Seni Kebablasan Main Game: Niatnya 15 Menit, Malah Berujung Berjam-jam?
Tulisan dari Racky Fitrio Yudestyama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Main hanya 15 menit saja, setelah itu lanjut tidur.”
Kalimat yang terdengar sederhana. Banyak gamer yang sering mengucapkannya namun alih – alih menepatinya kebanyakan mengingkarinya. Niat awalnya hanya ingin bermain sebentar melepas penat dan mengisi waktu sebentar setelah beraktivitas seharian tapi begitu melihat jam sudah lewat beberapa jam bahkan hari sudah berganti.
Fenomena ini bukan sekadar masalah disiplin atau kurangnya manajemen waktu. Ada berbagai faktor psikologis dan desain permainan yang membuat seseorang sulit berhenti ketika sudah mulai bermain.
Niatnya 15 Menit, Kenyataannya 3 Jam
Bayangkan seseorang pulang kerja atau selesai belajar. Ia merasa perlu istirahat sejenak dan memutuskan bermain game selama 15 menit.
Match pertama berjalan seru. Setelah selesai, muncul pikiran:
“Satu lagi saja.”
Match kedua berakhir dengan kekalahan tipis.
“Masa berhenti setelah kalah sih?”
Match ketiga dimulai demi membalas kekalahan. Lalu muncul tantangan harian, hadiah login, atau teman yang mengajak bermain bersama.
Tanpa disadari, malam sudah larut atau hari sudah berganti.
Situasi seperti ini umum terjadi di kalangan gamer karena otak manusia cenderung sulit melepaskan diri dari aktivitas yang memberikan kesenangan dan tantangan secara terus-menerus.
Mengapa Waktu Terasa Lebih Cepat Ketika Bermain Game?
Salah satu penyebab utama adalah kondisi yang dikenal sebagai flow state atau keadaan tenggelam dalam aktivitas.
Ketika seseorang sangat fokus pada permainan, hampir seluruh perhatiannya tertuju pada target, strategi, dan tantangan yang ada di dalam game. Karena terlalu menikmati permainan, banyak pemain tidak terlalu memperhatikan waktu yang terus berjalan. Akibatnya, mereka sering merasa baru bermain sebentar, padahal kenyataannya sudah menghabiskan waktu yang jauh lebih lama dari yang direncanakan.
Inilah alasan mengapa 15 menit terasa seperti 5 menit.
Desain Game Memang Dibuat Agar Sulit Ditinggalkan
Game modern tidak hanya menawarkan hiburan. Banyak di antaranya dirancang untuk mempertahankan keterlibatan pemain selama mungkin.
Beberapa contohnya:
• Sistem level yang terus meningkat.
• Hadiah harian dan misi harian.
• Ranking atau peringkat kompetitif.
• Notifikasi pencapaian.
• Hadiah setelah menyelesaikan target tertentu.
Setiap pencapaian kecil memberikan rasa puas dan mendorong pemain untuk melanjutkan permainan. Ketika satu target selesai, target berikutnya langsung muncul. Akibatnya, otak merasa masih ada sesuatu yang perlu diselesaikan hal ini yang membuat gamer sulit berhenti.
Efek “Balas Dendam Kekalahan”
Menariknya, kemenangan bukan satu-satunya alasan orang terus bermain.
Kekalahan juga bisa menjadi pemicu.
Banyak pemain sulit berhenti setelah kalah karena muncul dorongan untuk membuktikan bahwa mereka sebenarnya mampu menang. Mereka ingin menutup sesi permainan dengan hasil yang memuaskan.
Akibatnya, target awal bermain selama 15 menit berubah menjadi pencarian kemenangan yang tidak kunjung selesai.
Fenomena ini sering terlihat dalam game kompetitif seperti MOBA, battle royale, atau game olahraga daring.
Dopamin dan Sensasi “Satu Match Lagi”
Ketika bermain game, otak melepaskan dopamin, yaitu neurotransmiter yang berhubungan dengan perasaan senang dan penghargaan. Kenaikan dopamin membuat aktivitas bermain terasa menyenangkan dan memotivasi pemain untuk mengulang pengalaman tersebut.
Yang menarik, otak tidak hanya menyukai hadiah yang sudah didapat, tetapi juga kemungkinan mendapatkan hadiah berikutnya.
Karena itu muncul pikiran:
“Kalau main satu match lagi, mungkin hasilnya lebih bagus.”
Pikiran sederhana tersebut sering menjadi alasan mengapa sesi bermain terus bertambah panjang.
Bermain Bersama Teman Membuat Berhenti Semakin Sulit
Bermain sendirian saja sudah membuat waktu terasa cepat berlalu. Ketika bermain bersama teman, efeknya bisa lebih besar.
Ada rasa tanggung jawab terhadap tim, keinginan untuk menemani teman bermain, hingga percakapan yang membuat suasana semakin menyenangkan.
Akibatnya, keputusan untuk berhenti menjadi lebih sulit karena permainan tidak lagi sekadar game, tetapi juga aktivitas sosial.
Cara Menghindari Jebakan “15 Menit Jadi Berjam-Jam”
Beberapa hal sederhana yang dapat dilakukan:
1. Pasang alarm dan tentukan berapa lama ingin bermain.
2. Hindari kalimat “satu match lagi” tapi putuskan berapa match di awal permainan.
3. Selesaikan pekerjaan penting terlebih dahulu.
4. Matikan notifikasi game saat sedang fokus bekerja atau belajar.
5. Berhenti setelah jumlah match yang sudah ditentukan tercapai apapun hasilnya
Dengan cara tersebut, pemain tetap bisa menikmati game tanpa kehilangan kendali atas waktunya.
Penutup
Hampir semua gamer pernah mengalaminya. Niat awal hanya bermain 15 menit, tetapi tiba-tiba jam menunjukkan angka yang jauh lebih besar. Hal itu terjadi karena kombinasi antara fokus yang tinggi, desain game yang menarik, sistem penghargaan yang memuaskan, dan kecenderungan otak untuk terus mengejar pengalaman menyenangkan.
Jadi, ketika seseorang berkata, “Aku cuma main sebentar kok,” para gamer lain biasanya tahu bahwa kalimat itu sering kali hanyalah awal dari perjalanan beberapa jam berikutnya.

