Konten dari Pengguna

Filosofi Stoicism: Realita dan Ekspektasi Menapaki Kehidupan

RAFA NAFISAH

RAFA NAFISAH

Mahasiswa aktif jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Di Universitas Ahmad Dahlan

·waktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari RAFA NAFISAH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

picture from : https://www.istockphoto.com/id/foto/ibu-ayah-anak-putra-dan-putri-saat-matahari-terbenam-gm1159094800-316832689
zoom-in-whitePerbesar
picture from : https://www.istockphoto.com/id/foto/ibu-ayah-anak-putra-dan-putri-saat-matahari-terbenam-gm1159094800-316832689

Bukankah kita mengetahui bahwa realita dan ekspektasi adalah dua hal yang saling berkaitan?

Dua hal yang berkaitan tetapi makna di baliknya cukup dramatis bagi manusia. Seperti yang kita ketahui bahwa manusia selalu mendambakan kebahagiaan lebih banyak dibandingkan hal-hal menyedihkan atau buruk terjadi di dalam hidupnya. Dalam filosofi stoicism, disebutkan bahwa kita dapat menciptakan kebahagiaan yang nyata. Tetapi ada juga yang menyebutkan bahwa kebahagiaan itu tidak perlu dikejar. Yang dimaksud kebahagiaan tidak perlu dikejar sebenarnya adalah kunci kebahagiaan adalah memfokuskan sesuatu yang dapat kita kendalikan daripada fokus pada sesuatu yang berada diluar batas manusia. Tapi, sayangnya banyak sekali manusia yang mengalami stres berat karena memikirkan kebahagiaan apa yang akan terjadi di hidupnya dibandingkan menciptakan kebahagiaan nyata yang gampang diwujudkan.

Stoicism juga mengajarkan bahwa bahagia adalah menghindari pikiran-pikiran berlebihan terhadap kehidupan. Mengurangi reaksi berlebihan ketika sesuatu terjadi tidak sesuai dengan ekspektasi. Stoicism secara tidak langsung membangun energi positif bagi manusia untuk bertahan hidup di kala situasi mengharuskan untuk menghadapi berbagai keresahan, ketakutan bahkan kegagalan. Setelah mandiri dalam berpikir, interpretasi orang tersebut lamban laun akan menjadi lebih santai dan berkepala dingin dalam menghadapi permasalahan. Bahagia yang dimaksud adalah mengontrol pikiran dalam bertindak. Di mana yang harus kita lakukan adalah mengontrol segala respons yang kita keluarkan dalam menghadapi suatu hal adalah kunci dari kebahagiaan. Seperti ketika kamu gagal dalam ujian masuk universitas, di situ lah filosofi stoicism dapat diandalkan. Gagal hari ini belum tentu gagal esok hari atau hari-hari selanjutnya, memilih untuk konsisten melakukan berbagai upaya tetapi tetap mengontrol pikiran untuk tidak berharap apa pun.

Sebenarnya secara tidak langsung filosofi stoicism mengajarkan bahwa kita harus bijak dalam menyikapi berbagai hal dalam kehidupan. Ketika kamu sudah cukup bijak dan mampu menghadapinya maka kamu telah menemukan kebahagiaan yang nyata. Akhirnya juga, kamu akan terhindar dari keresahan, sedih, galau bahkan putus asa.

Nah, bagaimana cara membentuk atau menanamkan filosofi stoicism dalam diri ? inilah beberapa cara yang dapat penulis sarankan untuk mengubah pola pikir lama menjadi pola pikir menurut filosofi stoicism.

  1. Kontrol ekspektasi. Cara pertama ini lebih kepada cara seseorang untuk tetap logis dalam berpikir. Seperti, suatu hal yang tidak dapat kamu kontrol adalah persepsi orang atau penilaian orang terhadap dirimu. Hindari pikiran untuk memenuhi kebutuhan pada pemikiran orang lain terhadap dirimu.

  2. Mensyukuri hal-hal kecil yang terjadi. Cara ini adalah hal termudah yang dapat kamu lakukan. Bersyukur adalah cara yang paling tepat untuk melindungi diri dari ketamakan pikiran atau overthinking.

  3. Menerapkan pola pikir bahwasanya apa pun yang terjadi pasti ada pelajaran baru. Cara satu ini adalah bagaimana seseorang merefleksikan kembali apa yang terjadi di hidupnya kemudian memetik hal-hal positif dibalik kejadian tersebut. Kebahagiaan menurut stoicism adalah cara berpikirmu lah yang mengendalikan kebahagiaanmu. Ketika kamu berpikir segala hal akan buruk maka hal tersebutlah yang akan terjadi. Tetapi, jika sebaliknya kamu berpikir bahwasanya segala sesuatu adalah pelajaran maka kamu akan lebih legowo dalam menghadapinya. Bahagia, bukan?

Nah, setelah menerapkan beberapa hal di atas penulis berharap kebahagiaan akan mengitari kamu yang diluar sana. Stoicism mengajarkan bahwa tidak segala sesuatu yang terjadi di hidup kita di dalam kontrol diri kita sendiri. Kejadian buruk atau baik bukan kuasa kita. Tapi, bahagia adalah pilihan, dapat diciptakan. Semakin bijak kamu menyikapi apa yang terjadi maka semakin dekat letak kebahagiaanmu.