Konten dari Pengguna

Mengapa Joshua Suherman dianggap Menistakan Agama Islam?

Raden Muhammad Wisnu Permana

Raden Muhammad Wisnu Permana

Akun resmi Raden Muhammad Wisnu Permana. Akun ini dikelola oleh beberapa admin. Silakan follow akun Twitternya di @wisnu93 dan akun Instagramnya di @Rwisnu93

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Raden Muhammad Wisnu Permana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengapa Joshua Suherman dianggap Menistakan Agama Islam?
zoom-in-whitePerbesar

Belakangan, lini massa media sosial selalu dikaitkan dengan hal-hal yang sudah menjadi ihwal perdebatan selama berabad-abad, yakni masalah agama. Di Indonesia, beberapa tahun ini diramaikan dengan permasalahan penistaan agama yang dilakukan oleh Mantan Gubernir DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama, yang menghebohkan tanah air. Dan, baru-baru ini menimpa komika (sebutan bagi penggiat stand up comedy) yang lagi-lagi, dianggap menista agama Islam. Komika itu adalah Joshua Suherman, yang saaat kecil mengobok-ngobok air penuh ikan, dan sekarang diobok-obok realita hidup.

Saat saya kecil, bersama teman-teman sepermainan yang berbeda agama, kami masih bisa saling mengolok-ngolok agama masing-masing individu tanpa ada yang tersinggung. Misalnya, mengejek ritual ibadah yang aneh dari agama yang teman saya anut, tanpa ada yang melaporkannya ke pihak berwajib. Lagipula, konteks kami adalah bercanda saja, tanpa ada yang tersinggung, dan semuanya menerimanya, karena kami sadar, pertemanan kami tidak dibatasi oleh hal-hal substansional macam agama. Kami tetap saling tegur dan sapa ketika hari raya masing-masing agama tiba, dan saling bertukar makanan dan cindera mata saat hari besar itu tiba, kok.

Beberapa tahun ini, saya cukup sering menonton video stand up comedy di media sosial, seperti Pandji Pragiwaksono, Raditya Dika dan Ernest Prakarsa. Stand up comedy, atau lawakan tunggal, menurut saya sendiri adalah jenis lawakan yang memerlukan intelektualitas tinggi, baik dari praktisinya, maupun penontonnya, karena sulit merepresentasikan sebuah pesan menjadi sebuah lawakan yang tidak hanya lucu, namun memberikan edukasi. Melihat sisi lain dari sebuah peristiwa, yang dikemas menjadi sebuah lawakan. Tidak heran, penikmat stand up comedy didominasi manusia-manusia yang berpikiran terbuka, yang tidak mudah tersinggung akan pesan yang disampaikan komika. Dan, menurut saya sendiri, tidak ada komika yang menertawakan agama, termasuk Joushua Suherman. Mereka membahas manusia dan perilakunya atas nama agama. Manusia adalah objeknya, dan manusianya yang tersinggung.

Lucu rasanya, menuntut boikot produk Yahudi dan Amerika Serikat, namun dilakukan di lini massa media sosial yang jelas-jelas dimiliki oleh orang Amerika berdarah Yahudi. Lagipula, sebagian besar produk yang kita gunakan adalah produk mereka. Memang kita bisa hidup tanpa produk mereka? Relistis! Lalu, Menolak aksi yang dilakukan oleh kaum LGBT, di media sosial yang jelas-jelas mendukung LGBT tersebut. Saya sendiri tidak mendukung aksi LGBT, tapi, cukup malu untuk tidak menghakimi mereka, terlebih di media sosial yang jelas-jelas mendukung LGBT. Lagipula, saya bukanlah seorang Nabi yang berhak untuk menyiarkan dakwah pada mereka.

