Komunikasi Ayah Menentukan Konsep Diri Anak: Bangun Hubungan Baik dengan Anak

Seorang Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ranti Nabilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ayah dan Ibu adalah sosok pertama yang dikenal oleh anak dan ditiru bagaimana sifat dan perilakunya. Tak heran jika ada pepatah yang mengatakan bahwa "anak adalah cerminan dari orang tua”. Orang tua harus mampu memberikan perhatian yang besar dalam proses tumbuh kembang anak, salah satunya dari sosok ayah. Tapi tahukah kamu bahwasanya cara orang tua berkomunikasi akan menentukan bagaimana anak dalam memahami konsep dirinya?
Nah, seperti yang kita ketahui bahwa sosok orang tua dalam keluarga adalah sebagai panutan dan sumber ilmu bagi anak. Dalam menyampaikan norma dan nilai kepada anak, cara berkomunikasi orang tua sangatlah penting. Sosok ayah adalah sosok yang dianggap memiliki peran penting dalam mendidik anak. Selain dituntut untuk mencari nafkah didalam keluarga, hal ini tidak menjadi alasan bagi ayah untuk tidak ikut serta dalam mendidik dan membangun hubungan yang baik dengan anak.
Penulis pernah melakukan wawancara beberapa kali kepada mahasiswa dari Universitas Andalas. Ketika ditanyai bagaimana kedekatan sang anak dengan orang tua terutama ayahnya, jawaban dari narasumber pun berbeda-beda. Ada yang dekat dan ada juga yang cukup dekat dengan sang ayah. Ternyata ketika ditanyai lebih lanjut alasan kedekatan seorang anak dengan ayahnya, terlihatlah dari bagaimana cara berkomunikasi ayah kepada anaknya.
“Sering diam kalo berdua sama Ayah. Ayah malu gitu untuk menyampaikan atau memperlihatkan kasih sayang ke anak, dan Ayah juga canggung . Lebih kurang malu menunjukkan kasih sayang kepada anaknya. Tapi sebenarnya memang sayang, hanya saja bukan tipe yang memperlihatkan langsung. Jadi biasanya komunikasi seputar kuliah, jarang komunikasi yang bercerita,” Ungkap Olvi yang merupakan salah satu mahasiswa Jurusan Manajemen Universitas Andalas.
“Aku dari kecil itu dekat sama Papa dan Mama. Tapi aku merasa nyaman sama Papa. Aku selalu pergi berdua sama Papa. Karena dari kecil diantar Papa, pergi sekolah diantar Papa, sampai les pun bahkan masih di antar jemput Papa. Dan aku sering quality time sama Papa. Kalo komunikasi juga bahas hal-hal receh yang buat kedekatan kami semakin terjalin” Jawaban lain juga disampaikan oleh Dinda yang merupakan salah satu mahasiswa Sastra Inggris dari Universitas Andalas.
Namun hal mendasar dari wawancara yang saya lakukan dengan narasumber beberapa waktu lalu adalah pernyataan narasumber yang menyatakan bahwa keberhasilan mereka dalam berprestasi dan mengenal diri sendiri adalah karena ayah. Mereka menyatakan bahwa sosok ayah yang selalu mendukung mereka dalam setiap hal mampu membantu mereka dalam mewujudkan kesuksesan sejauh ini.
“Papa bagi aku itu selalu pertama. Papa selalu bertanya ke anaknya dulu. Dan Papa Aku tipe yang selalu mendukung apapun itu yang terbaik untuk aku, contohnya dipendidikan. Setiap aku salah, Papa mampu menempatkan diri agar aku tidak mengulangi kesalahan yang sama. Dan yang terpenting, Papa selalu menjadi pengamat dan juri setiap aku melakukan sesuatu dan selalu mendukung,” Ucap Dinda menjelaskan bagaimana hubungan dan komunikasinya dengan sang Ayah.
“Mungkin Ayah aku tipe orang yang tidak terlalu mengkekang anaknya. Jadi apapun keputusan anaknya beliau dukung. Ayah selalu mendukung apapun yang anaknya ingin, biar tidak terlalu dikekang. semua asalkan itu di jalan yang benar,” Imbuh Olvi ketika ditanyakan hal yang sama.
Dari sini bisa kita melihat bahwasanya kemampuan sosok ayah menempatkan diri dalam berkomunikasi dengan anak sangatlah penting. Urgensi sosok ayah sebagai panutan menjadi bukti bahwa bagaimana ayah dalam membangun komunikasi dan kedekatan dengan anak akan berpengaruh kepada perkembangan konsep diri anak. Anak yang memiliki kedekatan dan komunikasi yang baik dengan ayah, akan lebih mampu memahami dirinya sendiri.
Untuk itu, bagi para orang tua marilah kita bangun komunikasi yang baik dengan anak. Komunikasi yang baik akan menghasilkan kedekatan batin dengan anak. Anak yang bahagia akan mampu lebih mudah dalam menerima dan memahami dirinya serta lingkungannya. Tidak perlu malu untuk mengungkapkan rasa sayang kepada anak, sebab anak membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari orang tua.
