Konten dari Pengguna

Ketika Istirahat Terasa Salah: Memahami Rasa Bersalah di Balik Produktivitas

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Raditya albani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Terjebak Rasa Bersalah: Ketika Istirahat Terasa Seperti Kegagalan. Sumber gambar: Generate AI
zoom-in-whitePerbesar
Terjebak Rasa Bersalah: Ketika Istirahat Terasa Seperti Kegagalan. Sumber gambar: Generate AI

Merasa bersalah saat beristirahat tidak otomatis berarti kamu malas. Bisa jadi, kamu terbiasa mengukur nilai diri dari seberapa banyak hal yang berhasil kamu selesaikan. Kebiasaan ini bisa dikenali dan perlahan diubah.

Minggu sore, pekerjaan beres, kamu akhirnya rebahan. Lima menit kemudian bisikan itu datang: "Harusnya kamu belajar sesuatu." Tidak ada tenggat dan tidak ada yang mengawasi, tetapi tubuhmu terbaring sementara kepalamu berlari.

Rebahan 20 Menit, Rasa Bersalah 2 Jam

Istilah toxic productivity kerap digunakan untuk menggambarkan dorongan untuk terus menghasilkan sesuatu meskipun sudah melampaui batas kemampuan, termasuk ketika seseorang merasa bersalah saat beristirahat. Mahasiswa yang tinggi dalam hal ini cenderung memasang standar prestasi tidak realistis dan memandang istirahat sebagai kegagalan. Toxic productivity dan hustle culture memang berkaitan, tetapi keduanya tidak sepenuhnya sama. Hustle culture adalah budaya yang mengagungkan kesibukan, kerja keras berlebihan, dan pencapaian seolah-olah seseorang harus terus bekerja untuk dianggap sukses. Budaya ini dapat muncul di lingkungan kerja, kampus, bahkan media sosial, ketika orang yang sibuk dipandang lebih hebat daripada mereka yang mengambil waktu untuk beristirahat.

Sementara itu, toxic productivity lebih berfokus pada dorongan untuk terus menghasilkan sesuatu meskipun tubuh dan pikiran membutuhkan jeda. Dorongan ini bisa membuat seseorang merasa bersalah ketika tidak mengerjakan apa pun, bahkan saat tidak ada tuntutan dari luar. Dengan kata lain, hustle culture merupakan salah satu lingkungan yang dapat memperkuat toxic productivity, sedangkan toxic productivity dapat muncul sebagai tekanan yang dirasakan seseorang dari dalam dirinya sendiri.

Psikolog UGM, Indrayanti, menyebutnya "racun di pikiran": orang mengira produktif berarti harus kerja keras dan lembur, lalu merasa bersalah bila tidak melakukannya.

Seberapa umum fenomena ini? Sebuah kuesioner dalam tugas akhir mahasiswa Universitas Multimedia Nusantara (UMN) melaporkan bahwa 94,2% dari 103 responden merasa bersalah ketika tidak produktif sepanjang hari. Sebanyak 97,1% responden dalam penelitian tersebut merupakan mahasiswa. Angka ini memberikan gambaran tentang pengalaman sebagian responden, tetapi tidak dapat dianggap mewakili seluruh mahasiswa, apalagi seluruh anak muda Indonesia. Jumlah responden yang terbatas dan karakteristik sampel perlu diperhitungkan ketika membaca hasilnya. Meski demikian, temuan tersebut dapat menjadi titik awal untuk memahami bagaimana tuntutan produktivitas berkaitan dengan rasa bersalah saat beristirahat.

Sibuk jadi lencana

Indrayanti menjelaskan bahwa hustle culture tumbuh dari workaholic: hidup untuk bekerja, bukan bekerja untuk hidup. Ketika orang lain terlihat lembur, yang tidak ikut bisa merasa tertinggal dan insecure. Media sosial memperkuatnya karena prestasi orang lain mudah dibandingkan dengan dirimu. Psikolog Universitas Tarumanagara, Untung Subroto Dharmawan, menambahkan bahwa paparan kesuksesan orang lain di media sosial membentuk standar tinggi sejak usia muda.

Kamu mungkin sedang berbaring di kasur, tetapi pikiranmu terus membandingkan pencapaian sendiri dengan kehidupan orang lain. Tubuhmu berhenti bergerak, sementara pikiranmu masih merasa tertinggal.

Harga Diri yang Dihitung dari Centang Daftar Tugas

Apa jadinya jika kamu merasa tidak berharga hanya karena belum menyelesaikan semua tugas? Penelitian terhadap 144 mahasiswa yang bekerja menemukan hubungan positif antara toxic productivity dan burnout

Saat terus memaksa diri bekerja, waktu istirahat berkurang dan pikiran sulit lepas dari pekerjaan. Jika berlangsung terus-menerus, kelelahan bisa menumpuk. Meski begitu, hubungan ini bukan berarti toxic productivity pasti menyebabkan burnout.

Istirahat Bukan Hadiah, Melainkan Bahan Bakar

Kita sering menganggap istirahat sebagai hadiah setelah semuanya selesai. Kemenkes memandangnya sebagai kebutuhan dasar. Pada World Sleep Day 2026, Imran Pambudi dari Kemenkes menyebut tidur berkualitas sebagai pilar kesehatan setara nutrisi dan olahraga, karena saat tidur otak dan tubuh memulihkan memori, imun, dan hormon. Penyuluhan RSUP Dr. M. Djamil Padang yang dimuat situs Kemenkes juga menyebut tidur cukup membantu menstabilkan emosi dan mengurangi stres.

Memang yang dibahas adalah tidur, bukan rebahan sore hari. Namun pesannya sama: pemulihan itu kerja biologis, bukan kemalasan.

Cara Berdamai dengan Kasur

  1. Namai suaranya. Saat bisikan "harusnya kamu produktif" muncul, ingat bahwa itu pola yang dipelajari, bukan fakta tentang dirimu.

  2. Pasang target kecil dan bertahap. Psikolog Untar menyarankan target yang tidak terlalu tinggi agar terhindar dari jebakan ini.

  3. Jaga tidur dan layar. Kemenkes menganjurkan dewasa menargetkan 7 sampai 9 jam tidur dan membatasi layar satu jam sebelum tidur.

  4. Latih belas kasih pada diri sendiri. Peneliti Surabaya menyarankan self-compassion dan manajemen waktu yang realistis.

Langkah 1 adalah saran saya, bukan kutipan dari sumber mana pun.

Jika lelah tidak pulih meski sudah cukup istirahat, atau muncul sikap sinis terhadap pekerjaan, itu bisa jadi tanda burnout. Katadata menganjurkan memanfaatkan Cek Kesehatan Gratis di puskesmas terdekat untuk mengenali kondisi kesehatan jiwa lebih awal.