Sebuah standar ganda terjadi di sini. Sebuah pesan berantai di media sosial berkata bahwa kita harus rajin beribadah agar dapat melakukan pesta seks dengan bidadari di surga sesuai yang Tuhan janjikan. Tidakkah itu menista kaum wanita, seperti yang diteriakkan kaum feminis? Ini adalah standar ganda, dimana, pesta seks di surga tidak termasuk penistaan. Menutlis ayat Kitab Suci Al-Qur'an yang tidak karuan di media sosial tidak termasuk penistaan. Korupsi memakai istilah Kitab Suci Al-Quran tidak termasuk penistaan. Asal, pelakunya bukan kafir. Dan, menurut budayawan Sudjiwo Tedjo pun, membakar ayat suci sekalipun, bukanlah sebuah bentuk penistaan, tapi khawatir besok engkau tidak bisa makan, adalah penghinaan terbesar pada Tuhan, karena meragukan kasih-Nya!

Di Indonesia, ada satu hal yang tidak bisa dilawan dengan cara apapun, yaitu “mayoritas”. Suara mayoritas adalah segalanya. Dan mereka yang “mayoritas” ini adalah mereka yang dimabukkan oleh agama, dan begitu saja menelan mentah-mentah apa yang dikatakan oleh para pemuka agama, yang tentu saja belum jelas taraf keilmuannya, namun sudah menghakimi segala hal, dan mencapnya dengan sebutan bid’ah, haram maupun kafir. Contohnya, mengharamkan ucapan selamat natal, boleh saja, namun jangan dijadikan postingan publik di ranah media sosial maupun dengan spanduk di tempat umum, cukup di ranah pribadi saja atau di grup rekan seagama. Tidakkah kita bisa menjaga perdamaian negeri ini yang dicita-citakan Our Founding Father, Ir. Soekarno?

embed from external kumparan

Bahkan, apakah tidak ada niatan untuk melaporkan hal di bawah ini, sebuah website besutan organisasi agama Islam terbesar di Indonesia, yang merupakan tindakan penistaan agama, jika menilik kasus Joshua Suherman yang dianggap menistakan agama Islam? Isinya cukup menista agama dimana menyebutkan bahwa kita sebagai umat Muslim sangat jauh dari Tuhan karena memanggil Tuhan saja harus menggunakan toa, atau pengeras suara. Sebuah standar ganda karena dilakukan oleh orang-orang seagama?

Kita tentu sering melihat, bagaimana jokes tentang Yesus di film-film Hollywood, yang dilakukan oleh para aktor dan aktrisnya entah itu dalam genre film reliji atau film komedi sekalipun yang terang-terangan mengejek Yesus, dari mulai penampilan-Nya hingga ayat-ayat suci-Nya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun pernahkah kita melihat Umat Kristiani yang protes berlebihan seperti di Indonesia?

Intinya, dikit-dikit persekusi, mungkin Anda terlalu banyak waktu luang. Singkatnya, jika Anda masih memiliki waktu untuk mengurusi kehidupan orang lain, mungkin Anda masih memiliki banyak waktu luang. Carilah pekerjaan dan kehidupan kawan! Cukuplah menyuarakan ketidaksetujuan kita, berhenti sampai disitu. Yang diprotes juga saya pikir sudah cukup sadar, kok.. Lagipula, protesnya sampai viral di media sosial, mereka pasti melihat dan mendengarnya karena mereka telah menjadi pusat perhatian. Saya ingat, beberapa dosen dan guru saya pernah berkata bahwa memaafkan itu jauh lebih baik. Ingat, tugas dari umat Islam masih sangat banyak. Menjaga kebersihan yang notabene adalah sebagian dari iman saja belum becus, masih kalah dengan negara atheis dan sekuler, yang tidak beragama, namun sangat menjaga nilai-nilai kebersihan dan kedisiplinan yang merupakan sebagian dari iman. Hayo, jadi, taraf keimanannya lebih baik siapa? Lagipula, dikit-dikit tersinggung, apa kurang piknik? Terakhir, semoga tulisan ini dapat menjadi renungan bagi kita semua. Dan, Joushua, selamat diobok-obok realita ya, semoga Anda tabah dan kuat dalam menghadapi ini semua. Termakasih telah mengisi masa anak-anak kami dengan penuh, dibandingkan masa anak-anak generasi sekarang yang diisi oleh propaganda politik dan agama.