Label "Herbal" Tidak Selalu Aman, Ini Bahaya Tersembunyi di Baliknya

Pharmacy Major,State Islamic University Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Radja Setiawan Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jamu stamina pria, kapsul pelangsing alami, suplemen pegal linu herbal produk-produk ini dijual bebas di marketplace, warung, bahkan minimarket dengan kemasan yang meyakinkan dan klaim yang menggoda. Dan kata "herbal" atau "alami" yang terpampang besar di labelnya membuat banyak orang merasa aman untuk mengonsumsinya tanpa berpikir dua kali.
Inilah justru yang menjadi masalah. Karena di balik label "alami" itu, ada bahaya yang tidak terlihat dan BPOM terus menemukannya setiap tahun dalam jumlah yang mengkhawatirkan.
Modus yang Paling Berbahaya Ialah Herbal yang Diam-diam Mengandung Obat Keras
Pada November 2025, BPOM melakukan pengawasan intensif terhadap 1.639 sampel produk herbal, obat kuasi, dan suplemen kesehatan di seluruh Indonesia. Hasilnyasekitar 15 produk dinyatakan mengandung bahan kimia obat (BKO) yang dilarang ditambahkan ke dalam jamu atau suplemen dan seluruh produk tersebut tidak memiliki Nomor Izin Edar BPOM, bahkan sebagian mencantumkan nomor izin edar palsu.
Sebelumnya, pada Oktober 2024, BPOM bersama kepolisian menyita 10 produk obat bahan alam di Bandung dan Cimahi yang mengandung BKO berbahaya seperti sildenafil sitrat, fenilbutazon, metampiron, dan deksametason. Pada Februari 2026, temuan serupa kembali terjadi terdapat 32 produk obat herbal dan suplemen ilegal dinyatakan mengandung zat aktif obat yang penggunaannya seharusnya berada di bawah pengawasan medis ketat.
Mengapa "Alami" Tidak Otomatis Berarti "Aman"?
Ada kesalahpahaman yang sangat umum dan sangat berbahaya. bahwa sesuatu yang berasal dari alam tidak bisa menyakiti. Kenyataannya, banyak zat paling toksik yang dikenal manusia justru berasal dari alam arsenik, sianida, dan aflatoksin semuanya bersumber dari alam. Yang menentukan keamanan sebuah zat bukan asalnya, melainkan dosisnya, cara pengolahannya, dan siapa yang mengonsumsinya dalam kondisi apa.
Suplemen herbal yang sah pun bisa berbahaya jika dikonsumsi bersamaan dengan obat resep. Ini dikenal sebagai interaksi obat-herbal dan dampaknya bisa sangat serius. St. John's Wort, misalnya, adalah tanaman herbal yang populer untuk depresi ringan di luar negeri, tetapi terbukti secara klinis mengurangi efektivitas pil kontrasepsi oral, obat antiretroviral untuk HIV, dan warfarin (pengencer darah) secara signifikan. Bawang putih dosis tinggi bisa memperkuat efek antikoagulan. Ginkgo biloba dapat meningkatkan risiko perdarahan jika dikonsumsi bersama aspirin.
Risiko Kerusakan Hati yang Jarang Dibicarakan
Salah satu bahaya tersembunyi yang paling serius dari suplemen herbal bahkan yang legal sekalipun adalah hepatotoksisitas atau kerusakan hati yang diinduksi oleh bahan herbal. Kondisi ini dikenal dalam literatur medis sebagai herb-induced liver injury (HILI) dan merupakan salah satu penyebab gagal hati akut yang semakin sering dilaporkan secara global.
Beberapa tanaman yang selama ini dianggap aman ternyata memiliki potensi hepatotoksik pada dosis atau kondisi tertentu. Penelitian menunjukkan bahwa suplemen yang terkontaminasi logam berat yang sering ditemukan pada produk tanpa pengujian laboratorium yang ketat dapat menyebabkan cedera hati yang dalam kasus terparah berujung pada kebutuhan transplantasi hati.
Masalahnya, kerusakan hati akibat herbal sering kali tidak langsung terasa. Gejalanya kelelahan, mual ringan, kulit sedikit menguning mudah diabaikan atau disalahartikan sebagai kondisi lain. Pada saat gejala menjadi jelas dan serius, kerusakan yang sudah terjadi sering kali sudah cukup parah.
Cara Membedakan Suplemen yang Aman dari yang Berbahaya
Langkah paling mendasar adalah selalu memeriksa Nomor Izin Edar (NIE) BPOM pada kemasan sebelum membeli. NIE yang valid bisa diverifikasi secara langsung melalui aplikasi BPOM Mobile atau situs cekbpom.pom.go.id. Ini adalah pemeriksaan yang hanya membutuhkan waktu satu menit tetapi bisa mencegah risiko yang jauh lebih besar.
Waspadai klaim yang terlalu muluk "menyembuhkan diabetes dalam 7 hari," "menghancurkan lemak tanpa olahraga," atau "memulihkan stamina pria secara instan." Dalam regulasi BPOM, suplemen kesehatan tidak diizinkan untuk mengklaim menyembuhkan penyakit hanya boleh mengklaim mendukung atau memelihara fungsi tubuh. Klaim berlebihan adalah tanda merah yang paling mudah dikenali.
Label "herbal" adalah kata yang menjual kepercayaan dan itulah tepatnya yang dieksploitasi oleh produsen suplemen ilegal. Kepercayaan bahwa yang alami selalu lebih aman adalah kerentanan yang nyata, dan industri suplemen yang tidak bertanggung jawab tahu persis cara memanfaatkannya. Melindungi diri dimulai dari satu langkah sederhana jangan pernah menganggap sesuatu aman hanya karena labelnya bertuliskan "herbal." Verifikasi selalu. Konsultasikan selalu. Karena dalam urusan kesehatan, rasa aman yang palsu jauh lebih berbahaya dari tidak berobat sama sekali.
