Konten dari Pengguna

Semikonduktor Taiwan dan Dilema Ketergantungan Apple dalam Persaingan As-China

Rafa Ainun Fathunisa

Rafa Ainun Fathunisa

Mahasiswa jurusan Hubungan Internasional di Universitas Amikom Yogyakarta

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rafa Ainun Fathunisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Sebagai perusahaan teknologi terbesar di dunia, Apple tetap menghadapi tantangan besar. Keberlangsungan produknya bergantung pada sebuah pabrik chip yang berada di sebuah pulau di tengah sengketa dua negara adidaya."

Oleh: Rafa Ainun Fathunisa

Rabu, 6 Mei 2026 22:59 WIB

Ilustrasi Industri Semikonduktor. (Sumber: https://pixabay.com/id/images/tylijura)

Pada kuartal pertama 2024, tercatat pendapatan Apple mencapai 119,6 miliar dolar AS. Angka yang hampir seluruhnya bergantung pada satu jaringan produksi yang berakhir di Taiwan. Lebih dari 90% chip yang menjadi penggerak iPhone, MacBook, dan iPad diproduksi oleh satu perusahaan TSMC, sebuah perusahaan yang pabrik utamanya berdiri di pulau yang kini diperebutkan oleh dua negara adidaya: Amerika Serikat & China.

Masalah ini bukan sekadar isu dalam ranah bisnis. Selama dua puluh tahun, keputusan ekonomi yang berfokus pada efisiensi telah menciptakan sebuah perangkap geopolitik yang menjebak dan sulit dilepaskan, bahkan oleh perusahaan dengan kekayaan terbesar sekalipun.

KENAPA APPLE TIDAK BISA PINDAH BEGITU SAJA?

TSMC bukanlah sekedar produsen chip biasa. Perusahaan ini merupakan satu-satunya pabrik di dunia yang mampu memproduksi chip berteknologi 3 nanometer dalam skala besar. Teknologi inilah yang menjadi inti dari seluruh produk terbaru Apple. Hingga saat ini, belum ada pihak yang dapat menggantikan peran TSMC.

Dalam kajian ilmu Hubungan Internasional, keadaan seperti ini disebut sebagai strategic dependence, yakni ketika satu pihak menjadi sangat bergantung pada pihak lain, sehingga fungsi normal tidak dapat berjalan tanpa dukungan dari pihak tersebut. Apple tidak berada dalam situasi ini karena enggan mencari alternatif, tetapi karena terjebak karena ketiadaan alternatif lain yang layak di pasar global saat ini.

"Ketika sebuah perusahaan bergantung hanya pada satu pemasok, ia tidak lagi menjadi aktor utama yang bebas. Arah dan keberlangsungan perusahaannya turut dipengaruhi oleh pihak yang mengendalikan pemasok tersebut."

TAIWAN TIDAK HANYA SEKADAR LOKASI PABRIK

Masalahnya terletak pada kondisi politik Taiwan yang belum stabil. Sampai saat ini, China masih menganggap Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya yang pada akhirnya akan dipersatukan kembali, baik secara damai maupun melalui kekuatan militer. Sebaliknya, Amerika Serikat tetap mendukung Taiwan melalui penjualan senjata dan berkomitmen dalam menjaga stabilitas di kawasan tersebut, meskipun tidak secara resmi mengakui Taiwan sebagai negara berdaulat.

Ketegangan ini bukan sekadar retorika, tetapi tercermin dalam tindakan nyata. Pada Agustus, 2022, ketika ketua DPR AS Nancy Pelosi mengunjungi Taipei, China merespons dengan mengadakan latihan militer berskala besar yang mengitari Taiwan. Rudal diluncurkan, kapal perang dikerahkan, dan pasar saham global, termasuk saham Apple, langsung berfluktuasi tajam.

