Kenapa Kita Sering Menunda Pekerjaan, Padahal Tahu Itu Merugikan
Tulisan dari rafaafifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Daftar tugas menumpuk, tenggat makin dekat, tetapi tangan malah membuka media sosial. Hampir semua orang pernah begini. Anehnya, kita tahu betul bahwa menunda akan membuat hidup lebih sulit, namun tetap melakukannya. Mengapa?

Bukan Soal Malas
Prokrastinasi sering disangka masalah kemalasan atau manajemen waktu. Penelitian psikologi menunjukkan hal yang berbeda: menunda adalah masalah mengelola emosi. Tugas yang terasa membosankan, membingungkan, atau menakutkan memicu rasa tidak nyaman. Otak ingin segera lepas dari perasaan itu, dan cara tercepatnya adalah mengalihkan diri ke hal yang lebih menyenangkan. Kita sebenarnya tidak menghindari tugasnya, melainkan menghindari perasaan yang menyertainya.
Otak yang Lebih Suka Hadiah Instan
Ada pula tarik-menarik antara dua bagian otak. Bagian yang berpikir jangka panjang tahu bahwa laporan harus selesai minggu depan. Bagian yang berorientasi emosi dan kesenangan sesaat lebih tertarik pada hiburan sekarang juga. Karena manfaat menyelesaikan tugas baru terasa nanti, sedangkan kesenangan menonton video terasa saat ini, bagian kedua sering menang. Para ahli menyebut ini bias terhadap masa kini.
Perfeksionisme dan Rasa Takut Gagal
Sebagian orang menunda justru karena peduli terlalu besar. Jika tugas belum dimulai, hasilnya belum bisa dinilai buruk. Menunda menjadi semacam perlindungan bagi harga diri: "Kalau nilainya jelek, itu karena aku mengerjakannya mepet, bukan karena aku tidak mampu." Pola ini terasa aman sesaat, tetapi memperkuat rasa cemas pada tugas berikutnya.
Siklus yang Memperburuk Diri Sendiri
Setelah menunda, muncul rasa bersalah dan stres. Rasa tidak nyaman ini membuat kita makin ingin kabur, sehingga menunda lagi. Tanpa disadari, kita terjebak dalam lingkaran: tugas terasa tidak enak, kita menunda, merasa bersalah, lalu tugas terasa makin berat.
Cara Keluar dari Lingkaran Itu
Mulai dari langkah terkecil. Cukup buka dokumen dan tulis satu kalimat. Memulai biasanya jauh lebih sulit daripada melanjutkan.
Pecah tugas besar. "Menyusun laporan" terasa berat, tetapi "mengumpulkan data penjualan" terasa bisa dikerjakan.
Gunakan aturan lima menit. Berjanjilah bekerja hanya lima menit. Sering kali kita lanjut setelahnya.
Perlakukan diri dengan lebih baik. Penelitian menunjukkan orang yang memaafkan dirinya setelah menunda cenderung lebih cepat bangkit dibanding yang menyalahkan diri.
Kurangi gangguan. Jauhkan ponsel atau matikan notifikasi saat bekerja.
Penutup
Menunda bukan tanda karakter yang buruk, melainkan respons manusiawi terhadap rasa tidak nyaman. Dengan memahami penyebab emosional di baliknya, kita bisa berhenti memarahi diri sendiri dan mulai mencari cara yang lebih efektif untuk memulai. Ingat, langkah pertama tidak perlu sempurna, yang penting dilakukan.

