Konten dari Pengguna

Tes Kemampuan Akademik Vs Deep Learning : Ke Mana Arah Pendidikan Kita?

Dr Raden Muhammad Ali, SS, M Pd

Dr Raden Muhammad Ali, SS, M Pd

Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Ahmad Dahlan, Peneliti Evaluasi Pendidikan dan Pembelajaran

ยทwaktu baca 5 menit

comment
17
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Dr Raden Muhammad Ali, SS, M Pd tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tes Kemampuan Akademik (TKA) kini menjadi salah satu instrumen penting dalam sistem evaluasi pendidikan Indonesia. Pada saat yang sama, dalam beberapa tahun terakhir arah kebijakan pendidikan nasional juga bergerak menuju paradigma baru melalui Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran lebih bermakna dan berpusat pada peserta didik. Seiring dengan itu, wacana tentang deep learning dalam pendidikan semakin menguat, yakni pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman konsep secara mendalam, keterkaitan pengetahuan dengan kehidupan nyata, serta pengembangan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan refleksi belajar. Namun, di tengah dorongan menuju pembelajaran yang lebih mendalam tersebut, pemerintah juga memperkuat peran Tes Kemampuan Akademik (TKA) sebagai alat ukur capaian belajar siswa secara terstandar. Kehadiran TKA tentu memiliki tujuan penting, yakni menyediakan ukuran yang relatif objektif terhadap kemampuan akademik siswa. Akan tetapi, kondisi ini memunculkan pertanyaan mendasar: apakah arah pembelajaran yang didorong oleh kurikulum sudah benar-benar selaras dengan cara kita menilai hasil belajar siswa?

Pertanyaan tersebut terasa semakin nyata ketika saya berdiskusi dengan para guru dalam beberapa kegiatan lapangan. Dalam bimbingan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG), saya sempat berbincang dengan beberapa guru mengenai kurikulum yang sedang diterapkan di sekolah. Pembicaraan kemudian mengarah pada bagaimana mereka menyikapi kebijakan TKA. Salah seorang guru menjawab dengan cukup lugas bahwa sekolah, mau tidak mau, harus mempersiapkan siswa menghadapi TKA. Di tingkat sekolah dasar, menurutnya, persiapan itu kemungkinan dimulai sejak awal kelas enam. Bahkan tidak menutup kemungkinan beberapa sekolah akan mengurangi sebagian jam pelajaran yang dianggap kurang berkontribusi terhadap keberhasilan siswa dalam tes tersebut.

Pandangan serupa kembali saya temui dalam sebuah rapat daring yang membahas persiapan mahasiswa calon guru menghadapi ujian sekolah berbasis TKA. Salah satu guru yang diundang sebagai narasumber menyampaikan bahwa ketika sebuah tes nasional menjadi indikator penting dalam sistem pendidikan, sekolah secara alamiah akan menyesuaikan strategi pembelajarannya. Guru akan memastikan siswa siap menghadapi bentuk evaluasi yang akan mereka temui.

Dua percakapan tersebut sebenarnya menggambarkan sesuatu yang logis. Sekolah tidak sedang melakukan sesuatu yang keliru. Mereka hanya berusaha menyesuaikan diri dengan sistem yang ada. Jika sebuah tes dianggap penting, maka wajar jika sekolah memberi perhatian lebih pada hal-hal yang berkaitan dengan tes tersebut. Namun dari sinilah muncul kegelisahan lain: bagaimana masa depan gagasan pembelajaran mendalam (deep learning) jika orientasi evaluasi kembali menekankan pengukuran akademik melalui tes?

Siswa sekolah dasar terlibat dalam aktivitas pembelajaran yang interaktif dan kolaboratif. Model pembelajaran seperti ini mencerminkan pendekatan deep learning yang menekankan pengalaman belajar bermakna, bukan sekadar hasil tes.Kredit foto:Foto: Unsplash / Husniati Salma

Ketegangan antara Deep Learning dan Tes Kemampuan Akademik

Dalam paradigma deep learning, pembelajaran tidak lagi sekadar mengejar penguasaan materi. Siswa diharapkan memahami konsep secara lebih mendalam, mampu mengaitkan pengetahuan dengan realitas kehidupan, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi. Kelas tidak hanya menjadi ruang mendengar penjelasan guru, tetapi juga ruang dialog, eksplorasi gagasan, kerja sama, dan refleksi belajar. Di sisi lain, TKA merupakan instrumen evaluasi yang dirancang untuk mengukur kemampuan akademik siswa secara terstandar, terutama pada aspek literasi dan numerasi. Sebagai alat pemetaan mutu pendidikan secara nasional, pendekatan ini tentu memiliki peran penting karena pemerintah memerlukan data yang relatif objektif untuk melihat capaian belajar siswa di berbagai daerah.

