Dimabuk (Oleh )Agama: Episode Puisi Sukmawati

Akun resmi Raden Muhammad Wisnu Permana. Akun ini dikelola oleh beberapa admin. Silakan follow akun Twitternya di @wisnu93 dan akun Instagramnya di @Rwisnu93
Tulisan dari Raden Muhammad Wisnu Permana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa hari ini pembicaraan yang hangat dibicarakan adalah tentang puisi yang berjudul "Ibu Indonesia" yang telah dibacakan Sukmawati Soekarnoputi di peringatan 29 tahun Anne Avantie. Puisi tersebut panjang urusannya. Dan seperti yang dilansir oleh Kumparan, Sukmawati dilaporkan oleh dua orang ke Polda Metro Jaya atas dugaan penistaan agama. Dua orang yang melaporkan Sukmawati yakni pengacara Denny AK dan Ketua DPP Partai Hanura Amron Asyhari. Laporan mereka telah diterima oleh Polda Metro Jaya.
Betapa menyenangkannya hidup di Indonesia yang begitu agamis. Selalu berlomba, tidak untuk berprestasi, namun untuk memenjarakan orang yang dianggap menghina agama. Dahulu Ahok, lalu Joshua Suherman, sekarang Sukmawati. Tuduhannya yaitu penistaan agama. Menurut budayawan Sujiwo Tejo, bentuk penistaan pada Tuhan dan Agama bukanlah ketika Nama-Nya dihina dengan kata-kata kotor, rumah ibadah dibakar maupun kitab Suci-Nya dibakar, namun khawatir engkau tidak bisa makan, itu adalah hinaan terbesar pada Tuhan!
Biasa aja, dong! Sukmawati hanya mengeluarkan kekecewaan dan kritikan saja layaknya kita-kita yang kecewa dengan keadaan bangsa. Sukmawati menyampaikannya lewat puisi, karena beliau (sepertinya, saya bukan penggemar beliau jadi tidak banyak tahu) adalah sastrawan. Lain halnya jika beliau adalah musisi atau sineas perfilman, mungkin lewat lagu atau film. Puisi beliau berisi harapan beliau tentang Indonesia, dan juga kritikan akan nilai keagamaan yang menurutnya berlebihan dilakukan di Indonesia. Sebagai orang awam, sy pikir puisi Sukmawati itu maksudnya nyindir cara hidup kelakuan sekelompok orang yang sering ke tempat ibadah, sering baca kitab suci, shalat dan puasa rajin namun kelakuannya seperti orang yang tidak beragamaLalu, selanjutnya kita boleh setuju atau protes, dengan mengkritisi kritikan tersebut, tapi tidak perlulah untuk berlebihan.
Seringkali ada orang berkata, lawanlah karya dengan karya. Filosofi yang banyak dianut oleh para tokoh terkenal, dari artis Hollywood hingga para atlet. Ketika orang menganggap dirimu tidak mampu untuk suatu pekerjaan, tunjukkan karya terbaikmu dengan berkarya lebih baik dari mereka yang meremehkanmu. Bukankah itu lebih indah? Alih-alih melaporkannya pada polisi atas tuduhan penistaan agama.
Lalu, sebenarnya mengapa ini menjadi viral dan dapat reaksi yang berlebihan? Sukmawati secara kebetulan adalah putri dari our founding father, Ir. Soekarno. Dan tentu saja, sebagai salah satu tokoh yang memiliki pandangan yang berbeda dengan lawan politiknya, apalagi di tahun politik yang serba panas dan masyarakat Indonesia yang lagi panas-panasnya sama isu agama, tentu saja ibarat menuang minyak pada bara api.
Padahal, banyak sekali puisi, lagu, maupun karya sastrawan dan musisi yang lebih keras dan lebih kasar dari puisi beliau, yang isinya mengkritisi agama, lho. Anda saja yang kurang baca. Seandainya Sukmawati bukan anak dari Ir. Soekarno apakah jadi permasalahan yang besar? Saya rasa tidak akan seviral ini.
Huft, tugas dari umat Islam masih sangat banyak sebelum puisi yang telah diviralkan oleh Bu Sukmawati. Di dalam puisi itu, Sukmawati dianggap menyudutkan syariat Islam, cadar dan juga suara adzan. Lah, memangnya yang merasa terhina sudah menjalankan syariat Islam sebagaimana Rasulullah contohkan? Memang sudah menutup aurat dengan benar? Memangnya ketika adzan berkumandang langsung menjawab panggilan Tuhan dengan shalat berjamaah sejak takbiratul ihram? Jika belum, janganlah merasa terhina!
Menjaga kebersihan yang notabene adalah sebagian dari iman saja belum becus, kok. Setiap khutbah shalat Jumat saja masih tidak memperhatikan. Alih-alih memperhatikan, tiap imam khutbah masih disibukkan bermain gadget. Padahal itu penistaan, lho. Bahkan jauh lebih menistikan dibandingkan mengumpatnya saat ia menyampaikan khutbah. Trust me!
Salah satu dosenku di Universitas Islam Bandung, Bapak Satya Indra Karsa pernah berkata, “Islam yang sesungguhnya adalah ketika Ia sedang berjalan di jalan raya, menemukan seoonggok sampah, dan menyingkirkannya walaupun bukan sampah yang Ia harus pertanggungjawabkan”. Sesederhana itu, namun itulah definisi Islam yang sesungguhnya. Islam yang cinta damai, bukan yang emosian dan baperan.
Padahal, Rasulullah sendiri memaafkan seluruh kaum kafir yang telah menghinanya, alih-alih membalasnya baik secara hukum dan secara fisik. Dan itu yang membuat mereka masuk Islam, karena itu representasi Islam sesungguhnya yang dibawa oleh rasulillah alih-alih yang ditunjukkan oleh kaum Muslim saat ini.
Intinya, dikit-dikit haramlah, bid’ah, kafir, penistaan, mungkin Anda terlalu banyak waktu luang. Singkatnya, jika Anda masih memiliki waktu untuk mengurusi kehidupan orang lain, mungkin Anda masih memiliki banyak waktu luang. Carilah pekerjaan dan kehidupan kawan! Menjaga kebersihan yang notabene adalah sebagian dari iman saja belum becus, masih kalah dengan negara atheis dan sekuler, yang tidak beragama, namun sangat menjaga nilai-nilai kebersihan dan kedisiplinan yang merupakan sebagian dari iman. Nah, jadi, taraf keimanannya lebih baik siapa?

Terakhir, Sukmawati memang salah. Bukan kritikan atau puisinya, tapi beliau menyampaikannya di ruang publik dan seakan telah judge satu kaum yang lebih baik dari kaumnya sendiri. Dalam hal ini, membandingkan umat Islam dengan wanita Indonesia. Lagipula, beliau sudah minta maaf, dan sudah tidak usah diperpanjang urusannya. Biarkan proses hukum berlaku untuk beliau. Lalu, jadikan isi puisi Sukmawati sebagai bentuk pembelajaran bagi kita. BUktikan, bahwa Islam yang disampaikan dalam puisi beliau tidaklah benar. Buktikan, bahwa umat Islam Indonesia adalah Islam yang sesuai dengan Al-Quran dan sunah. Islam yang cinta damai dan berpikir maju, maju ke depan demi kemaslahatan umat manusia. Salam olahraga!
