Konten dari Pengguna

Ambidextrous Leadership sebagai Penggerak Reformasi Birokrasi

Ilustrasi Ambidextrous Leadership. Dok. Buatan AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ambidextrous Leadership. Dok. Buatan AI.

Reformasi birokrasi sudah di canangkan sejak tahun 2004 melalui prinsip Clean Government and Good Governance harapannya dengan reformasi birokrasi ini menghasilkan birokrasi yang efisien, akuntabel, transparan dan berorientasi pada pelayanan. Yang menjadi fokus utama dalam reformasi birokrasi ialah reformasi SDM Aparatur seperti sistem merit, seleksi terbuka pejabat, sistem penilaian kinerja aparatur lewat lahirnya UU ASN. Di mana kebijakan ini mengamanatkan SDM ASN berdasarkan asas profesionalisme, proporsional, akuntabel serta efektif dan efisien agar peningkatan kinerja birokrasi dapat tercapai. Sehingga diharapkan dengan adanya reformasi SDM Aparatur ini menghasilkan aparatur yang unggul, berkualitas, bebas dari intervensi politik dan berdaya saing (Taufik, 2020). Dalam pernyataan dari Kemenpan RB juga memberikan sorotan di mana masih lemahnya komitmen kepemimpinan di berbagai instansi dalam mendorong budaya invoasi dalam pelayanan publik yang responsif. Oleh karena itu Reformasi Birokrasi menuntut para birokrat (ASN) agar mampu melakukan tindakan perubahan di tubuh birokrasi itu sendiri.

Belum optimalnya birokrasi disebabkan ketidakmampuan ASN dalam menciptakan ide perubahan dan menerapkan secara terstruktur sehingga perlu adanya perubahan secara terstruktur dalam penerapan reformasi birokrasi. Dalam konteks tersebut penulis akan membahas mengenai konsep Ambidextrous leadership, Ambidextrous leadership merupakan konsep dari pemimpin yang mampu membuka peluang inovasi terhadap organisasi juga membatasi untuk mengurangi variasi dan tidak melewati jalur untuk ketujuan. Artinya pemimpin ambidextrous mendorong karyawan agar mampu bereksplorasi juga dengan menetapkan batasan dalam implementasian ide sehingga kinerja dapat optimal. (Xi et al., 2025)

Kepemimpinan model ini menurut penulis merupakan model yang tepat diterapkan di kondisi saat ini di mana reformasi birokrasi sedang digencarkan dan pemimpin harus beradaptasi dengan kondisi itu. Hambatan pada birokrasi seringkali bukan pada kebijakan tetapi pada gaya kepemimpinan, penelitian menunjukkan bahwa pemimpin birokrasi seringkali terjebak pada rutinitas administratif sehingga sulit menciptakan inovasi dan menerapkan inovasi. (Hal G. Rainey, 2021). Penelitian ini menggunakan pendekatan Systematic literature review (SLR) dengan pedoman PRISMA. Dengan pencarian sebagai base data sebanyak 3.001 artikel teridentifikasi, 399 artikel setelah melakukan eliminasi dan 32 artikel setelah proses penyaringan dan peniliaian yang memenuhi kriteria menggunakan Scopus.

Fokus penelitian ini menjelaskan bahwa ambidextrous leadership memiliki kontribusi pada kinerja organisasi. Ambidextrous leadership sudah menjadi salah satu konsep kepemimpinan yang sudah diterapkan dalam berbagai organisasi, baik dalam organisasi pemerintahan, swasta hingga sosial. Dalam organisasi swasta ambidextrous leadership memiliki pengaruh terhadap kinerja proyek berbasis keberlanjutan hal ini dijelaskan bahwa ambidextrous leadership menghasilkan budaya ambidextrous (Zheng et al., 2017) Budaya ambidextrous juga dalam penelitiannya Ouyang C dkk menumbuhkan demokratis (menyuarakan pendapat) dalam sebuah organisasi (Ouyang et al., 2022). Dalam kemajuan organisasi juga tidak hanya menciptakan budaya ambidextrous, juga mengintegrasikan prinsip kewirausahaan dengan tujuan sosial seperti keberlanjutan, dampak komunitas/masyarakat dsb di mana perusahan selain mengejar keuntungan juga mengatasi masalah sosial. Sehingga ambidextrous leadership sebagai mesin pendorong untuk menciptakan sistem dengan prinsip kewirausahaan dalam mengatasi sosial sehingga dapat mencapai target organisasi (Martínez-Climent et al., 2019).

Pertumbuhan ekonomi juga dapat dipengaruhi oleh kemampuan pemimpin, dalam ekonomi kerakyatannya Indonesia bahwa menumbuhkan ekonomi lewat usaha kecil menengah, dalam penelitiannya Isichei bahwa Ambidextrous leadership memiliki pengaruh positif terhadap kinerja ekspor usaha kecil menengah di nigeria. (Isichei et al., 2022). Banyak studi menunjukkan perilaku eksploratif dari pemimpin membangkitkan ide dan kreativitas. Dalam suatu studi penelitian yang dilakukan dengan memvalidasi efek ambidextrous leadership terhadap dua proses inovasi yakni penciptaan ide dan implementasi ide dengan hasil ambidextrous leadership mendukung nilai adaptif dalam dua proses inovasi (Xi et al., 2025). Seperti halnya kinerja juga ambidextrous leadership juga harus disupport salah satunya ialah dengan kecerdasan emosional. Dalam penelitiannya hafeez dkk bahwa kecerdasan emosional memediasi hubungan positif antara ambidextrous leadership dan kebiasaan inovasi di lingkungan kerja bahkan beberapa penelitian dengan objek yang sama tapi dengan lokus berbeda seperti di militer, IT bahkan pendidikan. (Akıncı et al., 2022; Dinesh Babu et al., 2024; Hafeez et al., 2019; Kebede et al., 2024).

Hasil tinjauan terhadap 32 artikel jurnal menampilkan bahwa ambidextrous leadership sangat mempengaruhi inovasi pada organisasi maupun pada pegawai. Konsep ambidextrous leadership ini mengedepankan dua perilaku yakni eksplorasi (terbuka) dan eksploitasi (tertutup), yang secara faktual terbukti menstimulasi munculnya ide dan implementasi ide pada organisasi. Dalam artikel yang di tinjau juga menunjukkan bahwa ambidextrous leadership berkorelasi positif terhadap budaya inovasi, kualitas layanan, efektivitas organisasi dan hasil kinerja lain, terutama jika di support dengan kejelasan tujuan, iklim pada organisasi, kecerdasan mental dan tata kelola organisasi.

Sintesis penelitian juga memperhatikan kepengikutan dan faktor lainnya seperti kecerdasan mental, kondisi psikologi dan budaya organisasi memiliki peran penting dalam memperkuat dampak dari ambidextrous leadership, pada intinya ambidextrous leadership jika ingin lebih efektif juga didukung dengan faktor lain. Dalam konteks Reformasi birokrasi, reformasi birokrasi tidak hanya mengandalkan perubahan birokrasi atau sistemnya tetapi juga memerlukan pemimpin yang mampu menahkodai kestabilan birokrasi dan membuka ruang inovasi secara terbuka. Penerapan pada ambidextrus leadership dapat mempercepat transformasi reformasi birokrasi yang professional, akuntabel, transparan dan berorientasi pada hasil.

Pada intinya ambidextrous leadership memiliki peran yang signifikan terhadap transformasi reformasi birokrasi yang ada di Indonesia. Khusus dalam memperkuat inovasi dan meningkatkan kinerja pada organisasi.