Mengapa Waktu Terasa Berjalan Makin Cepat Seiring Bertambahnya Usia
Tulisan dari rafaafifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Masih ingat betapa panjangnya liburan sekolah waktu kecil? Satu musim panas terasa seperti satu era. Sekarang, tiba-tiba sudah Oktober, dan rasanya baru kemarin Tahun Baru. Hampir semua orang dewasa mengalami hal ini, dan para peneliti punya beberapa penjelasan yang menarik.

Teori Proporsi
Penjelasan paling sederhana bersifat matematis. Bagi anak berusia 10 tahun, satu tahun adalah 10% dari seluruh hidupnya. Bagi orang berusia 50 tahun, satu tahun hanya 2%. Otak kita seolah menilai durasi secara relatif terhadap pengalaman hidup yang sudah dijalani, sehingga satu tahun terasa makin "kecil" seiring bertambahnya usia.
Teori ini masuk akal, tetapi tidak cukup menjelaskan semuanya. Ia tidak menerangkan mengapa satu minggu liburan di tempat baru bisa terasa begitu panjang, padahal usia kita tidak berubah.
Peran Hal-Hal Baru
Penjelasan yang lebih kuat berkaitan dengan cara otak merekam ingatan. Ketika kita mengalami sesuatu yang baru, otak bekerja lebih keras memprosesnya dan menyimpan lebih banyak detail. Saat mengingat kembali, periode yang penuh pengalaman baru terasa lebih panjang karena "isinya" lebih banyak.
Masa kecil dan remaja penuh hal pertama: pertama masuk sekolah, pertama naik sepeda, pertama jatuh cinta, pertama merantau. Memasuki usia dewasa, hidup cenderung jatuh ke dalam rutinitas. Berangkat kerja lewat jalan yang sama, mengerjakan tugas serupa, pulang, tidur. Karena hari-hari itu mirip satu sama lain, otak memadatkannya menjadi satu ingatan besar. Hasilnya, setahun yang berisi 365 hari serupa terasa seperti baru berlalu sekejap.
Perhatian dan Persepsi Waktu
Faktor lain adalah seberapa sering kita memperhatikan waktu. Anak-anak hidup di masa kini dan jarang mengecek jam. Orang dewasa sering terjebak dalam tenggat, jadwal, dan notifikasi, sehingga waktu terasa seperti sumber daya yang terus menipis. Ironisnya, makin kita sibuk dan terdistraksi, makin sedikit momen yang benar-benar kita hayati, dan makin cepat pula waktu terasa lewat.
Bisakah Kita "Memperlambat" Waktu?
Kita tidak bisa mengubah kecepatan jam, tetapi kita bisa mengubah cara mengalaminya. Beberapa hal yang dianjurkan para ahli:
Cari pengalaman baru. Kunjungi tempat yang belum pernah didatangi, pelajari keterampilan baru, atau coba makanan yang asing. Hal-hal baru menciptakan ingatan yang lebih kaya.
Ubah rutinitas kecil. Ambil rute berbeda ke kantor atau tukar urutan kegiatan pagi.
Hadir sepenuhnya. Letakkan ponsel saat makan bersama atau berjalan-jalan. Perhatian penuh membuat satu momen terasa lebih panjang.
Dokumentasikan. Menulis jurnal singkat setiap hari membantu otak menandai hari-hari yang mungkin akan menyatu dalam ingatan.
Penutup
Waktu terasa makin cepat bukan karena dunia berputar lebih kencang, melainkan karena cara otak kita mencatat pengalaman berubah seiring usia dan kebiasaan. Kabar baiknya, kita punya andil di dalamnya. Hidup yang diisi dengan rasa ingin tahu dan perhatian akan terasa lebih panjang, lebih padat, dan lebih berkesan.

