Keamanan Data? Perlukah Diperhatikan Lebih Lanjut?

Travel enthusiast who currently strives as a Management student in Jendral University
Tulisan dari Raden Roro Ailsa Shafira Maheswari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era informasi yang telah berlangsung selama beberapa dekade terakhir, data dan internet menjadi faktor penting dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Internet seolah-olah menjadi kebutuhan primer manusia. Internet tersebar dan digunakan oleh manusia di seluruh penjuru dunia untuk berbagai kepentingannya. Internet kini banyak digunakan untuk melakukan pencarian informasi, jual-beli barang maupun jasa, pendidikan, hingga hiburan. Penggunaan internet pada berbagai aspek tersebut tidak lepas dari data yang dihasilkan oleh setiap penggunanya. Penggunaan internet oleh para pelanggannya membantu penyedia layanan internet untuk dapat mengumpulkan informasi terkait pelanggan berdasarkan data yang diberikan baik secara explisit maupun implisit. Data tersebut diantaranya memuat informasi personal seperti nama, tanggal lahir, kewarganegaraan, alamat, hingga informasi implisit seperti pola penggunaan internet dan preferensi personal.
Banyaknya data yang tersebar di internet memunculkan permasalahan baru yaitu masalah keamanan data. Keamanan data merupakan suatu aspek penting yang tidak boleh disepelekan baik bagi individual maupun organisasi/perusahaan. Data saat ini dapat dikatakan sebagai aset yang dimiliki individu maupun organisasi/perusahaan. Data yang memiliki keamanan rendah memungkinkan terjadinya pembobolan atau cyberattack. Data yang dimiliki baik individual maupun organisasi/perusahaan mengandung informasi yang apabila mengalami kebocoran dapat mengakibatkan kerugian dan mungkin berdampak pada berbagai aspek seperti permasalahan privasi, penurunan keuntungan perusahaan, hingga hilangnya kepercayaan konsumen. Dalam hal ini, keamanan data berperan untuk mencegah dan mengamankan data yang ada untuk mencegah terjadinya serangan siber. Serangan siber dapat berupa email phising hingga serangan ransomware dan malware yang ditargetkan pada pihak tertentu. Serangan tersebut mungkin diiringi dengan pencurian data, hak intelektual, hingga blokade akses terhadap data perusahaan yang dapat diatasi dengan melakukan pembayaran pada pihak penyerang.
Sayangnya, banyak masyarakat maupun perusahaan masih menganggap remeh keamanan data begitu pula dengan dampak yang mungkin dihasilkan dari kebocoran data atau serangan siber. Hal ini dapat kita ketahui dari banyaknya jumlah pengguna penyimpanan cloud gratis yang rendah keamanan. Penyimpanan tersebut tidak hanya digunakan oleh pengguna personal namun juga berbagai organisasi/perusahaan sebagai tempat penyimpanan arsip kegiatan. Penyimpanan tersebut kemudian diiringi dengan kombinasi password yang memiliki tingkat keamanan rendah atau password mudah ditebak serta memiliki keseragaman dengan password yang digunakan pada akun lainnya. Pengguna juga memandang sebelah mata berkaitan dengan pentingnya melakukan backup data perusahaan pada penyimpanan yang berbeda. Hal ini tentu meningkatkan kemungkinan kerugian yang dialami ketika terjadi kebocoran atau pembobolan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.
Sehingga, dibutuhkan kesadaran dari individu maupun organisasi/perusahaan akan pentingnya keamanan data personal maupun organisasinya. Kesadaran ini dibutuhkan agar setiap pengguna internet yang tentunya menghasilkan data dapat ikut berperan dalam membangun cybersecurity, setidaknya dalam lingkungannya sendiri. Rendahnya kesadaran masyarakat akan hal tersebut berakibat pada peningkatan cybercrime yang terjadi karena adanya lahan yang terbuka lebar bagi para pelaku untuk beraksi.
Terdapat beberapa hal mendasar yang dapat dilakukan untuk mencegah adanya serangan siber atau cybercrime, sebagai berikut:
Pertama, yaitu dengan menggunakan kata sandi yang kompleks dan berbeda di setiap situs. Masukkan kombinasi huruf kapital, huruf kecil, dan angka agar password sulit untuk diretas. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, kata sandi yang mudah ditebak dan seragam memudahkan akses serangan siber kedalam sistem pengguna.
Kedua, secara rutin melakukan pembaruan sistem atau perangkat. Inilah yang menjadi alasan mengapa perangkat yang kita gunakan diperbarui secara berkala oleh pengembangnya. Hal tersebut dilakukan untuk memperbaiki operasional penggunaannya sekaligus memperbaiki keamanan sistem yang ditemukan dari hasil analisis sistem.
Ketiga, selektif terhadap informasi apa saja yang layak dibagikan ke internet. Hal ini berkaitan dengan penggunaan sosial media, penyimpanan data secara daring, atau pendaftaran pada layanan tertentu yang menuntut pengguna untuk mencatatkan informasi personalnya. Lakukanlah crosscheck kepada orang yang mengerti tentang suatu situs untuk memastikan apakah layanan yang kita gunakan termasuk hoax/trusted. Informasi yang dicatatkan pada web yang tidak diketahui keamanannya beresiko untuk bocor atau disalahgunakan apabila pengguna tidak jeli dalam menyeleksi layanan yang dapat dipercaya.
Selain cara mencegah, pengguna diharapkan dapat memiliki kesadaran terkait apa yang mungkin terjadi ketika mengalami serangan siber dan tindakan apa yang perlu diambil ketika mengalaminya. Dengan begitu, harapannya pengguna internet serta penghasil data dapat lebih mempersiapkan diri untuk mengatasi hal tersebut. (Raden Roro Ailsa Shafira Maheswari, Mahasiswa Manajemen Kelas Internasioanl FEB UNSOED 2018)
