Saatnya Naik Bus Jadi Pilihan Utama, Bukan Pilihan Terakhir

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi UNEJ
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Raditya Pinasthika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah meningkatnya mobilitas antarkota dan antarprovinsi, moda transportasi kereta api kini kian populer dan jadi andalan banyak orang. Kenyamanan, ketepatan waktu, dan kemudahan akses informasi membuat kereta begitu diminati, terutama bagi mereka yang ingin bepergian dengan tenang tanpa risiko keterlambatan.
Namun di sisi lain, ada moda transportasi yang justru mulai tersisih dari perhatian: bus. Padahal, jika ditelaah lebih jauh, layanan bus saat ini sudah jauh berkembang. Sayangnya, stigma lama yang melekat kuat membuat banyak orang enggan kembali melirik opsi ini.
Stigma yang Tak Kunjung Pudar
Bus selama ini kerap dipandang sebagai moda transportasi “kelas dua” semacam pilihan terakhir bagi mereka yang tidak punya alternatif lain. Persepsi ini terbentuk dari pengalaman masa lalu yaitu, bus yang panas, sesak, penuh, dan tidak nyaman. Bukan hanya itu, ada pula kekhawatiran soal keamanan, keterlambatan, hingga pelayanan yang tidak ramah.
Padahal, fakta di lapangan sudah jauh berbeda. Banyak Perusahaan Otobus (PO) kini melakukan peremajaan armada dan meningkatkan pelayanan mereka. Bus-bus eksekutif modern telah dilengkapi dengan AC, kursi yang bisa direbahkan (reclining seat), toilet bersih, colokan listrik, hiburan selama perjalanan, bahkan layanan makan.
Namun sayangnya, peningkatan ini belum banyak diketahui masyarakat luas. Minimnya promosi dan narasi positif membuat perubahan tersebut seolah tak pernah terjadi. Yang terus menempel di benak masyarakat adalah pengalaman buruk masa lalu, dan ini menjadi penghambat utama bagi kemajuan transportasi darat kita.
Ketepatan Waktu: Dulu Masalah, Kini Mulai Teratasi
Salah satu alasan utama mengapa masyarakat lebih memilih kereta adalah kepastian waktu. Kereta berangkat dan tiba sesuai jadwal, sementara bus sering kali harus ngetem menunggu penumpang atau terjebak macet di jalur arteri. Tapi kini, gambaran tersebut mulai bergeser.
Dengan berkembangnya infrastruktur jalan tol di Indonesia, khususnya Trans-Jawa, banyak PO kini memilih rute full tol untuk perjalanan antarkota dan antarprovinsi. Rute seperti Surabaya-Jakarta, Surabaya-Bandung, atau bahkan Jakarta–Malang kini bisa ditempuh lebih cepat karena hampir seluruhnya melintasi jalan bebas hambatan. Ini membuat waktu tempuh bus menjadi lebih stabil dan tidak kalah bersaing dengan kereta api.
Beberapa PO bahkan mulai berani mencantumkan estimasi waktu perjalanan di platform mereka, menunjukkan bahwa mereka mulai berkomitmen terhadap aspek ketepatan waktu yang selama ini menjadi kelemahan.
Sayangnya, belum semua masyarakat mengetahui fakta ini. Masih banyak orang yang berasumsi bahwa naik bus berarti harus siap terlambat dan penuh ketidakpastian. Padahal, kenyataannya kini tak lagi demikian.
Fasilitas Premium, Harga Rakyat
Bukan hanya soal waktu, kenyamanan di dalam bus juga sudah naik kelas. Dalam beberapa tahun terakhir, industri perbusan Indonesia mulai menunjukkan inovasi besar-besaran lewat hadirnya sleeper bus, yakni bus dengan tempat tidur pribadi yang bisa direbahkan penuh, lengkap dengan berbagai fasilitas diantaranya yaitu tirai, bantal, selimut, AVOD, lampu baca, makanan ringan, air mineral, bahkan service makan.
Fasilitas ini dulunya hanya bisa dinikmati oleh pengguna kelas bisnis di kereta atau penumpang pesawat kelas atas. Kini, masyarakat bisa menikmatinya dengan harga yang jauh lebih terjangkau.
