Konten dari Pengguna

Cobra Kai: Suksesor Sempurna The Karate Kid

Raden Muhammad Wisnu Permana

Raden Muhammad Wisnu Permana

Akun resmi Raden Muhammad Wisnu Permana. Akun ini dikelola oleh beberapa admin. Silakan follow akun Twitternya di @wisnu93 dan akun Instagramnya di @Rwisnu93

clock
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Raden Muhammad Wisnu Permana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Cobra Kai: Suksesor Sempurna The Karate Kid
zoom-in-whitePerbesar

Konfli LaRusso dan Lawrence setelah 34 tahun Terpisah

The Karate Kid (1984) diawali dengan kepindahan seorang anak remaja bernama Daniel LaRusso dan ibunya dari New Jersey ke Reseda, Los Angeles. Mereka pindah ke kawasan hunian warga kelas dua di Los Angeles. Di tempat ini, ia kebetulan bertemu dengan Miyagi, pria paruh baya asal Okinawa, Jepang, yang bertugas menjaga apartemen tempat tinggal LaRusso dan ibunya.

Seperti kisah klasik Hollywood pada umumnya, di sekolah, LaRusso, dibully oleh Johnny Lawrence. Ia seorang karateka yang tergabung dalam dojo karate Cobra Kai yang memiliki moto strike first, strike hard, no mercy. LaRusso dihajar habis-habisan oleh Johnny dan teman-temannya hingga kemudian seorang pria paruh baya bernama Miyagi membantunya. Ia karateka yang handal, yang kemudian mengajarkan ilmunya pada LaRusso. Tak cukup sampai di sana, Miyagi menjadi sosok pengganti seorang ayah pada LaRusso yang diceritakan sudah tak memiliki ayah.

Cobra Kai: Suksesor Sempurna The Karate Kid (1)
zoom-in-whitePerbesar

LaRusso dan Mr. Miyagi

Secara klimaks, film ini diakhiri dengan indah saat LaRusso dan Johnny berhadapan di final Turnamen All-Valley Karate U-18. Momen saat LaRusso memasang kuda-kuda burung bangau dan meluncurkan tendangan depan (mae-geri) ke wajah Johnny, sekaligus menjadi salah satu momen historis terkeren dalam sejarah film dan memepngaruhi banyak anak muda untuk belajar karate, termasuk saya sendiri hingga saat ini.

Cobra Kai: Suksesor Sempurna The Karate Kid (2)
zoom-in-whitePerbesar

Final Turnamen All-Valley Karate U-18 antara LaRusso dan Lawrenc

Bagi banyak remaja 80-an dan 90-an, film Karate Kid bukan sekadar film belaka. The Karate Kid adalah sebuah masterpiece, sebuah karya agung. Karakter LaRusso yang diperankan oleh Ralph Macchio jelas begitu dekat dengan anak muda. Dibully, tidak memiliki teman, dihajar disekolah, dan menyukai salah satu gadis paling cantic dan popular di sekolah. Lalu, secara perlahan, from hero to hero.

Kemudian, 2 sekuelnya juga bisa dikatakan cukup sukses, meski tidak sesukses film pertamanya. Trilogy Karate Kid menjadi salah satu film terbaik sepanjang masa. Mendiang Pat Morita yang memerankan Miyagi juga mendapat nominasi di Academy Awards dan Golden Globes. Juga, secara pendapatan, dengan modal 8 juta dolar saja, film ini meraup keuntungan lebih dari 90 juta dolar.

Lalu, 34 tahun kemudian, Johnny Lawrence terbangun di kasur dengan brewok yang tumbuh liar di wajahnya. Ia kemudian pergi kerja, setelah melewatkan pagi hari dengan sarapan seadanya, hanya untuk dimarahi oleh klien dan dipecat. Kejayaan masa lalu SMA saat ia bergabung dengan Cobra Kai dan menjadi lelaki paling populer di sekolah sudah lama lewat. Saat ini ia dianggap sebagai pecundang.

Penderitaannya tak berhenti sampai di sana. Ketika melintasi jalan dan mendengarkan radio, ia terpaksa harus melihat wajah rival zaman SMA, LaRusso, yang sekarang jadi wirausahawan otomotif yang super sukses terpampang secara jelas di billboard besar. Pria yang dulu ia bully sekarang sukses melebihi apa yang pernah ia bayangkan sebelumnya.

Bagai bola yang selalu berputar, Kehidupan mereka berubah drastis. Johnny yang dulu tinggal di Encino, kawasan elit Los Angeles, kini tinggal di Reseda dan hidupnya berantakan. Sedangkan LaRusso yang dulu penghuni apartemen di Reseda, Kawasan warga kelas dua, kini sudah kaya raya dan tinggal di Encino. Mereka pun sama-sama sudah meninggalkan karate yang mengisi masa muda mereka.

Seperti sudah ditakdirkan, Johnny dan LaRusso kembali bertemu di sebuah jalan bernama garis takdir. Mereka kembali masuk ke dunia karate yang dulu menempa mereka. Mereka kembali menjadi rival karena sebuah permasalahan yang mereka alami 34 tahun yang lalu, yang juga sama-sama dialami oleh remaja generasi penerus mereka saat ini, yang secara kebetulan juga terlibat dengan mereka saat ini. Rumit, namun itulah garis takdir.

Cobra Kai dirpoduksi oleh Youtube Red. Dua Episode pertama yang mereka bagikan secara Cuma-Cuma di kanal Youtube Red ditonton jutaan kali sekaligus mendapatkan rating 9.1/10 di situs IMDB. Menakjubkan! Karena, apa yang dijual oleh Cobra Kai memang bukan hanya nostalgia. Ia lebih dari itu. Cobra Kai dengan cerdik memotret kegelisahan para remaja penonton Karate Kid di 1984 yang kini sudah menapak usia kepala empat, yang gegar budaya dengan budaya saat ini.

Cobra Kai pun sekaligus mengincar pasar penonton remaja saat ini, bukan hanya remaja yang menyaksikan The Karate Kid di tahun 1984. Serial ini disajikan secara apik dari sinematografi dan penulisan skenarionya. Koreografi karatenya biasa saja, karena fokus utama film ini adalah konflik batin para tokoh yang diceritakan dalam serial ini.

Menonton episode pertama saja, sudah membuat hati ini girang tidak karuan saking senangnya, bagaikan bertemu teman masa kecil yang sudah puluhan tahun tidak berjumpa, sekaligus membangkitkan semangat untuk selalu berlatih beladiri karate sesibuk apapun urusan pekerjaan yang selalu menyita waktu, dalam sebuah sajian yang amat spektakuler!

Nah, akankah Cobra Kai menjadi sebuah oase baru bagi remaja generasi milenal, bukan hanya sebagai obat nostalgia remaja di tahun 1984? Biarkan waktu yang menjawabnya, karena season 1 sudah berakhir dan season 2 akan segera muncul. Nantikan saja, dan selamat mencucurkan air mata, terutama bagi mereka yang hidup dengan kisah LaRusso di Trilogy Karate Kid tersebut. Salam karate, Oss!