Konten dari Pengguna

Bisakah Kita Menghilangkan Kebencian dari Sepak Bola?

Raden Muhammad Wisnu Permana

Raden Muhammad Wisnu Permana

Akun resmi Raden Muhammad Wisnu Permana. Akun ini dikelola oleh beberapa admin. Silakan follow akun Twitternya di @wisnu93 dan akun Instagramnya di @Rwisnu93

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Raden Muhammad Wisnu Permana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi fans sepak bola (Unsplash-@yer_a_wizard)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi fans sepak bola (Unsplash-@yer_a_wizard)

“Katanya sepak bola adalah olahraga pemersatu. Tapi kenapa semakin ke sini, makin terasa kalau justru sepak bola adalah olahraga paling memecah-belah?”

Itu pertanyaan yang belakangan sering saya pikirkan, terutama ketika melihat betapa kejamnya komentar-komentar fans sepak bola di media sosial.

Pemain yang gagal penalti dihina, pelatih yang gagal bawa gelar juara dimaki, bahkan sesama fans pun bisa saling menghujat dan bertengkar hanya karena perbedaan warna jersey.Padahal ini hanya olahraga. Tapi kenapa kebenciannya bisa seperti perang agama?

Belajar dari fans cabang olahraga lain

33 tahun yang lalu, pada ajang Olimpiade Barcelona 1992, Derek Redmond, sprinter Inggris gagal meraih gelar juara karena tiba-tiba ototnya cedera sampai harus dibopong ke garis finish oleh ayahnya. Alih-alih dicemooh oleh penonton, ia malah dapat standing ovation meski gagal total.

Gak usah jauh-jauh 33 tahun yang lalu. Tiga tahun lalu, saat ajang SEA Games 2023, Bou Samnang finish lari lima kilometer dengan selisih waktu enam menit dari pelari paling cepat. Ia berusaha menyelesaikan apa yang ia mulai di tengah hujan deras dan sakit yang dideritanya demi negaranya. Lagi-lagi, alih-alih dicemooh, ia dapat standing ovation dari penonton.

Dua peristiwa di atas bisa kalian lihat sendiri videonya.

Steven Gerrard Saat Kepeleset (Foto: Getty Images/Clive Brunskill)

Bandingkan dengan sepak bola. Saat John Terry dan Steven Gerrard kepeleset pada momen krusial, mereka jadi bahan olok-olokan fans sepak bola selama bertahun-tahun. Padahal, jasa John Terry dan Stevie untuk Chelsea dan Liverpool ini kurang banyak apa? Tapi yang diingat hanya satu peristiwa ini saja

Contoh lain, saat Lionel Messi berhasil meraih predikat juara Piala Dunia bersama Argentina, tidak terhitung lagi berapa banyak fans sepak bola yang mencibir Cristiano Ronaldo hanya karena ia belum berhasil (atau bahkan sampai pensiun tidak akan berhasil) membawa Portugal juara Piala Dunia. Jangankan itu, saat Cristiano gagal mengeseksekusi tendangan penalti, baik untuk Manchester United, Real Madrid, Juventus, Al Nassr, maupun timnas Portugal, ia pun langsung dihujat. Ada apa sebenarnya?

Gak cukup dengan hujatan pada pemain atau pelatih saja. Fans sepak bola pun banyak yang menghujat sesama suporter sepak bola. Di Inggris, hanya karena seseorang itu fans Liverpool, bisa saja dicemooh atau bahkan dipukuli fans Manchester United. Dalam skala lokal, hanya karena seseorang itu fans Persija Jakarta, bisa saja ia dicemooh bahkan dipukuli fans Persib Bandung. Bahkan tidak sedikit dari hal yang saya sebutkan tersebut berakhir dengan hilangnya nyawa seseorang.

Meanwhile, dalam binaraga yang sarat akan subjektivitas, fansnya bisa bersikap lebih dewasa dewasa. Fans Arnold Schwarzenegger gak ada yang mukulin fans Mike Mentzer saat Arnold dianggap kontroversi tidak adil atas Mike Mentzer pada ajang Mr. Olympia. Gak ada yang bakar gym, gak ada yang nyerang Arnold di jalan. Bayangkan ika kejadian ini terjadi di sepak bola. Pasti terjadi riot antar fansnya.

Fans olahraga yang gak pernah olahraga

Ada perbeadaan mencolok antara fans sepak bola dan fans binaraga. Hanya sedikit dari fans sepak bola yang aktif berolahraga setiap harinya. Berbanding terbalik dari fans binaraga. Meski seorang fans binaraga tubuhnya gak seatletis Chris Bumstead, banyak dari fans binaraga yang at least rutin berolahraga di gym.

