Konten dari Pengguna

Kelenteng Thien Ie Kong: Bangunan Bersejarah yang Masih Kokoh hingga Sekarang

Radiyah Mutmainnah

Radiyah Mutmainnah

Lulusan Hubungan Internasional, Universitas Mulawarman. Aktif menulis berbagai artikel, dengan fokus utama pada isu budaya dan diplomasi internasional.

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Radiyah Mutmainnah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Embrace China Culture (Sumber foto: Radiyah Mutmainnah)
zoom-in-whitePerbesar
Embrace China Culture (Sumber foto: Radiyah Mutmainnah)

Awal mula datangnya orang-orang Tionghoa di Samarinda melalui jalur perairan yaitu sungai Mahakam. Rombongan pedagang dari Tionghoa berlabuh di pelabuhan Kutai Lama yang dipimpin oleh keturunan raja di Tiongkok. Sejak saat itu, para pedagang dari Tiongkok sering menyusuri wilayah perairan Mahakam untuk melakukan aktivitas perdagangan.

Seiring berjalannya waktu, orang-orang Tionghoa kian bertambah dan berbaur dengan masyarakat pribumi di Samarinda, sehingga mereka membentuk pemukiman di sekitar pinggir sungai Mahakam atau yang pada saat ini berada di sekitar jalan Yos Sudarso hingga Citra Niaga.

Sebelum bermukim secara tetap, masyarakat Tionghoa meminta izin kepada Raja Kutai untuk mencari tempat tinggal di Samarinda. Setelah diizinkan dan cukup lama bermukim di Samarinda, masyarakat Tionghoa kemudian mulai membangun sekolah, rumah makan dan tempat-tempat yang memiliki unsur budaya Tiongkok salah satunya pembangunan tempat Ibadah Kelenteng “Thien Ie Kong”.

Wilayah Kelenteng ini sangat strategis karena berada di dekat pelabuhan Peti Kemas Samarinda dan berada tepat di pertigaan jalan Yos Sudarso sehingga sangat mudah bagi masyarakat untuk mengunjungi Kelenteng tersebut.

Pelabuhan Samarinda dekat Kelenteng Thien Ie Kong (Sumber foto: Radiyah Mutmainnah)

Kelenteng Thien Ie Kong pertama kali dibangun pada tahun 1903. Namun, pembangunan sempat terhenti karena orang yang membangun Kelenteng tersebut meninggal dunia.

Pada tahun 1905 barulah pembangunan Kelenteng Thien Ie Kong rampung dan resmi didirikan. Pelopor pendiri pembangunan Kelenteng ini bernama “Oey Khoey Gwan” atau “Oey Thjing Tjawan”. Kelenteng ini menjadi tempat persembahan bagi Dewi (Makco) Thian Siang Sing Bo, Dewa (Kongco) Hian Thian Siang Te dan Dewa Kwan Sing Tee Kun serta para suci lainnya.

Hingga saat ini, bangunan Kelenteng masih terjaga bentuk aslinya terkecuali perbaikan pada lantai dan juga bagian atapnya. Kelenteng ini memiliki 8 tiang penyangga yang salah satunya miring karena terkena dampak dari bom Jepang yang ingin menghancurkan pabrik minyak di belakang Kelenteng tersebut. Kelenteng ini dapat menampung sekitar 100 orang, namun jika ingin beribadah di dalam harus bergantian secara bertahap sehingga tidak bisa sekaligus.

Namun seiring dengan meningkatnya populasi umat Konghucu di Samarinda maka Kelenteng ini telah melakukan beberapa kali pemekaran ukuran ruangan pemujaan, dan pemindahan Altar Do'a atau yang disebut "Altar Tuhan Sang Pencipta".

Sebagai peninggalan budaya kuno satu-satunya umat Konghucu yang ada di Samarinda, keamanan di sekitar wilayah dan di dalam wilayah kelenteng sangat dijaga. Bahkan saat ini pemasangan lilin dan dupa hanya boleh dibakar di luar dan untuk pemasangan lilin di dalam bangunan dan altar doa menggunakan lilin digital. Hal ini dilakukan untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan seperti kebakaran dan polusi udara karena asap lilin atau dupa yang ada.

beberapa fakta mengenai kelenteng:

  • Tambur atau bedug dan lonceng: Akan dipukul setiap dilakukannya upacara besar atau peringatan ulang tahun Dewa, atau jika ada umat yang sedang melakukan upacara peringatan kelahiran dan lain-lain.

