Bebas Atur Waktu, Tetap Cuan : Mengapa Freelance Diminati Generasi Muda

Mahasiswa S1 Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang. Saya tertarik pada bidang penulisan dan pengembangan tulisan serta pembuatan Laporan Keuangan.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Raden Muhamad RA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Generasi Z, kelompok yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, kini menjadi perhatian dalam dunia ketenagakerjaan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2023, dari total angkatan kerja Indonesia yang berjumlah 147,71 juta orang, sebanyak 28,5 persen di antaranya berasal dari kelompok usia 15-24 tahun, yang mayoritas adalah Gen Z.
Bagi sebagian anak muda, bekerja tidak lagi harus berarti datang ke kantor setiap pagi, duduk didepan meja selama 8 jam, lalu pulang sore. Perkembangan teknologi membuat pilihan bekerja menjadi semakin beragam. Salah satunya adalah freelance, pekerjaan berbasis proyek yang memungkinkan seseorang bekerja secara fleksibel.
Banyak generasi muda dari Gen Z kini lebih tertarik menjalani karier sebagai freelancer dibanding bekerja secara tradisional di kantor. Fenomena ini terjadi di berbagai belahan dunia dan semakin terlihat seiring berkembangnya pola kerja digital serta teknologi yang mendukung mobilitas.
Tren tersebut tidak muncul tanpa sebab, melainkan didorong oleh sejumlah alasan fundamental yang berkaitan dengan gaya hidup, fleksibilitas, hingga preferensi dalam mengelola waktu dan karier.
Fleksibilitas Menjadi Daya Tarik Utama
Salah satu alasan utama Gen Z menyukai freelance adalah fleksibilitas waktu. Banyak anak muda ingin memiliki kebebasan untuk mengatur jadwal kerja sendiri tanpa harus selalu bekerja dari pagi hingga sore di kantor. Dengan sistem freelance, seseorang bisa bekerja dari rumah, coffee shop, atau tempat lain yang dianggap nyaman.
Berdasarkan artikel BPS Kabupaten Bandung berjudul "Gen Z lebih memilih menjadi freelance", beberapa alasan Gen Z memilih freelance antara lain waktu yang lebih fleksibel, pekerjaan yang sesuai dengan passion, work-life balance, serta kesempatan menawarkan jasa hingga pasar global.
Fleksibilitas tersebut menjadi semakin menarik bagi generasi muda yang ingin memiliki kendali lebih besar terhadap keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Tidak mengherankan jika pekerjaan seperti desain grafis, penulisan, fotografi, videografi, penerjemahan, hingga pembuatan konten mulai menjadi pilihan karier yang cukup menarik.
Work-Life Balance Menjadi Pertimbangan
Gen Z juga dikenal sebagai generasi yang lebih memperhatikan work-life balance. Banyak dari mereka tidak hanya mengejar gaji, tetapi juga kenyamanan dan kebebasan dalam bekerja. Freelance dianggap memberikan kesempatan untuk tetap produktif sambil memiliki waktu untuk diri sendiri, keluarga, atau menjalani hobi.
Kehidupan pribadi tidak hanya berarti waktu bersama keluarga. Di dalamnya juga terdapat waktu untuk beristirahat, bersosialisasi, menjalankan hobi, belajar, hingga menjaga kesehatan diri.
Dalam pekerjaan yang memiliki jam kerja tetap, seseorang terkadang harus menyesuaikan aktivitas pribadinya dengan jadwal pekerjaan. Sementara itu, freelance memberikan ruang yang lebih besar untuk melakukan penyesuaian tersebut.
Bagi generasi muda yang ingin memiliki lebih banyak kendali terhadap kehidupannya, fleksibilitas tersebut dapat menjadi nilai tambah.
Fleksibel, tetapi Tetap Harus Disiplin
Salah satu kesalahpahaman mengenai freelance adalah anggapan bahwa pekerjaan ini berarti bebas bekerja kapan saja tanpa aturan.
Pada kenyataannya, freelancer tetap memiliki deadline dan tuntutan dari klien. Bahkan, karena tidak memiliki atasan yang selalu mengawasi, seorang freelancer harus memiliki disiplin diri yang lebih kuat.
Kebebasan menentukan waktu kerja justru dapat menjadi masalah jika tidak diikuti kemampuan mengatur waktu. Pekerjaan yang seharusnya dapat diselesaikan dalam beberapa jam bisa tertunda karena tidak adanya jadwal kerja yang jelas.
