Konten dari Pengguna

Dari FYP ke Partisipasi Politik: Gen Z Perlu Lebih Kritis terhadap Konten TikTok

radita syazwina

radita syazwina

Mahasiswa Ilmu Hukum, Universitas Riau

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari radita syazwina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi generasi muda memanfaatkan media sosial untuk mengakses informasi, mengikuti perkembangan isu politik, dan berpartisipasi dalam diskusi mengenai demokrasi di era digital.Kredit gambar: dibuat menggunakan AI dengan(OpenAI), 2026.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi generasi muda memanfaatkan media sosial untuk mengakses informasi, mengikuti perkembangan isu politik, dan berpartisipasi dalam diskusi mengenai demokrasi di era digital.Kredit gambar: dibuat menggunakan AI dengan(OpenAI), 2026.

Media sosial kini menjadi salah satu tempat generasi muda menemukan informasi politik. Di TikTok, informasi tentang pemilu, calon pemimpin, kebijakan pemerintah, dan isu sosial dapat muncul di halaman For You Page (FYP), bahkan ketika pengguna awalnya hanya ingin mencari hiburan. Fenomena ini menunjukkan bahwa politik semakin dekat dengan keseharian Generasi Z (Gen Z). Berdasarkan hasil Sensus Penduduk 2020 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS), Gen Z mencakup 27,94 persen penduduk Indonesia. Jumlah tersebut membuat keterlibatan generasi muda penting bagi perkembangan demokrasi.

TikTok dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan politik kepada Gen Z. Video pendek dengan bahasa sederhana dan tampilan visual dapat membantu pengguna mengenali isu yang sebelumnya terasa rumit. Selain itu, ruang komentar dan fitur berbagi memungkinkan anak muda berdiskusi, menyampaikan pendapat, serta merespons persoalan publik. Bentuk keterlibatan seperti ini dapat menjadi langkah awal untuk membangun perhatian terhadap kehidupan demokrasi.

Meski demikian, mudahnya menemukan informasi tidak selalu berarti meningkatnya literasi politik. Video yang menarik belum tentu akurat, lengkap, atau menyajikan konteks secara seimbang. Pengguna bisa saja menyukai dan membagikan konten karena sependapat dengan pembuatnya, tanpa memeriksa sumber atau kebenaran klaim yang disampaikan. Jika kebiasaan ini dibiarkan, media sosial berisiko menjadi tempat menyebarkan informasi yang keliru, bukan ruang untuk memahami persoalan publik secara utuh.

Ilustrasi penggunaan TikTok sebagai media informasi politik bagi Generasi Z. Kredit gambar: dibuat menggunakan AI dengan (OpenAI), 2026.

Di sinilah pentingnya membedakan popularitas konten dari kualitas informasi. TikTok unggul dalam penyampaian yang cepat dan menarik, sedangkan media berita yang kredibel serta sumber resmi dapat membantu pembaca memahami konteks secara lebih mendalam. Keduanya dapat digunakan secara saling melengkapi. Ketika menemukan informasi politik di FYP, pengguna sebaiknya memeriksa siapa yang menyampaikan informasi, mencari sumber aslinya, membandingkannya dengan pemberitaan lain, serta memastikan tanggal dan konteksnya sebelum membagikan konten tersebut.

Literasi politik juga tidak cukup diukur dari seberapa sering seseorang menonton video politik atau ikut berkomentar. Yang lebih penting ialah kemampuan memahami isu, mengenali perbedaan fakta dan opini, serta mempertimbangkan dampak dari informasi yang disebarkan. Diskusi politik di ruang digital pun perlu dilakukan dengan santun, berdasarkan alasan yang jelas, dan menghormati orang yang memiliki pandangan berbeda.

Karena itu, pengguna, pembuat konten, dan penyedia platform memiliki peran dalam membangun ruang digital yang lebih sehat. Pengguna perlu membiasakan diri memeriksa informasi. Pembuat konten sebaiknya mencantumkan sumber dan tidak menyederhanakan isu hingga menyesatkan. Sementara itu, platform perlu terus mendukung upaya penanganan konten yang melanggar aturan. Di lingkungan pendidikan, keterampilan memeriksa sumber dan memahami informasi digital juga perlu diperkuat.

Pada akhirnya, TikTok dapat membuka kesempatan bagi Gen Z untuk mengenal politik dan berpartisipasi dalam diskusi publik. Namun, manfaat itu bergantung pada cara informasi diterima dan digunakan. Tantangan generasi muda bukan hanya mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya, melainkan menilai informasi secara kritis dan bertanggung jawab. FYP dapat menjadi awal untuk mengenal sebuah isu, tetapi pemahaman politik yang baik memerlukan pemeriksaan sumber, pemahaman konteks, dan kemauan untuk terus belajar.

Sumber Referensi

Kompas.com. (2023, 27 Juli). “Pemilu TikTok” dan Kompleksitas Kampanye Digital pada Pemilu 2024. https://amp.kompas.com/tren/read/2023/07/27/093233565/pemilu-tiktok-dan-kompleksitas-kampanye-digital-pada-pemilu-2024

CNN Indonesia. (2022, 3 Agustus). Bawaslu Pelototi TikTok, Cegah Kampanye Negatif Pemilu 2024. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20220803171441-617-829896/bawaslu-pelototi-tiktok-cegah-kampanye-negatif-pemilu-2024/amp

CNN Indonesia. (2023, 15 November). TikTok Larang Iklan Politik Pemilu 2024, tapi Izinkan Konten Politik. https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20231115183355-192-1024759/tiktok-larang-iklan-politik-pemilu-2024-tapi-izinkan-konten-politik/amp

Badan Pusat Statistik Kabupaten Demak. (2021, 21 Januari). Hasil Sensus Penduduk 2020.

https://demakkab.bps.go.id/id/news/2021/01/21/67/hasil?utm_source