Konten dari Pengguna

Tumbuh Bersama Puisi

Raden Putri

Raden Putri

Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta - Jurusan Teknik Grafika Penerbitan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Raden Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tumbuh Bersama Puisi Foto: Thinkstoc
zoom-in-whitePerbesar
Tumbuh Bersama Puisi Foto: Thinkstoc

Aku adalah salah seorang anak kecil yang menggemari sastra. Sejak kecil sudah bersama puisi. Kecintaanku pada sastra dimulai ketika aku bergabung dengan kegiatan esktrakurikuler Teater di sekolahku. Saat itu, seorang guru laki-laki tiba-tiba memasuki kelasku bertepatan dengan berlangsungnya pelajaran matematika.

“Kalau kalian ada yang bisa atau mau belajar bermain biola, kalian bisa gabung sama anak-anak teater sekolah ini.” katanya dilanjutkan dengan memperkenalkan sedikit tentang ekstrakurikuler itu.

Saat itu pula, aku tertarik untuk mengikuti ekskul teater tersebut. Padahal, aku sama sekali tidak bisa bermain musik apalagi berlakon di depan orang banyak. Lho, apa hubungannya teater dengan musik? Katanya, saat kita berbicara tanpa sadar kita memiliki irama sendiri. Itulah yang membuat kita bisa membedakan suara seseorang dengan yang lainnya.

Pada akhirnya, aku memutuskan untuk bergabung bersama ekskul teater. Sebenarnya, aku tidak tahu apa yang akan aku perbuat setelahnya. Aku hanya penasaran saja. Di awal pertemuan, aku dan seluruh anak-anak teater disambut dengan latihan musik, bernyanyi dan memainkan alat musik. Untukku yang saat itu baru memasuki SMA dan sedang mencari jati diri, hal tersebut sangatlah menyenangkan.

Aku kembali mengingat sebuah puisi yang selalu ada di buku Lembar Kegiatan Siswa (LKS) mata pelajaran Bahasa Indonesia. Puisi Aku karya Chairil Anwar. Siapa yang tidak tahu puisi itu? Orang yang tidak suka pada sastra pun pasti tau walaupun hanya membacanya dari buku LKS mereka.

Usut punya usut, musik-musik yang diperkenalkan dan dimainkan itu bukanlah musik-musik yang sedang hits, seperti pop, jazz, atau genre lainnya. Musik yang dimainkan grup teater ini adalah musik ciptaan mereka sendiri dengan lirik-lirik yang berasal dari puisi-puisi penyair terkenal seperti, Chairil Anwar, Taufik Ismail, Wiji Tukul, dan lainnya.

Katanya, sebelum kita memainkan dan membuat musik untuk sebuah puisi-yang kemudian dikenal dengan istilah musikalisasi puisi-, kita harus mengetahui makna dan pesan apa yang akan disampaikan pada pembaca.

Tentu saja, aku yang saat itu benar-benar tidak tahu tentang sastra yang harus mempelajarinya dengan keras agar mampu menyatukan pikiranku dengan pelatih dan anak-anak teater yang lain. Ternyata mempelajari dan memahami sastra secara mendalam itu menyenangkan. Akupun mulai kecanduan.

Aku diperkenalkan pada sebuah puisi sederhana yang sarat makna; Doa karya Chairil Anwar. Bait-bait dalam puisinya sungguh sangat dalam, membuat aku yang saat itu mendengar musikalisasi puisinya menjadi merinding.

Doa

Karya Chairil Anwar

Kepada Pemeluk teguh

Tuhanku

Dalam termenung aku masih menyebut namamu

Biar susah sungguh mengingatkau penuh seluruh

CahyaMu panas suci

Tinggal kerlip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

Aku hilang bentuk remuk

Tuhanku

Aku mengembara di negeri asing

Tuhanku

Di pintuMu aku mengetuk

Aku tidak bisa berpaling

“Gila! Keren banget ini arransemennya” kataku saat mendengar musikalisasi puisinya. Melodi-melodi yang dimainkan sangat pas dengan liriknya, iringannya pas dan suara kakak kelasku kala menyanyikannya sangat cocok untuk menjadi kombinasi sempurna sebuah musikalisasi puisi.

