Konten dari Pengguna

Cegah Stunting dari Hulu: Pelajaran Nyata dari Sanga-Sanga Muara

Radiyah Mutmainnah

Radiyah Mutmainnah

Lulusan Hubungan Internasional, Universitas Mulawarman. Aktif menulis berbagai artikel, dengan fokus utama pada isu budaya dan diplomasi internasional.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Radiyah Mutmainnah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada tahun 2015, dunia sepakat menetapkan 17 tujuan pembangunan berkelanjutan dalam kerangka Sustainable Development Goals (SDGs). Salah satu poin pentingnya adalah memastikan kehidupan sehat dan mendukung kesejahteraan untuk semua, termasuk anak-anak.

Di Indonesia, langkah ini diterjemahkan melalui komitmen menuju "Indonesia Emas 2045", sebuah visi besar untuk mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif. Namun, mimpi ini bisa terancam jika masalah stunting tidak segera ditangani secara serius.

Indonesia tengah bersiap menuju visi besar Indonesia Emas 2045, yang menginginkan generasi unggul, sehat, dan kompetitif. Tapi bagaimana mungkin itu terwujud jika jutaan anak mengalami hambatan tumbuh kembang sejak dini?

Photo by Vanessa Julia Sonda

Stunting masih menjadi salah satu tantangan kesehatan anak paling serius di Indonesia. Data dari berbagai lembaga menunjukkan bahwa meski angka stunting terus menurun, prevalensinya masih tinggi dibandingkan standar global. Kondisi ini tentu berdampak pada kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.

Stunting bukan hanya soal tinggi badan anak yang lebih pendek dari standar usianya. Lebih dari itu, stunting bisa memengaruhi perkembangan otak, kecerdasan, daya tahan tubuh, bahkan produktivitas saat anak tumbuh dewasa.

Apa Itu Stunting dan Mengapa Harus Diwaspadai?

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, dan kurangnya stimulasi, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan. Di Indonesia, penyebab stunting juga sering dikaitkan dengan:

  • Pengetahuan gizi yang rendah,

  • Makanan bergizi yang tidak terjangkau,

  • Sanitasi yang buruk,

  • Kurangnya akses layanan kesehatan.

Menurut WHO, stunting bisa dicegah jika penanganan dilakukan secara dini dan menyeluruh. Inilah yang membuat edukasi dan keterlibatan masyarakat menjadi sangat penting.

Pengalaman Langsung: Mencegah Stunting Lewat Program KKN

Selama pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN), saya dan tim mahasiswa dari Universitas Mulawarman terjun langsung ke Kelurahan Sanga-Sanga Muara, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Wilayah ini memiliki tingkat kesadaran masyarakat yang mulai tumbuh, namun tetap menghadapi tantangan dalam hal stunting dan kesehatan lingkungan.

Dalam program ini, kami berupaya tidak hanya memberi edukasi, tetapi juga melakukan aksi nyata yang dapat dilanjutkan oleh masyarakat setelah program selesai.

1. Edukasi Sanitasi dan Contoh Jamban Sehat

Photo by Radiyah Mutmainnah

Kami melakukan sosialisasi kepada warga mengenai pentingnya sanitasi sehat sebagai fondasi kesehatan keluarga. Banyak warga tinggal di tepi sungai dengan akses MCK yang terbatas. Maka, kami:

  • Menyampaikan materi edukasi tentang sanitasi dan kebersihan lingkungan yang berkerjasama dengan puskesmas setempat.

  • Memberikan contoh pembuatan jamban sehat.

  • Membagikan bahan bacaan sederhana yang mudah dipahami.

2. Edukasi Remaja SMP: Pentingnya Tablet Tambah Darah

Photo by Radiyah Mutmainnah

Stunting tidak hanya dicegah saat anak lahir—tapi dimulai bahkan sejak remaja. Dalam kunjungan ke sekolah menengah pertama, kami menyampaikan pentingnya konsumsi tablet tambah darah bagi remaja putri.

Kenapa ini penting?

Anemia pada remaja putri bisa berdampak saat mereka menjadi ibu. Ibu yang anemia berisiko tinggi melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah dan mengalami stunting. Maka, edukasi ini adalah bentuk pencegahan sejak dini, bahkan sebelum kehamilan terjadi.

3. Kelas Ibu Hamil dan Kesehatan Keluarga

Photo by Anisa Dewi Indah Simbolon

Kami mendampingi kegiatan rutin posyandu dalam menyelenggarakan kelas ibu hamil. Materi yang kami sampaikan meliputi:

  • Gizi seimbang untuk kehamilan,

  • Suplemen penting (asam folat, zat besi),

  • Konseling kehamilan dan psikologis ibu,

  • Peran suami dan keluarga dalam mendukung kehamilan sehat.