  • Di dalam Kelenteng tersebut juga terdapat prasasti yang berisikan nama-nama umat yang telah berkontribusi dalam pembangunan Kelenteng Thien Le Kong itu sejak awal, hal tersebut dibuat sebagai tanda penghargaan atas bantuan-bantuan yang telah diberikan.

  • Naga menjadi simbol dan hewan suci yang menjadi penjaga bagi kepercayaan orang Tionghoa.

  • 8 unsur tombak yang ada di dalam Kelenteng biasanya digunakan untuk upacara besar dan arak-arakan yang biasa dibawa jika akan melakukan upacara pembersihan kota Samarinda.

  • Keberadaan seni Barongsai yang sejak dahulu sangat eksis di Samarinda khususnya pada tiap hari besar perayaan orang Tionghoa, sempat dihentikan aktivitasnya karena adanya pandemi Covid-19

Di atas atap bangunan Kelenteng ini terdapat dua ekor naga yang menjaga bola api serta didominasi oleh warna merah dan kuning. Bangunan Kelenteng ini memiliki 8 tiang penyangga di bagian teras luar dan dua di antaranya memiliki ukiran naga dan awan. Selain tiang penyangga di teras, di dalam kelenteng juga terdapat tiang yang berwarna hitam dengan tulisan aksara Tionghoa berwarna emas. Di setiap dinding terdapat lukisan dan relief ukiran dan bumbungan Klenteng menggunakan kayu yang disambung melalui pasak.

Patung-Patung Tokoh "Perjalanan Ke Barat", Dua Naga dan Dewi Kwan Im (Sumber Foto: Radiyah Mutmainnah)

Di luar Kelenteng Thien Ie Kong terdapat taman yang berisi patung-patung yang berisi tokoh ‘Perjalanan ke Barat’ yaitu Sun Wokong (Sun Go Kong), Xuanzang (Pendeta Tong), Zhi Bajie (Tie Pat Kay) serta Sha Wujing (Sam Cheng).

Dalam kisahnya tokoh-tokoh ini pergi ke barat untuk melakukan perjalanan penebusan dosa dan membawa kembali kitab suci dengan melewati 14 musim panas, 14 musim dingin dan puluhan kali menghadapi gangguan dari makhluk-makhluk seperti siluman dan setan. Selain tokoh ‘Perjalanan ke Barat’ terdapat pula dua patung naga dan Dewi Kwan Im.

Jika kita melihat di sekeliling dinding Kelenteng bagian luar terdapat banyak sekali relief dan lukisan yang disumbangkan oleh keluarga-keluarga keturunan Tionghoa. Lukisan dan relief tersebut berisi kebudayaan-kebudayaan Tionghoa yang diabadikan di dinding-dinding bangunan Kelenteng Thien Ie Kong sehingga menambah keindahan bangunan tersebut.

Relief Sumbangan dari Bapak Welly Susanto dan Keluarga (Sumber foto: Radiyah Mutmainnah)

Selain menjadi tempat ibadah, Kelenteng Thien Ie Kong menjadi salah satu destinasi wisata religius di Samarinda. Sebelum adanya Covid-19, Kelenteng ini ramai dikunjungi oleh masyarakat tidak hanya dari wilayah sekitar tetapi juga turis dari luar negeri misalnya dari Korea, Turki dan lain-lain.

Kemudian Kelenteng juga menjadi tempat untuk melakukan perayaan satu bulan usia anak, pernikahan, festival mooncake dan lain-lainnya. Tidak hanya itu, Kelenteng Thien Ie Kong menjadi tempat bakti sosial misalnya pada saat adanya bencana salah satunya adalah ketika adanya Covid-19.

Pengurus Kelenteng membagikan sumbangan atau bingkisan berupa beras dan kebutuhan lainnya kepada masyarakat yang ingin divaksin terlepas apakah orang tersebut keturunan Tionghoa maupun yang bukan. Selain itu, Kelenteng Thien Ie Kong juga sering mengadakan kegiatan seni seperti kesenian barongsai, pawai perayaan imlek dan masih banyak kegiatan lainnya.

Referensi

Almerio, Y. (2020) Jalan-Jalan ke Kelenteng Thien Ie Kong, Nyaris Ambruk oleh Bom Jepang

Hasil wawancara kelompok Embrace China Culture - Hubungan Internasional Universitas Mulawarman (2022)