Ketika Demam Menjadi Alasan untuk Menjeda Semesta
Tulisan dari Racky Fitrio Yudestyama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ada satu hal yang baru terasa masuk akal setelah tubuh sendiri mengalaminya: ternyata menjadi manusia paling menyedihkan di dunia itu tidak membutuhkan masalah yang besar. Kadang, cukup dengan kepala yang mulai berat, badan yang terasa panas, dan tenggorokan yang mendadak tidak bersahabat. Dalam hitungan jam, dunia yang biasanya baik-baik saja bisa berubah menjadi tempat paling tidak nyaman untuk ditinggali.

Aneh memang. Kemarin masih bisa tertawa sampai lupa waktu, duduk berjam-jam sambil bermain ponsel, atau keluar rumah tanpa memikirkan kondisi badan. Namun, begitu demam datang, semuanya berubah. Kasur mendadak menjadi tempat paling berharga, kipas angin terasa seperti musuh, dan suara orang berbicara dari ruangan sebelah terdengar seperti gangguan yang tidak perlu.
Lucunya, di saat seperti itu, pertanyaan sederhana seperti "Mau makan apa?" justru terasa sulit dijawab. Bukan karena tidak tahu makanan yang disukai, melainkan karena memikirkan makanan saja sudah terasa melelahkan. Kalau sudah begini, jangan berharap banyak. Ditanya mau makan, jawabannya mungkin tidak tahu. Ditanya mau minum obat, baru ingat kalau sejak tadi belum minum air putih.
Entah mengapa, demam punya kemampuan mengubah orang yang biasanya merasa baik-baik saja menjadi sosok yang ingin diperhatikan setiap saat.
Ketika Badan Panas, Pikiran Ikut Drama
Ada yang menarik dari cara sebagian pria menghadapi demam. Saat sehat, banyak hal bisa dilakukan tanpa banyak mengeluh. Pekerjaan menumpuk masih bisa dihadapi, tidur larut malam terasa biasa, bahkan rasa lelah sering kali diabaikan begitu saja.
Namun, ketika suhu tubuh mulai naik, sikap itu seperti menghilang entah ke mana.
Baru bangun dari tempat tidur saja rasanya sudah seperti menyelesaikan pekerjaan besar. Mau duduk sebentar, badan terasa tidak enak. Mau tidur lagi, posisi bantal terasa salah. Selimut terlebih tebal, tetapi ketika dibuka malah kedinginan. Pokoknya, selalu ada saja yang terasa kurang tepat.
Di titik ini, mungkin orang lain mulai berpikir bahwa yang sakit bukan hanya badannya, tetapi juga suasana hatinya.
Sebenarnya, demam memang bisa membuat tubuh lemas, kepala sakit, otot terasa nyeri, dan tidur menjadi tidak nyaman. Hal-hal sederhana pun akan terasa lebih berat daripada biasanya. Jadi, tidak semua keluhan bisa dianggap berlebihan. Hanya saja, cara sebagian orang menggambarkan penderitaannya terkadang memang mengundang senyum.
Seolah-olah tubuh sedang mengadakan rapat darurat, lalu memutuskan bahwa seluruh aktivitas harus dihentikan sampai waktu yang tidak ditentukan.
Mendadak Ingin Dimengerti
Hal lain yang sering terasa ketika sedang sakit adalah keinginan untuk mendapatkan perhatian, bahkan untuk hal-hal kecil.
Biasanya, makan bisa mengambil makanan sendiri. Minum tinggal berjalan ke dapur. Kalau merasa lelah, tinggal beristirahat. Namun, ketika demam, segelas air yang diletakkan di samping tempat tidur terasa seperti bentuk kepedulian yang luar biasa.
Ada rasa nyaman ketika seseorang bertanya, "Sudah minum obat belum?" atau sekadar mengingatkan untuk makan. Pertanyaan yang mungkin terdengar biasa saja pada hari-hari sehat mendadak terasa lebih berarti.