Inilah permasalahan utama yang dihadapi Apple. Setiap chip A18 yang tertanam pada iPhone 16 menunjukkan bahwa sebagai perusahaan swasta, nasib Apple kini bergantung pada stabilitas politik sebuah pulau yang menjadi titik ketegangan antara dua kekuatan nuklir terbesar di dunia. Apple tidak memiliki suara dalam dinamika perundingan diplomatik tersebut. Yang dapat dilakukan hanyalah menunggu dengan harapan konflik bersenjata tidak benar-benar terjadi.

APPLE TELAH MENGAMBIL LANGKAH, NAMUN BELUM CUKUP

Apple telah mengambil langkah sebagai respons dari adanya risiko tersebut. Perusahaan ini telah melakukan penanaman modal 1,5 miliar dolar AS di India dan mendorong Foxconn sebagai mitra manufakturnya, untuk membangun pabrik besar di Chennai dan Pune. Akibatnya, sekitar 14% produksi iPhone, kini beralih ke India, meningkat dari hampir tidak ada pada 2020. Selain itu, Apple juga berupaya mendorong TSMC mendirikan pabrik chip di Phoenix, Arizona, sebagai strategi dalam mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap Taiwan.

Meski demikian, data yang ada justru menunjukkan gambaran yang berbeda. Menurut proyeksi Bloomberg Intelligence dan TrendForce memperkirakan bahwa pada 2027, lebih dari 70% chip canggih Apple tetap diproduksi di Taiwan. Pabrik di Arizona baru akan beroperasi secara penuh pada 2028, dengan biaya produksi sekitar 30 hingga 40% lebih mahal dibandingkan pabrik di Taiwan.

Dalam ilmu Hubungan Internasional, kondisi ini disebut sebagai path dependency, yakni keadaan ketika keputusan masa lalu membentuk jurang ketergantungan yang sulit diubah dengan cepat. Selama sekitar dua puluh tahun, Apple telah membangun ekosistemnya di atas basis Taiwan. Proses untuk mengurainya membutuhkan waktu bertahun-tahun, dan selama proses itu pula risiko geopolitik tetap ada, tidak hilang begitu saja.

KESIMPULAN

Kasus Apple dan Taiwan pada dasarnya merupakan cerminan dari persoalan yang lebih luas. Dunia telah membangun rantai pasok global dengan keyakinan bahwa perdagangan global dan saling ketergantungan ekonomi dapat mengurangi kemungkinan konflik antarnegara. Keyakinan yang selama puluhan tahun menjadi dasar tatanan ekonomi internasional tersebut kini tengah menghadapi tantangan yang secara serius diuji oleh persaingan antara Amerika Serikat dan China.

Hingga kini, situasi di Selat Taiwan masih belum berkembang menjadi perang yang terbuka. Namun, setiap latihan militer China yang mengepung wilayah Taiwan tersebut menjadi pengingat bahwa ketergantungan Apple bukan sekadar risiko bisnis yang dapat diasuransikan. Ini adalah bentuk paparan geopolitik yang belum pernah dialami perusahaan lain dalam skala sebesar ini, dan hingga kini dunia belum memiliki jawaban yang benar-benar memadai.

Referensi

DetikInet. (2018). Kelemahan besar Apple: Ketergantungan pada China. https://inet.detik.com/consumer/d-4382667/kelemahan-besar-apple-ketergantungan-pada-china

Hitekno. (2022). Apple ingin tak terlalu ketergantungan dengan chip buatan Taiwan, ini sebabnya. https://www.hitekno.com/gadget/2022/11/17/192839/apple-ingin-tak-terlalu-ketergantungan-dengan-chip-buatan-taiwan-ini-sebabnya

Investing.com. (2026). Apple explores Intel, Samsung to make chips for its devices — Bloomberg. https://www.investing.com/news/stock-market-news/apple-explores-intel-samsung-to-make-chips-for-its-devices--bloomberg-4657768

Reuters. (2026). Taiwan contract chipmaker TSMC’s US investments. https://www.reuters.com/world/asia-pacific/taiwan-contract-chipmaker-tsmcs-us-investments-2026-01-16/

The Conversation. (2026). How Taiwan came to dominate the global chip industry. https://theconversation.com/how-taiwan-came-to-dominate-the-global-chip-industry-276939