Dalam puisi itu, aku menangkap maksud bahwa dalam segala keadaan pun kita harus mengingat Tuhan. Hidup adalah pengembaraan di sebuah negeri yang asing. Dalam hidup ini, kita akan melalui fase bersusah-susah, menghadapi cobaan sendirian dengan sebuah harapan kecil yang diibaratkan lilin, menghadapi cobaan hingga merasa remuk, namun kita akan terus menyebutNya dan mengingatNya -karena kita tidak bisa berpaling dariNya-.

Mencintai Tuhan sangatlah mudah, kita tinggal bersujud dan menyebutkan AsmaNya. Setidaknya itulah yang aku dapatkan ketika membaca dan mendengar puisi itu. Setelah itu, aku dikenalkan dengan puisi-puisi lain yang sedikit demi sedikit mengubah kehidupanku.

Aku tidak terlalu suka membaca, tapi sejak saat itu aku mulai membaca buku-buku di perpustakaan sekolah dan mencari-cari puisi karya penyair-penyair yang aku tahu. Kemudian aku mengenal puisi Kerendahan Hati karya Taufik Ismail.

Kerendahan Hati

Karya Taufik Ismail

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin

Yang tegak di puncak bukit

Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,

Yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,

Jadilah saja rumput, tapi rumput yang

Memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya

Jadilah saja jalan kecil,

Tetapi jalan setapak yang membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten

Tentu harus ada awak kapalnya

Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi

Rendahnya nilai dirimu

Jadilah saja dirimu

Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri.

Kini aku mengerti, ketika kita ingin menjadi seperti orang lain tapi kita tidak mampu, maka jadilah yang terbaik menurut kita namun tetap bermanfaat bagi orang lain. Karena sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain, bukan?

Pelatih teater ku itu selalu berkata, “Jadi apa pun boleh, tapi yang terbaik adalah menjadi dirimu sendiri”.

Aku benar-benar senang mengenal berbagai karya sastra. Sampai saat ini, aku tidak pernah menyesal pernah bergabung dengan ekstrakurikuler teater. Walaupun dengan jadwal latihan yang berat dan padat, aku benar-benar diajarkan untuk hidup menjadi manusia yang memanusiakan manusia.

Masih banyak puisi-puisi yang aku sukai. Seperti puisi Ucapkan Kata-Katamu karya Wiji Tukul yang menyadarkan tentang pentingnya kita menyuarakan pendapat-karena jika kita menahan pendapat kita, kita hanya menjadi korban keputusan-keputusan dan memperpanjang barisan perbudakan-.

Ada juga puisi Gempa Kata karya Sutardji Calzoum Bachri, Tanah Air karya Ajip Rosidi, Bunga dan Tembok karya Wiji Tukul, Sajak Perambah Hutan karya Juniarso Ridwan, Aku Ingin karya Sapardi Djoko Damono, dan masih banyak lagi puisi yang sangat bagus dan bisa dijadikan bahan renungan untuk kehidupan kita saat ini; terutama puisi yang mengobarkan semangat perjuangan melawan tirani.

Namun, puisi Doa dan Kerendahan Hati adalah puisi yang sangat penting bagiku. Karena puisi itu adalah puisi pertama yang mengantarkanku pada dunia sastra. Selain itu, dua puisi itu tersebut juga memiliki makna yang sangat dalam bagi kehidupanku. Hidup dengan dikelilingi musik dan sastra ternyata se-menyenangkan itu.

Ketika aku jatuh cinta pada puisi, maka bagiku puisi adalah senjata terakhir untuk tetap hidup sebagai manusia yang memanusiakan manusia.

**

Raden Putri

Mahasiswi Politeknik Negeri Jakarta