakan komplek yang cukup luas memanjang dan terdiri dari beberapa bagian yang menyimpan banyak sejarah.
ADVERTISEMENT

Sejarah

Dalam bahasa Vietnam, kuil ini bernama Van Mieu yang merujuk pada Konfusius. Namun kemudian Van Mieu diterjemahkan secara harfiah dan lebih dikenal dengan Temple of Literature atau Kuil Literatur.
Kuil ini dibangun pada tahun 1070 pada masa Dinasti Ly Thanh Tong sebagai tempat pemujaan Konfusius. Kuil ini juga menjadi cikal bakal berdirinya universitas pertama di Vietnam, Quoc Tu Giam pada tahun 1076. Saat itu, Kuil Literatur-Quoc Tu Giam merupakan tempat belajar bagi para pejabat, bangsawan atau keluarga kerajaan, dan anggota elit. Hingga akhirnya pada tahun 1442, Kuil Literatur-Quoc Tu Giam dibuka untuk masyarakat umum dan menerima mahasiswa dari seluruh negeri untuk menimba ilmu.
Ketika baru didirikan, bangunan Kuil Literatur-Quoc Tu Giam masih sederhana, namun dengan perkembangan pengikut Konfusianisme di masyarakat, Kuil Literatur-Quoc Tu Giam diperluas secara bertahap dan direnovasi pada masa Dinasti Tran.
ADVERTISEMENT
Pada abad ke-15, Kaisar Le Thanh Thong membuat prasasti peringatan untuk semua mahasiswa yang mendapat gelar doktor. Namun universitas ini hanya buka hingga tahun 1776. Tahun 1802, Dinasti Nguyen mendirikan akademi kekaisaran yang baru di ibukota Hue dan menjadikan Imperial Academy di Hanoi sebagai sekolah di distrik Hoai Durc bernama Van Mieu Hanoi. Kemudian sekolah ini berkembang menjadi Kuil Khai Thanh yang didedikasikan untuk orang tua Konfusius dan sisa bangunan yang ada tidak lagi memiliki fungsi sebagai pusat pendidikan. Namun kuil ini tetap memiliki arti khusus dan mendapatkan perhatian serta mengalami restorasi pada masa Dinasti Nguyen.
Di masa pemerintahan Raja Minh Menh, sekitar tahun 1827 sampai dengan 1863, Van Mieu Hanoi mengalami restorasi dan perbaikan di berbagai sisi. Beberapa bangunan baru dibangun di sekitar bangunan inti serta tembok-tembok di sekeliling Van Mieu dibangun kembali.
ADVERTISEMENT
Selama periode 1888-1945, Van Mieu mengalami perubahan yang paling banyak dalam sejarah. Salah satunya adalah ketika Van Mieu berubah menjadi daerah militer Prancis yang menduduki Vietnam. Prancis menjadikan Van Mieu sebagai tempat isolasi pasien yang terkena kolera di Hanoi dan menghancurkan beberapa bagian Van Mieu untuk membuat ruang tambahan Rumah Sakit Saint Paul yang penuh selama masa perang.
Selama masa ini juga Van Mieu mengalami beberapa kali pemugaran, yaitu pada tahun 1888, 1897-1902, dan 1904-1909. Pada akhirnya Prancis mengembalikan sisa-sisa peninggalan invasi Prancis untuk dikelola oleh pemerintah setempat dan pada tahun 1906 mendaftarkan Van Mieu sebagai monumen sejarah.
Setelah tahun 1945, Van Mieu menjadi tempat ibadah utama, sehingga satu-satunya aktivitas yang dilakukan di Van Mieu adalah upacara persembahan untuk Konghucu dan cendekiawan Konghucu. Selama masa perang melawan penjajahan Prancis (1946-1954), Kuil Literatur hampir hancur. Pada tahun 1954, Van Mieu direstorasi dan dipugar. Hingga pada tanggal 28 April 1962, Van Mieu dinobatkan sebagai warisan sejarah dan budaya nasional oleh Kementerian Kebudayaan Vietnam.
ADVERTISEMENT
Meskipun mengalami berbagai pasang surut dari waktu ke waktu, namun Kuil Literatur tetap memiliki nilai arsitektur dan budaya yang penuh sejarah dan berharga. Peninggalan bersejarah ini selalu dilestarikan, dipelihara, dan layak sebagai pusat pendidikan dan budaya bangsa negara Vietnam.

