Konten dari Pengguna

Perubahan Iklim Bukan Isu Elit: Ini Saatnya Kita Turun Tangan

Raden Siska Marini

Raden Siska Marini

Founder Ruang Aman, lembaga advokasi yang berfokus pada pengarusutamaan gender, serta terlibat dalam penyusunan kebijakan berbasis komunitas.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Raden Siska Marini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi : dok. pri
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi : dok. pri

Oleh: Raden Siska Marini, Aktivis Gender dan Pembangunan, Founder Ruang Aman*

Bayangkan kamu bangun tidur dan mendapati cuaca yang kacau: pagi panas terik seperti di gurun, siang hujan deras seperti musim badai, lalu malam tiba-tiba dingin menusuk. Ini bukan adegan fiksi ilmiah, tapi realita yang makin sering kita alami. Perubahan iklim bukan lagi sesuatu yang jauh di belahan bumi utara, atau sekadar bahan diskusi seminar dan konferensi. Ia sedang terjadi di sekitar kita, sekarang juga.

Apa Itu Perubahan Iklim?

Perubahan iklim merujuk pada perubahan jangka panjang dalam suhu, curah hujan, dan pola cuaca global yang sebagian besar dipicu oleh aktivitas manusia. Menurut laporan IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) 2023, suhu rata-rata global sudah meningkat sekitar 1,1°C dibanding era pra-industri. Jika tidak dikendalikan, angka ini bisa melampaui 1,5°C sebelum tahun 2040.

Penyebab utama dari krisis ini adalah gas rumah kaca (GRK) seperti karbon dioksida (CO₂) dan metana (CH₄) yang dilepaskan oleh aktivitas pembakaran bahan bakar fosil, deforestasi, dan sistem industri makanan yang tidak berkelanjutan.

Dampaknya Nyata dan Tidak Merata

Indonesia termasuk negara yang sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim. Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, dan kekeringan meningkat signifikan dalam satu dekade terakhir.

Infografik: Tren Bencana di Indonesia (2010–2022)

  • 2010: 1.858 kejadian

  • 2015: 2.342 kejadian

  • 2022: 3.543 kejadian (90% terkait iklim)

Yang paling terdampak adalah masyarakat rentan: petani kecil yang kehilangan panen karena musim tak menentu, perempuan yang harus berjalan lebih jauh mencari air bersih, dan anak-anak yang terpaksa berhenti sekolah karena rumahnya terendam banjir.

Krisis Iklim adalah Krisis Keadilan

Krisis iklim memperbesar ketimpangan yang sudah ada. Mereka yang paling sedikit menyumbang emisi justru paling awal dan paling parah terkena dampaknya. Ini sebabnya perubahan iklim harus dipandang juga sebagai isu keadilan sosial dan gender.

Menurut UN Women, perempuan dan anak perempuan lebih rentan terhadap bencana iklim karena beban pengasuhan, keterbatasan akses terhadap sumber daya, serta keterlibatan yang masih minim dalam pengambilan keputusan lingkungan. Di sinilah pentingnya memastikan bahwa respons terhadap krisis iklim melibatkan perspektif inklusif dan interseksional.

Keterkaitan dengan SDGs

Perubahan iklim berkaitan erat dengan banyak tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs), terutama:

SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim

SDG 5: Kesetaraan Gender

SDG 1 & 2: Pengentasan Kemiskinan dan Kelaparan

SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan

Tanpa aksi nyata terhadap krisis iklim, pencapaian seluruh target SDGs akan terancam gagal. Karena itu, aksi iklim harus diprioritaskan lintas sektor, bukan hanya urusan kementerian lingkungan hidup.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Kita semua punya peran. Berikut langkah-langkah konkret yang bisa dilakukan oleh individu maupun komunitas:

  1. Kurangi konsumsi berlebih – Belanja secukupnya, kurangi sampah plastik, daur ulang. Gaya hidup konsumtif menyumbang emisi tinggi.

  2. Gunakan transportasi ramah lingkungan – Berjalan kaki, naik sepeda, atau gunakan kendaraan umum.

  3. Hemat energi di rumah – Matikan listrik saat tidak digunakan, gunakan peralatan hemat energi.

  4. Dukung kebijakan publik yang ramah iklim – Pilih pemimpin yang peduli pada lingkungan, dukung regulasi yang mendorong transisi energi hijau.

  5. Edukasi dan ajak orang lain – Bicara soal iklim di media sosial, komunitas, dan lingkungan kerja.

Infografik: Emisi Karbon Berdasarkan Aktivitas (Global 2022)

  • Transportasi: 16%

  • Energi (rumah tangga dan industri): 30%

  • Makanan (produksi dan limbah): 21%

  • Deforestasi & penggunaan lahan: 15%

  • Lainnya: 18%

Penutup: Kita Tidak Punya Planet Cadangan

Kita tak sedang menyelamatkan bumi, tapi menyelamatkan tempat tinggal kita sendiri. Perubahan iklim bukan soal es di Kutub Utara, tapi soal apakah anak kita masih bisa bertani, minum air bersih, dan hidup tanpa bencana ekstrem. Dan ini semua dimulai dari sekarang.

Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?

*) Raden Siska Marini adalah aktivis gender dan pembangunan, serta founder Ruang Aman. Ia aktif mengadvokasi isu-isu pendidikan, perlindungan anak, dan keadilan iklim dari perspektif inklusif dan interseksional.