Konten dari Pengguna

Kampus Mengajar Sebagai Wujud Optimis Mahasiswa di Era Pandemi COVID-19

RAFA NAFISAH

RAFA NAFISAH

Mahasiswa aktif jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Di Universitas Ahmad Dahlan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari RAFA NAFISAH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seperti yang kita ketahui pandemi Covid-19 telah melanda sejak awal 2020 sampai sekarang di seluruh dunia termasuk Indonesia dan berdampak pada seluruh sektor. Pemerintah Indonesia telah mengambil berbagai keputusan dan cara untuk menekan penularan Covid-19. UNESCO menyebutkan bahwa pandemi Covid-19 mengancam 577.305.660 pelajar dari pendidikan pra-sekolah dasar hingga menengah atas dan 86.034.287 pelajar dari pendidikan tinggi di seluruh dunia. Pada sektor pendidikan, Indonesia mengambil kebijakan untuk membatasi mobilisasi seluruh dari penularan Covid-19. Salah satu kebijakan adalah penyelenggaraan pembelajaran dilakukan secara daring atau pembelajaran jarak jauh.

Pemberlakuan pembelajaran jarak jauh yang masih terkendala dengan permasalahan keterbatasan jangkauan internet, teknologi yang tidak memadai, serta SDM yang kurang cakap terhadap penggunaan gawai atau komputer untuk mengakses informasi serta media pembelajaran saat daring sehingga sangat memengaruhi efektivitas proses pembelajaran. Fakta di lapangan banyak ditemukan terlihat dari kurangnya siswa dalam mendapatkan kesempatan mengasah kemampuan interpersonal dan kepemimpinan akibat dampak bersekolah jarak jauh atau daring.

Melalui Program besutan Kemdikbud (Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan) yaitu Kampus Mengajar, mahasiswa di beri kesempatan mengabdi di ranah Pendidikan tingkat Sekolah Dasar (sd). Melalui program pemerintah ini sendiri ditujukan kepada sekolah yang berada di wilayah 3T (Tertinggal, Terluar, Terdepan). Program yang di fokuskan pada pengajaran materi literasi dan numerasi di sekolah. Pandemi covid-19 telah membuat berbagai sektor kehidupan harus beradaptasi tak terkecuali sektor Pendidikan di Indonesia.

Pemerintah melalui kementerian Pendidikan dan kebudayaan menggagas program ini salah satu alasannya adalah mengingat banyak tenaga yang lanjut usia kurang mengerti atau cakap dalam mengoperasikan teknologi. Hal tersebut faktanya banyak terjadi di lapangan. Program Kampus Mengajar ini dilaksanakan selama 3 bulan yang mulai pada tanggal 22 Maret - 26 Juni 2021 diikuti oleh 15.000 lebih mahasiswa/i dari berbagai Universitas yang ada di Indonesia. Terlihat dari antusias tercipta sangat jelas ketika diumumkan lebih dari 50 ribu mahasiswa/i yang mendaftar pada program ini. Secara tidak langsung sudah dapat disimpulkan bahwa Indonesia sebenarnya telah memiliki generasi yang luar biasa kedepannya hanya saja bagaimana mahasiswa sebagai SDM unggul dapat memanfaatkan, meningkatkan, dan berkontribusi pada pendidikan di Indonesia.

SDIT Sahabat Quran terletak di Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung adalah salah satu sekolah yang menjadi sasaran Program Kampus Mengajar. Saya sebagai salah satu mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) turut serta dalam mewujudkan tujuan kampus mengajar. Sebelum mengajar saya melakukan observasi keadaan di lapangan, seperti keadaan sekolah, serta capaian Siswa, permasalahan adaptasi teknologi yang mungkin dibutuhkan oleh sekolah untuk menunjang pembelajaran daring maupun tatap muka. Observasi tersebut bertujuan agar mendapatkan gambaran seperti apa kegiatan yang dapat dilakukan setelahnya.

Kenyataan di lapangan siswa yang baru saja melakukan tatap muka pada bulan Maret 2021 membuat tantangan tersendiri bagi guru-guru yang di mana Siswa dibatasi untuk datang ke sekolah. Sehingga sekolah membuat kebijakan seperti membuat pembagian kelas menjadi 2 bagian. Hal ini bertujuan untuk menekan perlambatan penularan Covid-19. Kondisi ini tidak menyurutkan semangat Siswa untuk belajar.

Saya sebagai mahasiswa yang bekecimpung di ranah keguruan berkontribusi banyak dalam hal proses belajar dan mengajar di SD IT Sahabat Quran. Selain itu, Membantu guru menyediakan materi pembelajaran berbasis teknologi, misalnya penayangan media pembelajaran berbasis video menggunakan laptop. Selain itu, mengenalkan kepada guru penggunaan google classroom serta penggunaan google meet atau zoom sebagai simulasi ketika memang dibutuhkan untuk melaksanakan pembelajaran daring. Selain itu, saya juga menyediakan perangkat pembelajaran sebagai kelengkapan administrasi dalam pembelajaran yakni RPP, bahan ajar, media pembelajaran, Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), serta bahan evaluasi setiap tema pembelajaran. Terakhir, ikut serta dalam mengawasi kegiatan ujian akhir sekolah pada akhir semester Juni lalu.

Dengan Program ini, diharapkan guru di sekolah merasa terbantu dengan adanya program ini dan mahasiwa mendapatkan pengalaman mengajar langsung dengan turun ke lapangan serta diharapkan melalui program ini proses pembelajaran di sekolah menjadi lebih efektif. Harapan terbesar saya semoga pandemi segera berakhir dan pendidikan di Indonesia makin maju.

mengajar literasi dan numerasi di kelas (SDIT Sahabat Quran) (sumber : penulis )
literasi materi pramuka kelas 3 di SD IT Sahabat Quran (sumber : penulis)