4. Pengkaderan Ibu-Ibu Posyandu

Photo by Radiyah Mutmainnah

Agar program terus berlanjut setelah KKN berakhir, kami mengadakan pelatihan untuk kader posyandu. Mereka kami latih untuk:

  • Teknik pengukuran berat dan tinggi badan balita dengan alat yang tersedia.

  • Interpretasi hasil pengukuran dan cara menyampaikan edukasi gizi kepada ibu-ibu lainnya.

  • Penggunaan buku KIA dan alat-alat posyandu secara mandiri

5. Edukasi Anak-Anak TK: Mengenal Isi Piringku

Photo by Vanessa Julia Sonda

Tak hanya menyasar ibu hamil dan remaja, kami juga mengunjungi anak-anak di taman kanak-kanak (TK). Di sana, kami mengenalkan konsep “Isi Piringku” sebuah pedoman gizi seimbang untuk anak-anak.

Dengan metode bermain sambil belajar, anak-anak dikenalkan pada pentingnya:

  • Sayur dan buah di setiap makan,

  • Sumber protein seperti telur dan ikan,

  • Karbohidrat sehat sebagai energi,

  • Air putih sebagai minuman utama.

  • Mencuci tangan dan pentingnya kebersihan

Kami menggunakan gambar berwarna, lagu, dan aktivitas menggambar agar anak-anak lebih mudah memahami dan menyukai makanan sehat.

Mengapa semua ini harus dilakukan?

Stunting bukan hanya urusan tenaga kesehatan atau pemerintah. Ini adalah tanggung jawab bersama. Pencegahan stunting butuh keterlibatan semua pihak: keluarga, sekolah, masyarakat, kader posyandu, hingga mahasiswa.

Apa yang kami lakukan selama KKN di Sanga-Sanga Muara hanyalah langkah kecil. Tapi kami percaya, perubahan besar dimulai dari hal kecil yang konsisten dilakukan.

Stunting Bukan Takdir, Tapi Bisa Dicegah

Anak-anak Indonesia berhak tumbuh sehat dan cerdas. Stunting bukan sesuatu yang tidak bisa dicegah. Dengan sinergi antar lapisan masyarakat, kita bisa membangun generasi masa depan yang lebih kuat.

Mulai dari perbaikan sanitasi, edukasi sejak remaja, pemberdayaan posyandu, hingga mendukung ibu hamil—semuanya adalah bagian penting dari solusi.

Mari cegah stunting dari sekarang. Karena generasi sehat dimulai hari ini, bukan nanti.

referensi:

Agustina, N. (2022) Ciri Anak Stunting [daring]. Tersedia di: https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1519/ciri-anak-stunting

Alexander Wendt. (1992) Anarchy is what States Make of it: The Social Construction of Power Politics. 40(2), pp. 391-425. Tersedia di: http://links.jstor.org/sici?sici=0020-8183%28199221%2946%3A2%3C391%3AAIWSMO%3E2.0.CO%3B2-9

Annur Cindy, M. (2023) Angka Stunting Indonesia Turun pada 2022, Rekor Terbaik Dekade Ini [daring]. Tersedia di:

https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2023/01/26/angka-stunting-indonesia-turun-pada-2022-rekor-terbaik-dekade-ini

Dinas Pemberdayaan Masyarakat Dan Kalurahan Pengendalian Penduduk Dan Keluarga Berencana. (2021) Urgensi Tim Pendamping Keluarga untuk Program Penurunan Angka Stunting [daring]. Tersedia di: https://ppid.gunungkidulkab.go.id/berita/3375

Farhani, P. (2020) Teori Konstruktivisme [daring]. Tersedia di: https://www.dictio.id/t/bagaimana-teori-kontruktivisme-dalam-hubungan-internasional/125574/2

Sulaemani, A, dkk. (2022) Buku Pegangan Seri 2 MBKM Mahasiswa Peduli Stunting. Jakarta: Direktorat Kerjasama Pendidikan Kependudukan – BKKBN

Widasari, dkk. (2023) Stunting-Pedia: Apa yang Perlu Diketahui tentang Stunting Jilid 1 Konsep Stunting dan Daur Kehidupan. Jakarta: PT Gramedia

World Health Organization (WHO). (2018) Reducing Stunting in Children: Equity Considerations for Achieving the Global Nutrition Targets 2025. Geneva: WHO

World Health Organization (WHO). (2015) Stunting in a Nutshell [daring]. Tersedia di:

https://www.who.int/news/item/19-11-2015-stunting-in-a-nutshell