Mungkin karena selama ini banyak orang terbiasa mengurus semuanya sendiri. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, ada tanggung jawab yang tidak bisa ditinggalkan, dan ada kebiasaan untuk tetap terlihat baik-baik saja meskipun badan sebenarnya sudah meminta istirahat.
Ketika sakit datang, semua itu seakan berhenti sebentar. Tidak ada yang perlu dikejar selain memulihkan kondisi tubuh.
Namun, tentu saja, tidak semua pria seperti ini. Ada yang memilih diam ketika sakit, ada yang tetap beraktivitas, dan ada pula yang baru menyadari pentingnya istirahat setelah tubuhnya benar-benar melemah.
Bukan Berarti Pria Selalu Lebih Manja
Istilah man flu sering digunakan untuk menggambarkan pria yang terlihat sangat menderita ketika terserang flu atau demam. Fenomena ini memang kerap menjadi bahan candaan, terutama ketika seseorang yang biasanya terlihat tangguh mendadak berubah menjadi penghuni tetap tempat tidur.
Namun, tidak ada alasan untuk menganggap semua pria pasti lebih manja atau mengalami gejala yang lebih berat daripada perempuan. Kondisi tubuh, penyebab penyakit, tingkat kelelahan, dan cara seseorang dalam mengekspresikan rasa tidak nyaman bisa berbeda-beda.
Barangkali, yang membuat fenomena ini terasa lucu bukan semata-mata karena pria mengeluh saat sakit, melainkan karena perbedaannya begitu terlihat. Orang yang biasanya santai mendadak sensitif. Orang yang biasanya banyak bicara mendadak malas menjawab. Bahkan, seseorang yang biasanya sulit disuruh tidur lebih awal justru bisa menghabiskan sebagian besar harinya di atas kasur.
Dan entah mengapa, saat demam, waktu terasa berjalan lebih lambat daripada biasanya.
Ternyata Tubuh Juga Punya Batas
Setelah dipikir-pikir, demam mengajarkan sesuatu yang sederhana. Selama tubuh masih sehat, kita sering merasa bisa melakukan apa saja. Kita menunda istirahat, mengabaikan rasa lelah, dan menganggap tubuh akan selalu mampu mengikuti keinginan.
Sampai akhirnya, tubuh sendiri yang meminta kita berhenti.
Mungkin itulah alasan mengapa demam terasa seperti akhir dunia. Bukan karena penyakit itu selalu menjadi sesuatu yang luar biasa, melainkan karena kita mendadak kehilangan kemampuan untuk menjalani berbagai hal-hal sederhana yang biasanya kita lakukan tanpa berpikir.
Pada akhirnya, tidak ada salahnya mengeluh ketika badan memang sedang tidak enak. Tidak ada salahnya meminta bantuan atau berharap seseorang sedikit lebih perhatian. Yang penting, jangan sampai keluhan menggantikan usaha untuk merawat diri sendiri.
Sebab, dunia sebenarnya tidak sedang berakhir. Pekerjaan masih menunggu, pesan di ponsel tetap berdatangan, dan kehidupan akan terus berjalan seperti biasa.
Hanya saja, untuk sementara waktu, semua hal itu bisa menunggu.
Hari itu, mungkin yang paling dibutuhkan bukan nasihat panjang tentang pentingnya menjaga kesehatan, melainkan tidur yang cukup, makanan hangat, obat sesuai kebutuhan, dan seseorang yang tidak keberatan bertanya sekali lagi, "Sudah agak enakan belum?"
Ternyata, ketika badan sedang tidak baik-baik saja, hal-hal sederhana seperti itu bisa terasa lebih berarti daripada yang pernah dibayangkan.
Dan ketika demam akhirnya reda, barulah semuanya yang telah terjadi terasa lucu. Betapa kemarin rasanya dunia hampir tamat, padahal yang sebenarnya dibutuhkan hanyalah waktu untuk pulih.