Arsitektur & Tata Letak

Halaman bagian pertama Kuil Literatur (Dokumentasi pribadi)
Meliputi area seluas 54.331 meter persegi, Kuil Literatur dikelilingi oleh dinding batu bata kuno yang terdiri dari lima bagian halaman (courtyard). Masing-masing bagian halaman ini memilki desain, fungsi, dan makna yang berbeda. Setiap bagian halamannya dipisahkan oleh bangunan dengan gaya arsitektur yang berbeda pula.
Halaman bagian pertama dan kedua didominasi dengan tanaman, pepohonan, dan unsur air. Sedangkan pada halaman bagian ketiga, keempat, dan kelima berisi bangunan dan barang-barang peninggalan bersejarah.
ADVERTISEMENT
Pada halaman bagian pertama terdapat beberapa pohon besar yang berusia cukup tua dan sebuah kolam di masing-masing sisi. Beberapa wisatawan terlihat melakukan sesi pemotretan menggunakan pakaian tradisional Vietnam. Halaman bagian pertama ini disebut dengan Nhap Dao atau Jalan Masuk yang memiliki makna sebelum memperoleh pengetahuan, para siswa wajib memiliki perilaku penuh hormat sebagai pelajaran pertama. Hal ini mengingatkan saya pada perkataan Imam Malik kepada pemuda Quraisy yaitu "pelajarilah adab sebelum mempelajari suatu ilmu."
Halaman bagian kedua dikenal sebagai The Great Central Courtyard yang didominasi oleh pepohonan dan sebuah paviliun bernama Khue Van Cac atau Paviliun Bintang Sastra yang dikenal sebagai ikon Hanoi. Khu Van Cac melambangkan kerendahan hati serta keindahan pengetahuan dan budaya. Paviliun ini menjadi penghubung menuju ke halaman bagian ketiga.
Thien Quang atau Sumur Kejernihan Surgawi (Dokumentasi pribadi)
Memasuki halaman bagian ketiga, terdapat Thien Quang atau Sumur Kejernihan Surgawi yang merupakan kolam persegi di bagian tengah halaman. Dua buah aula besar di bagian kanan dan kirinya berisi patung kura-kura yang menuliskan nama-nama cendekiawan Vietnam dan prasasti yang memuat ajaran Konfusius, filosofi dari setiap dinasti, dan informasi tentang pelajaran pada masa itu. Prasasti ini menjadi sumber sejarah berharga bagi filsafat, budaya, pendidikan, masyarakat, dan seni pahat di Vietnam yang masuk dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO.
ADVERTISEMENT
Halaman bagian keempat memiliki makna sebagai gerbang menuju kesuksesan dan merupakan jantung utama atau pusat kegiatan di komplek Van Mieu. Terdapat bangunan di sisi kanan dan kiri semacam ruang pameran dan museum yang memamerkan artefak pribadi milik beberapa pelajar yang pernah belajar di kuil ini. Museum ini menceritakan sejarah Konfusius di Vietnam dan menggambarkan bagaimana proses belajar dan ujian pada masa itu. Tepat di tengah-tengah halaman bagian ini, terdapat altar khas Vietnam persembahan bagi leluhur bernama Dai Thanh.
Dai Thanh, altar persembahan untuk leluhur (Dokumentasi pribadi)
Bagian terakhir dari kuil ini terdiri dari 2 lantai. Pada lantai dasar terdapat patung Chu Van An yang merupakan guru besar dan rektor pertama yang mengabdikan hidupnya pada pendidikan Vietnam. Lantai kedua digunakan sebagai tempat penyembahan raja-raja yang paling berjasa dalam pendirian kuil ini.
ADVERTISEMENT

Fungsi & Aktivitas

Ruang pameran sejarah Konfusius di Kuil Literatur (Dokumentasi pribadi)
Kuil Literatur telah menjadi tempat penghormatan bagi para cendekiawan Vietnam selama berabad-abad. Awalnya kuil ini merupakan sebuah universitas yang didedikasikan untuk Konfusius dan dimanfaatkan bagi para pelajar seluruh negeri untuk menuntut ilmu. Universitas ini kemudian mendorong pengembangan pendidikan melalui pendirian sekolah-sekolah kecil di seluruh Vietnam.
Kuil ini kemudian digunakan oleh para pelajar dan masyarakat untuk memberikan penghormatan kepada filsuf dan cendekiawan yang telah berkontribusi dalam membangun ilmu pengetahuan dan budaya Vietnam.
Saat ini, Kuil Literatur merupakan museum yang kaya akan sejarah. Kuil Literatur dikenal sebagai lokasi wisata budaya yang menarik bagi wisatawan domestik dan asing. Setiap tahunnya masih banyak keluarga dan pelajar yang datang ke Kuil Literatur untuk memberikan persembahan dan ungkapan terima kasih kepada Konfusius. Bahkan, beberapa masyarakat masih mempercayai tradisi untuk berdoa dan melakukan persembahan kepada para leluhur di kuil ini sebelum waktu ujian agar dapat memperoleh kesuksesan.
ADVERTISEMENT