Mereka (fans sepak bola) banyak yang sekadar jogging santai satu kilometer saja sudah ngos-ngosan. Push up lima repetisi saja tangan gemetar. Tapi, mereka merasa lebih tahu soal sepak bola dibanding pemain sepak bola profesional yang sudah berlatih hampir setiap hari selama 20 tahun, atau dari pelatih sepak bola profesional yang sudah lulus sertifikasi yang belajar ilmu psikologi olahraga, nutrisi, maupun ilmu olahraga lainnya selama bertahun-tahun.

Jujur saja, jadi atlet itu susah. Saya sudah mengalaminya sendiri. Saat duduk di bangku sekolah dan kuliah, saya aktif sebagai atlet cabang olahraga karate. Saban subuh, sebelum sekolah atau kuliah, saya berlatih fisik, sekadar lari selama setengah jam sebelum bersiap-siap berangkat sekolah. Sepulang sekolah, saya kembali latihan di sore maupun malam hari.

Apakah saya berhasil juara? Tentu saja tidak. Meski berdarah-darah setiap hari, melawan rasa malas, rasa kantuk, cedera di sana-sini, dan berkorban banyak tenaga dan biaya, kejuaraan setingkat Kota Bandung atau Jawa Barat saja saya tidak pernah menang. Hingga saat ini, saya bahkan masih berlatih, meski ya tujuannya hanya untuk urusan estetika dan kesehatan saja, dan itu pun sangat sulit!

Dan saya tahu saya bukan satu-satunya. Di luar sana, banyak atlet yang latihan lebih keras dari Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi. Tapi tetap saja, sampai pensiun tidak berhasil meraih satupun gelar juara. Bukan karena mereka lemah tapi karena olahraga, apalagi kompetisi, memang seberat itu.

Dengan logika yang sama, berarti seseorang hanya bisa mengkritik Presiden jika ia pernah jadi Presiden dong? Mengkritik PResiden itu gak harus jadi presiden dulu”, ucap salah satu teman kuliah saya.

Memang betul. Saya tidak melarang fans sepak bola untuk mengkritik atlet kelas dunia macam Cristiano Ronaldo maupun pelatih kelas dunia macam Jose Mourinho. Tapi tidak bisakah kita belajar dari fans olahraga lain? Untuk menghargai usaha, bukan hanya melihat pada hasil. Untuk mendukung, bukan mencaci. At the end of the day, sepak bola hanyalah sebuah permainan 2 x 45 menit, akan ada mereka yang menang dan kalah. Sepak bola harusnya menyatukan, bukan memecah belah.

Renungan

Ada masa ketika saya percaya bahwa sepak bola menyatukan semua pihak. Peristiwa-pertistwa haru seperti saat Christian Eriksen kolaps di lapangan maupun saat suporter timnas Jepang yang memunguti sampah meskipun timnasnya kalah. Tapi semakin ke sini, saya jadi semakin bertanya-tanya, “Apakah kita benar-benar menyukai sepak bola? Atau kita hanya menikmati kesempatan pelampiasan untuk membenci pihak lain?”

Dalam cabang olahraga lain, kegagalan bukanlah aib. Kegagalan adalah bagian dari proses perjalanan hidup seorang atlet. Tapi di sepak bola, kegagalan dianggap aib, dijadikan bahan tertawaan selama bertahun-tahun.

Banyak pelari maraton elite dunia yang gagal finis (DNF) dalam perlombaan penting, tapi mereka tetap diapresiasi karena sudah berusaha keras hingga batas kemampuan. Mereka dihormati atas perjuangannya, bukan dihina.

Sementara itu, di sepak bola, kegagalan seperti gagal eksekusi penalti atau pelatih yang tidak mampu membawa tim juara sering kali jadi bahan tertawaan, bullying, bahkan pelecehan. Bukan kritik sehat lagi, tapi sudah melewati batas jadi penghinaan yang menjatuhkan martabat.

Kritik adalah hal yang wajar. Kita semua pernah merasa kecewa saat tim kesayangan bermain jelek. Tapi ada perbedaan jelas antara kritik dan menghina. Dan banyak fans sepak bola hari ini tampaknya tak tahu di mana batas itu berada.

Memang, sepak bola beda dengan cabang olahraga lain, apalagi cabang olahraga individu karena sepak bola mewakili identitas dan budaya suatu kelompok. Mereka bahkan berani bertaruh nyawa untuk membela hal tersebut. Tapi kalau terus memaknai sepak bola seperti itu, kapan kebencian ini akan hilang?

Kebencian ini akan terus-terusan dipupuk dan diturunkan dari generasi ke generasi sampai Hari Akhir nanti. Atau jangan-jangan, kita memang tidak benar-benar mencintai sepak bola? Kita hanya cari alasan agar bisa membenci pihak lain atas nama sepak bola?