Konten dari Pengguna

Tentang Masa Depan Perempuan yang Berpendidikan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Radhita Atsmaina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Kumparan/Tenistya Deril Aisyah
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Kumparan/Tenistya Deril Aisyah

“Untuk apa sebenarnya perempuan sekolah tinggi-tinggi?”

Pertanyaan yang terdengar sederhana. Namun, di balik pertanyaan itu, seolah ada anggapan bahwa pendidikan perempuan harus selalu memiliki tujuan yang bisa diketahui dan diterima oleh orang lain.

Perempuan yang berkuliah diharapkan bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang mapan, menjadi sukses, lalu memiliki kehidupan yang dianggap ideal. Tetapi ketika setelah mendapatkan pendidikan tinggi seorang perempuan memilih jalan yang berbeda, pertanyaan lain mulai muncul. Ke mana gelar yang kemarin didapatkan? Apakah hanya untuk berakhir di pintu dapur?

Seolah-olah pendidikan perempuan baru dianggap berarti ketika hasil akhirnya sesuai dengan harapan orang lain.

Pendidikan bagi perempuan akhirnya tidak hanya menjadi tentang apa yang ingin dipelajari, tetapi juga tentang apa yang diharapkan orang lain setelah pendidikan itu selesai. Padahal, tidak ada yang seharusnya berhak menentukan bagaimana seorang perempuan menggunakan pendidikan yang sudah ia dapatkan.

Salah satu hal yang bisa diberikan pendidikan kepada perempuan adalah kebebasan. Kebebasan untuk menentukan apa yang ingin diraih, dijalani, dan dijadikan tujuan di masa depan. Namun, kebebasan itu tidak selalu datang bersama pendidikan.

Perempuan masih sering menerima titipan harapan dari orang-orang di sekitarnya. Tentang pekerjaan yang seharusnya dipilih, tentang kehidupan yang seharusnya dijalani, bahkan tentang seperti apa perempuan seharusnya menggunakan pendidikan yang sudah ia tempuh.

Di sinilah pemikiran bell hooks menjadi menarik untuk dibicarakan.

Bell hooks merupakan seorang penulis, akademisi, dan pemikir feminis yang banyak membahas hubungan antara pendidikan, feminisme, dan pembebasan. Bagi hooks, pendidikan tidak hanya tentang memperoleh pengetahuan, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk berpikir kritis, menemukan suara, dan membebaskan diri dari cara berpikir yang membuat seseorang hanya menerima keadaan begitu saja.

Pemikiran tersebut membuat pendidikan perempuan dapat dilihat dari sudut yang berbeda.

Pendidikan bukan hanya jalan untuk mendapatkan pekerjaan atau gelar. Pendidikan juga dapat menjadi ruang bagi perempuan untuk mengenali dirinya sendiri, mempertanyakan hal-hal yang selama ini dianggap biasa, dan menyuarakan apa yang menurutnya tidak adil.

Dengan ilmu yang didapatkan, perempuan memiliki kesempatan untuk melihat dunia dengan lebih luas. Ia bisa mempertanyakan mengapa pilihan tertentu dianggap pantas untuk perempuan, sementara pilihan lainnya dianggap terlalu jauh dari apa yang diharapkan masyarakat.

Di titik ini, pendidikan menjadi lebih dari sekadar sesuatu yang selesai ketika seseorang mendapatkan ijazah.

Pendidikan dapat menjadi ruang transformasi. Ruang yang membuat seseorang tidak hanya menerima peran yang sudah tersedia untuknya, tetapi juga memiliki keberanian untuk mempertanyakan dan menentukan perannya sendiri.

Karena itu, perempuan yang berpendidikan tidak seharusnya hanya dilihat dari pekerjaan apa yang akhirnya ia miliki.

Banyak jenis kehidupan yang dapat dirasakan oleh perempuan bahkan setelah mendapat pendidikan. Perempuan boleh mengejar karier. Perempuan boleh menikah. Perempuan boleh menjadi ibu. Perempuan boleh bekerja dari rumah, melanjutkan pendidikan, membangun usaha, atau memilih jalan lain yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh orang-orang di sekitarnya.

Tidak ada satu bentuk kehidupan yang otomatis membuat pendidikan seorang perempuan menjadi lebih berarti daripada yang lainnya.

Yang menjadi persoalan adalah ketika pilihan tersebut tidak benar-benar menjadi pilihan. Ketika perempuan menjalani sesuatu bukan karena ia menginginkannya, tetapi karena sejak awal sudah ada kehidupan yang dianggap paling pantas untuknya.

Pada akhirnya, pendidikan seharusnya tidak membuat perempuan memiliki satu jalan hidup yang baru. Pendidikan justru seharusnya membuat lebih banyak jalan menjadi mungkin.

Mungkin pertanyaan tentang pendidikan perempuan tidak seharusnya berhenti pada, “akan menjadi apa ia nanti?”

Mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah, "setelah mendapatkan pendidikan, apakah ia memiliki cukup ruang untuk menentukan akan menjadi siapa dirinya?"