Penguatan pengukuran kemampuan akademik juga sering dikaitkan dengan capaian siswa Indonesia dalam studi internasional seperti Programme for International Student Assessment (PISA). Dalam beberapa siklus terakhir, skor literasi dan numerasi siswa Indonesia memang belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Kondisi ini memunculkan dorongan untuk memperkuat pengukuran kemampuan dasar siswa.

Namun pertanyaannya, apakah peningkatan kualitas belajar cukup dicapai melalui penguatan sistem pengujian? Ataukah justru memerlukan perubahan yang lebih mendasar dalam proses pembelajaran di kelas? Di sinilah muncul ketegangan yang menarik dalam sistem pendidikan kita. Sekolah didorong untuk mengembangkan pembelajaran yang kreatif, kolaboratif, dan bermakna. Guru diminta merancang proyek pembelajaran, diskusi kelompok, dan berbagai aktivitas yang mendorong pemahaman mendalam. Tetapi pada saat yang sama, keberhasilan belajar tetap sangat dipengaruhi oleh kemampuan siswa menjawab soal-soal tes akademik.

Ketika Tes Menentukan Arah Pembelajaran

Dalam praktik pendidikan terdapat ungkapan yang cukup terkenal: what gets tested gets taught. Apa yang diuji, itulah yang pada akhirnya akan diajarkan. Jika tes akademik menjadi indikator utama keberhasilan pendidikan, maka secara perlahan sekolah akan menyesuaikan pembelajaran dengan logika tersebut. Guru akan memberikan lebih banyak latihan soal, sementara aktivitas pembelajaran yang tidak berkaitan langsung dengan tes berpotensi tersisihkan. Pengalaman masa lalu memberikan pelajaran yang cukup jelas. Ketika Ujian Nasional pernah menjadi tolok ukur utama keberhasilan pendidikan, tidak sedikit sekolah yang akhirnya terjebak dalam budaya drilling soal. Waktu belajar di kelas banyak tersita untuk latihan menghadapi ujian.

Mencari Jalan Tengah dalam Evaluasi Pendidikan

Dalam kajian evaluasi pendidikan dikenal prinsip alignment, yaitu keselarasan antara tujuan pendidikan, proses pembelajaran, dan sistem evaluasi. Kurikulum menentukan arah yang ingin dicapai, pembelajaran menjadi proses untuk mencapai tujuan tersebut, sedangkan evaluasi memastikan apakah tujuan itu benar-benar tercapai. Jika ketiganya berjalan dalam arah yang berbeda, maka sistem pendidikan berpotensi kehilangan koherensinya. Karena itu, perdebatan tentang Tes Kemampuan Akademik seharusnya tidak sekadar dipahami sebagai setuju atau menolak tes nasional. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa sistem evaluasi benar-benar mencerminkan tujuan pendidikan yang ingin kita bangun. Tes akademik tetap memiliki tempat dalam sistem pendidikan, terutama untuk memetakan kemampuan dasar siswa secara nasional. Namun evaluasi pendidikan tidak seharusnya hanya bertumpu pada satu jenis tes. Penilaian dapat diperkaya melalui berbagai pendekatan lain seperti proyek, portofolio, presentasi, refleksi belajar, serta bentuk penilaian autentik yang mampu menggambarkan kemampuan siswa secara lebih komprehensif. Dengan cara ini, evaluasi tidak hanya menjadi alat pengukuran, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran itu sendiri.

Jika pembelajaran diarahkan pada pemahaman yang lebih mendalam, maka cara kita menilai pun seharusnya bergerak dalam arah yang sama. Pendidikan tidak hanya perlu mengukur apa yang mudah diukur, tetapi juga berusaha menilai apa yang benar-benar penting bagi masa depan peserta didik. Pertanyaannya kini sederhana namun mendasar: apakah sistem pendidikan kita akan berjalan dalam satu arah yang selaras, atau justru bergerak dalam dua jalur yang berbeda? Jawaban atas pertanyaan itulah yang pada akhirnya akan menentukan ke mana arah pendidikan kita benar-benar menuju.