Konten dari Pengguna

Aktualisasi Falsafah Memanusiakan Manusia dalam Manajemen SDM

Radinal Muhdar

Radinal Muhdar

Doctoral student at UMM Malang, Nursing Sociologist, Human Resources Development

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Radinal Muhdar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi para pencari kerja di Jepang Foto: Reuters/Yuya Shino
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi para pencari kerja di Jepang Foto: Reuters/Yuya Shino

Setiap kali mendalami studi tentang manajemen sumber daya manusia (SDM), kita akan selalu teringat akan sebuah pesan dari seorang tokoh bangsa, pahlawan nasional asal Sulawesi Utara, Bapak Dr. Sam Ratulangi, yang kemudian menjadi falsafah dasar dalam setiap lapisan masyarakat dari lingkungan organisasi terkecil yaitu keluarga hingga ke tingkat pemerintahan di Sulawesi utara. Nilai itu tak lain adalah "Situou Timou Tumou Tou".

Secara etimologi, Sitou Timou Tumou Tou dapat dipisahkan menjadi beberapa kata. “Si” merupakan penunjuk orang, “Tou” merujuk pada manusia. Kedua kata ini artinya manusia sebagai makhluk hidup yang mampu mandiri dan bertanggung jawab. “Timou” dan “Tou” berarti manusia atau orang yang dilahirkan dan hidup. Sedangkan “Timou” dan “Tou” artinya mendorong seseorang untuk ikut bertanggung jawab, ikut membentuk kehidupan sebagai sesama manusia. Sehingga, Arti Sitou Timou Tumou Tou secara terminologi dapat diartikan sebagai manusia yang dilahirkan dan hidup adalah manusia yang mampu mandiri dan bertanggung jawab dan memiliki tugas untuk memanusiakan manusia (Naufal R.A).

Falsafah ini merupakan sebuah nilai dasar yang dipegang sebagai pijakan di setiap aktivitas yang terkait dengan hubungan antar manusia, bukan hanya masyarakat Sulawesi utara namun seluruh masyarakat Indonesia maupun dunia. Dengan begitu, nilai "Sitou Timou Tumou Tou" ini kemudian menjadi fondasi utama yang mendasari sebagian besar teori maupun kebijakan-kebijakan dalam manajemen sumber daya manusia (SDM).

Qomariah (2020) dalam bukunya menyatakan bahwa “Sumber daya manusia harus diartikan sebagai sumber dari kekuatan yang berasal dari manusia-manusia yang dapat didayagunakan oleh organisasi. Kekuatan yang dimaksud di sini adalah kekuatan daya pikir dan pengetahuan yang dimiliki oleh sumber daya manusia tersebut”. Hal ini menunjukkan bahwa posisi manusia sebagai "mesin penggerak" utama dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuannya, menduduki posisi yang sangat krusial untuk dikembangkan dengan maksimal sesuai dengan kaidah-kaidah kemanusiaan yang berlaku.

Dalam studi manajemen, kita mengenal unsur-unsur yang terdiri dari Man (Manusia), Money (Modal), Material (Bahan), Machine (Alat), Method (Metode) dan Market (Pasar). Dari keenam unsur tersebut, unsur manusialah yang menjadi inti keberhasilan dari unsur-unsur yang lain. sudut pandang ini perlu dimiliki oleh setiap organisasi baik masyarakat maupun pemerintah, organisasi laba maupun nirlaba.

Jika nilai "Sitou Timou Tumou Tou" ini diterapkan dengan baik dan sungguh-sungguh dalam setiap aktivitas organisasi, maka akan timbul suasana rasa adil dan tidak akan ada pihak yang merasa terdiskriminasi atau dirugikan dalam organisasi. Tidak akan muncul aksi-aksi protes, demonstrasi dan kericuhan dengan dalih demi menuntut hak dan keadilan. Kondusifitas organisasi dapat tercipta dikarenakan para pengambil keputusan dalam organisasi selalu merasa bertanggung jawab terhadap setiap individu dalam organisasinya.

Para pengambil kebijakan tidak akan memandang pegawai, karyawan, anggota atau masyarakatnya sebagai alat untuk memenuhi hasrat kepentingan pribadi semata, namun melihat pegawai/karyawannya sebagai seorang manusia yang sama sepertinya. Sehingga setiap kali merumuskan maupun menentukan kebijakan organisasi, ia menempatkan dirinya dari sudut pandang anggotanya, melihat anggotanya sebagai manusia yang utuh seperti dirinya, memperlakukan karyawannya seperti ia ingin diperlakukan sebagai manusia. Sehingga ia perlu mempertimbangkan segala hal yang dapat merugikan atau menguntungkan bagi anggotanya.

Ketika anggota, karyawan, atau masyarakat dalam sebuah organisasi telah merasa diperlakukan sebagaimana setiap manusia ingin diperlakukan, maka akan muncul rasa bahagia dan kenyamanan yang berujung pada meningkatnya kinerja dan produktivitas dalam organisasi. Hal ini menjadi faktor penting untuk memudahkan setiap pemimpin atau top manager dalam organisasi untuk menggerakkan sumber daya manusianya demi mencapai tujuan organisasinya dengan lebih cepat dan efisien.