Simbiosis yang Terputus: Menata Ulang Relasi Parkir Kampus dan Masyarakat

Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Ekonomi dan Bisnis Prodi S1 Akutansi
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Radhi Ryadhi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber guncangan terbesar terhadap pendapatan UMKM jasa parkir di sekitar Universitas Pamulang (UNPAM) sejatinya bukan berasal dari kompetitor sesama pelaku usaha, melainkan dari sistem parkir internal kampus itu sendiri. Demi menekan beban biaya pendidikan mahasiswa, UNPAM menyediakan fasilitas parkir di dalam area kampus yang dapat digunakan hanya dengan memindai kartu identitas tanpa biaya tambahan. Bagi mahasiswa, layanan ini setara dengan parkir nirkost (zero-cost parking) yang sangat menguntungkan.
Namun, konsep harga nol tersebut secara otomatis mengguncang struktur pasar parkir di luar kampus. Secara rasional, mahasiswa tentu lebih memilih parkir di dalam kampus karena faktor keamanan, kedekatan dengan ruang kelas, dan efisiensi biaya harian. Alhasil, UMKM parkir yang mematok tarif Rp3.000 hingga Rp5.000 per motor kehilangan pangsa pasar terbesarnya. Mereka beroperasi mengikuti logika bisnis, namun harus berhadapan dengan fasilitas kampus yang bekerja di luar mekanisme pasar. Ketidakseimbangan ini menempatkan UMKM pada posisi rentan, bahkan beberapa di antaranya terpaksa gulung tikar sebelum mencapai titik impas.
Meskipun kompetisi tidak seimbang, UMKM parkir di sekitar UNPAM tetap bertahan berkat tiga ceruk pendapatan utama yang tidak terpenuhi oleh pihak kampus:
Pendapatan Limpahan (Overflow): Ketika kapasitas parkir kampus mencapai batas maksimal—terutama pada jam padat, masa ujian (UTS/UAS), atau acara besar—mahasiswa tidak memiliki pilihan selain parkir di luar. Pada momen ini, pendapatan UMKM melonjak tajam, meskipun sifatnya fluktuatif dan tidak dapat diprediksi.
Sewa Parkir Inap Bulanan: Bagi mahasiswa perantau yang tinggal di indekos tanpa fasilitas garasi, UMKM parkir menjadi solusi utama. Sistem titip kendaraan bulanan ini memberikan pendapatan rutin dan menjadi penyelamat finansial, terutama saat masa libur akademik.
Pelanggan Nonakademik: Tamu, kurir, vendor, atau masyarakat umum yang memiliki keperluan di sekitar kampus dan enggan melewati prosedur birokrasi kampus menjadi sumber pemasukan tambahan yang signifikan.
Di sisi lain, keterbatasan lahan parkir resmi memicu masalah sosial baru: lonjakan parkir liar dan kemacetan. Banyak lahan tidak resmi memanfaatkan tarif murah sebagai daya tarik, meskipun aspek keamanan dan pengelolaannya tidak profesional. Fenomena ini memperburuk kondisi sosial, mulai dari perebutan lahan hingga konflik dengan warga, yang menunjukkan bahwa pasar parkir di sekitar UNPAM tengah beroperasi tanpa regulasi yang jelas.
Oleh karena itu, diperlukan intervensi kolaboratif. Pertama, model kemitraan resmi antara pihak kampus dan pengelola parkir lokal yang legal. Saat kapasitas internal penuh, mahasiswa dapat diarahkan ke lokasi mitra dengan tarif yang telah disepakati atau disubsidi oleh kampus. Kedua, penerapan tarif internal minimum (misalnya Rp1.000–Rp2.000 per hari). Kebijakan ini bukan untuk memberatkan mahasiswa, melainkan untuk menciptakan kesetaraan harga (level playing field) agar UMKM dapat bersaing secara sehat.
Untuk jangka panjang, masalah parkir hanyalah sebuah gejala. Akar persoalannya adalah ketergantungan besar mahasiswa terhadap kendaraan pribadi. Solusinya bukanlah memperluas lahan parkir tanpa batas, melainkan mendorong perbaikan sistem transportasi publik dan penyediaan angkutan jemputan (shuttle) kampus. Jika mobilitas mahasiswa dapat terakomodasi tanpa kendaraan pribadi, tekanan permintaan parkir akan menurun. Dengan demikian, lingkungan kampus menjadi lebih tertib, UMKM tidak lagi berspekulasi dengan ketidakpastian, dan kawasan Pamulang dapat berkembang secara lebih teratur.