Rata-rata tarif sleeper bus untuk rute menengah hingga jauh berkisar di angka Rp350.000 hingga Rp600.000. Bandingkan dengan layanan serupa di kereta api seperti Kompartemen Suites milik PT KAI, yang harganya bisa menembus Rp2 juta per orang. Artinya, dengan sepertiga harga, penumpang sudah bisa merasakan kenyamanan dan privasi maksimal selama perjalanan malam.
Sleeper bus menjadi bukti bahwa layanan premium tak harus mahal. Dan sekali lagi, industri bus membuktikan bahwa mereka tak kalah inovatif dibanding moda transportasi lain.
Masalah Informasi yang Masih Jadi PR
Di balik semua peningkatan fasilitas dan layanan, masih ada satu tantangan besar yang dihadapi industri perbusan: akses informasi. Sampai hari ini, masih banyak PO yang belum memiliki sistem pemesanan dan informasi digital yang lengkap. Hal ini menjadi kerugian besar, terutama saat bersaing dengan kereta api yang sudah memiliki platform daring terintegrasi dengan pilihan kursi, estimasi keterlambatan, dan kemudahan pembayaran.
Masyarakat modern menuntut transparansi dan aksesibilitas. Tanpa kehadiran aplikasi atau sistem informasi yang kuat, bus akan tetap dipersepsikan sebagai moda yang “tidak pasti” padahal kenyataannya tidak demikian.
Jika saja akses terhadap informasi seperti jadwal, harga tiket, rute, serta ulasan penumpang mudah ditemukan, maka akan lebih banyak orang yang bersedia mencoba dan akhirnya kembali percaya pada moda transportasi ini.
Data Bicara: Kereta Melaju, Bus Tertinggal
Statistik terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sepanjang Januari hingga September 2024, jumlah penumpang kereta api mencapai 312,8 juta orang, naik lebih dari 14% dibanding tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan tren kepercayaan masyarakat yang terus meningkat pada kereta.
Sementara itu, jumlah penumpang bus, khususnya AKAP (Antar Kota Antar Provinsi) tidak menunjukkan lonjakan serupa. Bahkan, pada musim mudik Lebaran 2025 lalu, beberapa terminal besar di Jakarta mencatat penurunan penumpang dibanding tahun sebelumnya.
Ini bukan semata soal kualitas, tetapi lebih kepada soal persepsi. Bus telah banyak berubah, namun tanpa dukungan promosi, kampanye media, dan ekosistem digital yang baik, masyarakat tidak punya cukup alasan untuk mencoba kembali.
Saatnya Membangun Kembali Kepercayaan
Untuk mengubah kondisi ini, perlu ada sinergi kuat antara pemerintah, operator bus, dan platform digital. Pemerintah harus mendorong transformasi digital dalam dunia perbusan, menyediakan terminal yang bersih dan aman, serta mempertimbangkan insentif bagi PO yang berinvestasi pada kualitas layanan.
Operator bus juga perlu lebih aktif mempromosikan armadanya. Tidak cukup hanya memperbaiki fisik kendaraan, mereka harus membangun narasi dan kepercayaan. Testimoni penumpang, review jujur, video perjalanan, hingga kerja sama dengan travel vlogger bisa jadi alat efektif untuk mengubah citra.
Yang tak kalah penting: masyarakat juga perlu membuka diri. Memberi kesempatan pada moda yang mungkin dulu mengecewakan, tapi kini telah berubah.
Naik Bus Bukan Lagi Pilihan Terakhir
Naik bus hari ini bukan sekadar tentang berhemat. Ini adalah soal memilih moda yang fleksibel, ekonomis, dan kini juga nyaman. Sleeper bus menjadi solusi perjalanan malam tanpa repot. Rute full tol memberikan ketepatan waktu. Harga yang masuk akal membuatnya bisa dinikmati semua kalangan.
Sudah waktunya kita menghapus stigma bahwa bus adalah pilihan terpaksa. Karena kenyataannya, bagi banyak orang, naik bus adalah pilihan sadar yang masuk akal, baik dari sisi biaya, kenyamanan, maupun pengalaman.
Yang dibutuhkan hanyalah satu hal, yaitu kepercayaan baru. Dan kepercayaan itu bisa dibangun kembali. Perlahan, tapi pasti.
