Telusur Proses Kreatif Kepenulisan Martin Aleida

Mahasiswa Universitas PGRI Semarang, Program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Tulisan dari Radit Bayu A tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam rangka bedah dan diskusi buku, Martin Aleida (80 tahun) menceritakan tentang proses kreatifnya setelah menerbitkan buku barunya yang berjudul "Tuhan Menangis, Terluka". Diskusi yang diselenggarakan pada hari Jumat (27/1/2023) di kantor Kesekretariatan Aliansi Jurnalistik Independen (AJI), Kota Semarang, Jawa Tengah.
Melalui forum diskusi yang sederhana, eks jurnalis Tempo ini memberikan percikan kecil kepada para partisipan diskusi. Terlebih lagi forum diskusi tersebut banyak dihadiri oleh mahasiswa yang tergabung dalam kegitan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM).
Forum diskusi pun juga mendatangkan dua narasumber yang tak kalah hebat yaitu Widyanuari Eko Putra (esais dan pengelola penerbit Beruang) dan Ulil Albab Alshidqi (Jurnalis Serat.id).
Ketika masih dalam tahap proses menuliskan buku, Martin Aleida menggunakan teknik mengutip yang ditulis ulang (paraphrase). Hal tersebut ia lakukan untuk menghindari plagiarisme. Uniknya, narasi-narasi yang dituliskan di dalam buku menggunakan pendekatan jurnalisme keterlibatan.
"Proses menulis bukanlah proses yang mengikuti trend, tetapi menulis merupakan proses yang melibatkan," ungkap salah satu narasumber, Widyanuari Eko Putra (Wiwid). Hal tersebut bertujuan agar seorang pembaca turut terlibat dan berempati ketika membaca. Buku yang dibaca akan berlalu begitu saja tanpa adanya rasa empati.
Tentu pada setiap proses menuliskan buku terdapat tantangan tersendiri. Kemungkinan hal tersebut merupakan mudah bagi anak muda, tetapi tidak bagi Martin Aleida.
"Tantangan terbesar adalah mengumpulkan bahan dan itu dari website. Ketika itu di download saya tidak tahu cara mengorganisir," tuturnya dalam diskusi.
Buku dengan ketebalan 600 halaman akhirnya dapat diselesaikan dalam kurun waktu hampir dua tahun. Semua berkat kegigihan dan kekonsistenan Martin Aleida. Wiwid pun menambahkan bahwa buku ini membuat kesaksian lebar atau justru mempersempit. Penggunaan judul buku yang sangat metaforis.