Karena itu, kemampuan mengatur waktu menjadi salah satu modal penting bagi freelancer. Fleksibilitas akan memberikan keuntungan jika digunakan dengan baik, tetapi dapat menjadi masalah jika tidak disertai tanggung jawab.Salah satu kesalahpahaman mengenai freelance adalah anggapan bahwa pekerjaan ini berarti bebas bekerja kapan saja tanpa aturan.
Pada kenyataannya, freelancer tetap memiliki deadline dan tuntutan dari klien. Bahkan, karena tidak memiliki atasan yang selalu mengawasi, seorang freelancer harus memiliki disiplin diri yang lebih kuat.
Kebebasan menentukan waktu kerja justru dapat menjadi masalah jika tidak diikuti kemampuan mengatur waktu. Pekerjaan yang seharusnya dapat diselesaikan dalam beberapa jam bisa tertunda karena tidak adanya jadwal kerja yang jelas.
Karena itu, kemampuan mengatur waktu menjadi salah satu modal penting bagi freelancer. Fleksibilitas akan memberikan keuntungan jika digunakan dengan baik, tetapi dapat menjadi masalah jika tidak disertai tanggung jawab.
Teknologi Membuat Jarak Bukan Lagi Masalah
Dulu, mencari pekerjaan berarti mencari perusahaan yang berada di sekitar tempat tinggal. Kini, perkembangan teknologi membuat batas tersebut semakin kabur.
Freelancer dapat mencari klien melalui platform digital, media sosial, maupun jaringan pribadi. Komunikasi dan proses pengerjaan proyek juga dapat dilakukan secara online.
ANTARA dalam artikelnya mengenai ketertarikan Gen Z terhadap freelance menjelaskan bahwa kemampuan digital menjadi salah satu faktor yang mendukung perubahan pola kerja tersebut.
Bagi generasi yang terbiasa menggunakan internet dan media sosial, menawarkan jasa secara digital bukan sesuatu yang terlalu sulit. Portofolio bahkan dapat dibuat melalui akun media sosial atau platform khusus untuk menampilkan hasil pekerjaan.
Hal ini juga membuka kemungkinan mendapatkan klien dari luar daerah bahkan luar negeri.
Tapi, Benarkah Freelance Selalu "CUAN"?
Di balik fleksibilitasnya, freelance memiliki sisi lain yang perlu dipertimbangkan.
Kata “cuan” dalam pekerjaan freelance tidak selalu berarti penghasilan yang besar dan stabil. Jumlah pendapatan seorang freelancer dapat berubah-ubah tergantung pada jumlah proyek, jenis pekerjaan, tarif, dan klien yang diperoleh.
Ketika proyek sedang banyak, penghasilan mungkin meningkat. Namun, ketika tidak ada proyek, freelancer harus siap menghadapi periode dengan pemasukan yang lebih sedikit.
Seorang freelancer juga harus mengurus berbagai hal yang biasanya ditangani perusahaan. Mulai dari mencari klien, melakukan negosiasi harga, membuat kesepakatan, mengatur waktu, hingga memastikan pembayaran diterima.
Dengan kata lain, kebebasan dalam freelance memiliki harga yang harus dibayar: kemandirian dan tanggung jawab yang lebih besar.
Freelance dan Perubahan Cara Generasi Muda Melihat Karier
Meningkatnya minat terhadap freelance menunjukkan bahwa pekerjaan tidak lagi hanya dilihat dari status sebagai karyawan tetap.
Generasi muda mulai mempertimbangkan hal lain seperti fleksibilitas, kesempatan mengembangkan kemampuan, keseimbangan kehidupan dan pekerjaan, serta peluang mendapatkan penghasilan tambahan.
Hal ini bukan berarti pekerjaan kantoran sudah tidak menarik. Pekerjaan tetap masih menawarkan berbagai keuntungan, seperti pendapatan yang lebih stabil dan perlindungan kerja yang lebih jelas.
Freelance hanya menjadi salah satu alternatif yang dapat dipilih sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing orang.
Pada akhirnya, tidak ada pilihan kerja yang sepenuhnya sempurna. Pekerjaan kantoran memiliki keterikatan dan aturan, sedangkan freelance memberikan kebebasan tetapi juga ketidakpastian.
Bagi generasi muda yang memiliki keterampilan digital dan menginginkan fleksibilitas, freelance dapat menjadi pilihan yang menarik. Namun, kebebasan tersebut harus diimbangi dengan kemampuan mengatur waktu, keuangan, dan hubungan dengan klien.
Freelance memang memberikan kesempatan untuk bebas mengatur waktu. Tetapi agar benar-benar “tetap cuan”, seseorang tidak cukup hanya memiliki skill. Ia juga membutuhkan disiplin, kemampuan mencari peluang, dan kesiapan menghadapi ketidakpastian.
