Konten dari Pengguna

Pengabdi Setan: A Premium Class of Indonesia’s Horror Movies

Raden Muhammad Wisnu Permana

Raden Muhammad Wisnu Permana

Akun resmi Raden Muhammad Wisnu Permana. Akun ini dikelola oleh beberapa admin. Silakan follow akun Twitternya di @wisnu93 dan akun Instagramnya di @Rwisnu93

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Raden Muhammad Wisnu Permana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pengabdi Setan: A Premium Class of Indonesia’s Horror Movies
zoom-in-whitePerbesar

Aku ingat, beberapa tahun yang lalu, ketika berselancar di dunia maya, dan membaca 10 film horror Indonesia terbaik, salah satunya adalah Pengabdi Setan yang dibuat tahun 1980. Penasaran, lalu aku menonton film tersebut, dan temanya benar-benar menarik, dimana manusia yang menginginkan harta duniawi begitu bernafsu sampai harus meminta kepada setan, makhluk yang dilaknat Tuhan hingga Hari Akhir, yang tentu saja berakhir dimana si pengabdi setan tersebut sulit untuk mati, dan kengerian yang terpaksa dialami oleh anggota keluarganya karena megabdi pada makhluk laknat tersebut. Dan sialnya, si pengabdi setan terpaksa harus mendekam selamanya di neraka karena menyekutukan Tuhan adalah dosa besar, apalagi jika belum sempat bertaubat sebelum maut menjemput.

Lalu, ketika Joko Anwar membuat Pengabdi Setan di tahun 2017, aku langsung antusias. Aku sendiri langsung merasa ketakutan akan film pendek yang dibuat oleh Joko Anwar berjudul “Grave Torture”, dan langsung mengerti, bahwa Joko Anwar bukanlah orang sembarangan, Ia adalah orang yang tepat untuk membuat Pengabdi Setan, menjadikan remake film ini menjadi film yang sangat berkualitas. Terlebih, dalam sebuah wawancara, Joko Anwar mengatakan bahwa Pengabdi Setan (1980) adalah film horror favoritnya saat kecil, dan memiliki rencana untuk remake film tersebut selama bertahun-tahun. Ini sama seperti kisah Peter Jackson yang memiliki tekad untuk membuat film The Lord of the Rings setelah membaca novelnya di masa kanak-kanak, dan mewujudkannya dalam sebuah masterpice.

Semalam, kesempatan untuk menonton masterpiece tersebut akhirnya terlaksana. Adegan pembuka diawali oleh Tara basro yang berhadapan dengan pihak label rekaman dimana Sang Ibu (diperankan oleh Ayu Laksmi), yang berprofesi sebagai seorang penyanyi merekam suara emasnya di label tersebut. Tara Basro berperan sebagai Rini, anak sulung dari pasangan suami istri yang sedang dilanda masalah keuangan karena Sang Ibu yang sedang sakit keras. Rini pun mengklaim royalti kepada pihak label, karena sudah menghabiskan banyak biaya untuk pengobatan Sang Ibu. Menariknya, muncul cameo Joko Anwar yang berperan sebagai pihak label rekaman disini, dengan wig-nya yang norak itu. Mungkin, agar hemat biaya, atau memang unsur kesengajaan saja, agar filmnya menarik. Untuk memenuhi biaya perawatan Sang Ibu, keluarganya terpaksa menjual rumah hingga kendaraan bermotor mereka, sehingga berakhir mereka harus tinggal sementara di rumah Sang Nenek.

Uniknya, rumah yang terletak di tengah perkebunan teh di tengah pegunungan itu, sangatlah mencekam. Rumah dengan gaya jadulnya tersebut dikatakan benar-benar horor di kehidupan nyata. Seketika, rumah tersebut mengingatkanku akan film Conjuring yang berseting di salah satu rumah yang sama horornya. Adegan horor dibuka dengan Sang Ibu yang memanggil Rini dengan loncengnya. Sang Ibu ternyata berdiri menghadap jendela, yang ternyata bukan Sang Ibu, tapi merupakan sosok lain! Sang Ibu ternyata masih ada di ranjang, lalu siapakah sosok yang berdiri di hadapan jendela tersebut?

Adegan-adegan horor berikutnya begitu mengagetkan sekaligus menyeramkan. Dimana rumah dengan setingan jadul, dikombinasikan dengan musik yang menegangkan, juga sinematografi yang apik, yaitu adegan dimana anak-anak dari Sang Ibu yang satu persatu diganggu oleh Sang Ibu. Dan, sama seperti Pengabdi Setan (1980), ada adegan dimana ketika sang tokoh utama sedang melaksanakan ibadah shalat, lalu diganggu oleh makhluk halus, yang membuat banyak orang takut untuk melaksanakan ibadah pada Tuhan. Saat adegan tersebut, aku melihat banyak sekali penonton di bioskop yang terpaksa menutup matanya dengan jaketnya masing-masing karena kengerian ini, terutama kaum hawa.

Klimaks dari film ini ada di akhirnya, yaitu saat Sang Bapak harus menyelamatkan anak bungsunya dengan melompati ke dalam sumur dan sesosok makhluk misterius menampakan dirinya, seperti adegan film Sadako yang ternama itu. Ratusan pocong serta kuntilanak yang menyerbu rumah tersebut juga sangatlah epik. Pocong dan kuntilanak, lengkap dengan kain putih lusuh penuh darah dan lumpur, wajah yang menyeramkan, yang berjumlah ratusan! Dan pandanganku sendiri meyimpulkan, diantara ratusan makhluk tersebut, pasti ada hantu sungguhan di luar setingan film!

Satu-satunya yang menggangguku, satu-satunya cacat dalam film ini adalah banyaknya humor yang disisipkan yang membuat penonton tertawa, terutama akting dari Ian, si anak bungsu yang begitu menggemaskan. Joko Anwar sendiri mengklaim Ia melakuka hal tersebut agar film ini dapat dinikmati juga sebagai film keluarga, dalam Vlog Najwa Shihab di YouTube. Juga, dalam film ini, alih-alih takut, aku malah terpesona oleh kecantikan Tara Busro. Mungkin sudah kelamaan sendirian, entahlah.

Aku sendiri tidak akan memberikan banyak bocoran lagi, lebih baik langsung saja menonton filmnya. Aku sendiri memberikan angka 8.5/10 untuk film ini. This movie were Indonesia’s premium class movies, while back then, Indonesia’s horror movies were second class movies, dengan 13 nominasi Festival Film Indonesia 2017, mulai dari scoring music terbaik, skenario terbaik, hingga pemeran anak terbaik. Nah, tunggu apalagi, segera tonton filmnya!