Rudal dan Narasi: Propaganda dalam Konflik Iran, Israel, dan Amerika

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Radithya Aziz Al-fariz tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perang modern tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan militer di medan tempur, tetapi juga oleh kemampuan mengendalikan narasi di ruang informasi. Konflik antara Iran, Israel, dan United States pada 2026 memperlihatkan bagaimana rudal dan propaganda berjalan beriringan. Serangan militer yang dimulai melalui operasi bersama Israel dan Amerika terhadap berbagai target di Iran tidak hanya memicu eskalasi militer, tetapi juga memicu pertarungan narasi global mengenai legitimasi perang, korban sipil, dan ancaman keamanan regional.
Dalam konflik ini, informasi menjadi alat strategis yang tidak kalah penting dibandingkan senjata konvensional. Setiap pihak berusaha membingkai peristiwa perang melalui narasi yang dapat memperkuat legitimasi mereka sekaligus melemahkan lawan di mata publik internasional. Oleh karena itu, konflik ini bukan hanya perang rudal, tetapi juga perang propaganda yang berlangsung di media massa, media sosial, dan ruang diplomasi global.
Narasi Keamanan: Justifikasi Israel dan Amerika
Bagi Israel dan Amerika Serikat, operasi militer terhadap Iran dipresentasikan sebagai langkah preventif untuk menghilangkan ancaman strategis. Pemerintah kedua negara menekankan bahwa serangan tersebut bertujuan menghancurkan fasilitas militer Iran, program rudal balistik, serta mencegah potensi pengembangan senjata nuklir yang dianggap sebagai ancaman eksistensial bagi keamanan regional.
Narasi keamanan ini penting dalam membangun legitimasi internasional. Dengan membingkai operasi militer sebagai tindakan pertahanan diri atau pencegahan ancaman, Israel dan Amerika berusaha memperoleh dukungan dari sekutu Barat serta meminimalkan kritik terhadap penggunaan kekuatan militer. Dalam politik internasional, framing semacam ini sering digunakan untuk mengubah tindakan militer menjadi kebijakan yang tampak defensif dan rasional.
Narasi Perlawanan: Strategi Propaganda Iran
Di sisi lain, Iran mempromosikan narasi yang berbeda. Pemerintah Iran menggambarkan serangan tersebut sebagai agresi imperialisme Barat yang melanggar kedaulatan negara. Dalam narasi ini, Iran diposisikan sebagai korban agresi sekaligus simbol perlawanan terhadap dominasi geopolitik Amerika dan Israel di Timur Tengah.
Narasi tersebut tidak hanya ditujukan kepada masyarakat domestik, tetapi juga kepada dunia internasional, khususnya negara-negara Global South yang memiliki sejarah panjang terhadap intervensi Barat. Dengan memanfaatkan sentimen anti-imperialisme, Iran berusaha membangun solidaritas politik dan moral terhadap posisinya dalam konflik tersebut.
Media Sosial dan Disinformasi dalam Perang Modern
Salah satu ciri khas konflik modern adalah peran media sosial dalam mempercepat penyebaran propaganda. Dalam konflik Iran–Israel, berbagai video, gambar, dan klaim mengenai serangan militer beredar luas di platform digital. Banyak di antaranya ternyata menggunakan rekaman lama atau gambar yang dimanipulasi untuk memperkuat narasi tertentu mengenai keberhasilan serangan atau kerusakan yang dialami pihak lawan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa medan perang digital menjadi semakin penting dalam konflik geopolitik. Informasi yang viral sering kali memiliki dampak politik yang besar meskipun kebenarannya belum diverifikasi. Dalam situasi seperti ini, propaganda dapat menyebar lebih cepat dibandingkan fakta.
Dampak Narasi terhadap Politik Global
Pertarungan narasi tidak hanya mempengaruhi opini publik, tetapi juga kebijakan luar negeri negara-negara lain. Dukungan diplomatik, tekanan terhadap gencatan senjata, hingga keputusan untuk memberikan bantuan militer sering kali dipengaruhi oleh bagaimana suatu konflik dipersepsikan oleh masyarakat internasional.
Selain itu, konflik ini juga memicu eskalasi regional yang melibatkan berbagai aktor lain di Timur Tengah, termasuk kelompok sekutu Iran seperti Hezbollah yang melancarkan serangan terhadap Israel setelah eskalasi perang. Hal ini menunjukkan bahwa propaganda tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi politik, tetapi juga sebagai instrumen mobilisasi dukungan dan legitimasi dalam konflik berskala regional.
Kesimpulan
Konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat memperlihatkan bahwa perang modern berlangsung di dua medan sekaligus: medan militer dan medan informasi. Rudal, drone, dan operasi militer menentukan dinamika strategis di lapangan, sementara propaganda dan narasi menentukan bagaimana konflik tersebut dipahami oleh dunia. Dalam konteks ini, kemenangan tidak hanya diukur dari keberhasilan menghancurkan target militer, tetapi juga dari kemampuan mengendalikan persepsi publik global.
Dengan demikian, perang di Timur Tengah saat ini menunjukkan bahwa propaganda telah menjadi bagian integral dari strategi geopolitik modern. Siapa yang mampu menguasai narasi konflik sering kali memiliki keunggulan dalam membangun legitimasi internasional, memobilisasi dukungan politik, dan mempengaruhi arah diplomasi global.
